Ahmad Sahide

Menugaskan (Mengajar) Menulis

Oleh: Dr. Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID – Menulis adalah pekerjaan yang sangat penting karena ia menjadi bagian tidak terpisahkan dari sebuah peradaban. Akan selalu saya ingat yang disampaikan oleh Prof. Dr. Heddy Sri Ahimsa-Putra sewaktu masih kuliah di Sekolah Pascasarjana, Kajian Timur Tengah, Universitas Gadjah Mada (UGM). Katanya, suatu peradaban akan selalu dilihat dari dua hal, yaitu dari gedung-gedung yang berdiri dengan megah dan tulisan (buku dan perpustakaan). Peradaban yang maju, katanya, akan punya itu. Tanpa memiliki kedua hal tersebut, suatu bangsa dan negara belum dapat dikatakan sebagai bangsa dan negara yang berperadaban maju.

Apa yang dikatakan oleh Prof. Dr. Heddy Sri Ahimsa-Putra ini senada (diperkuat) oleh yang pernah diutarakan oleh Milan Kundera, seorang pemikir dari Republik Ceko, bahwa bila ingin menghancurkan suatu bangsa, mudah saja. Hancurkan perpustakaannya. Sejarah juga mengatakan demikian. Baghdad (Irak) pernah menjadi pusat peradaban di dunia dan simbol dari kemajuan Islam. Kemajuan peradaban itu berakhir ketika Bangsa Mongol datang menyerang Baghdad pada tahun 1258. Sejarah mencatat bahwa banyak buku-buku di perpustakaan itu dihancurkan dan dibawa ke Eropa.

Itulah pentingnya tulisan dan seorang penulis setidaknya mengambil peran atau bagian dalam menciptakan peradaban tersebut. Namun demikian, menjadi seorang penulis (kegemaran) bukanlah pekerjaan yang dilakukan oleh banyak orang. Saya sering kali mengatakan bahwa banyak orang yang bermimpi atau punya keinginan menjadi penulis, tetapi tidak banyak yang mampu bertahan sebagai penulis yang tekun, konsisten, dan punya komitmen. Mungkin muncul pertanyaan, bagaimana cara menumbuhkan konsistensi, ketekunan, dan komitmen dalam menulis?

Baca juga :  Islam dan Teologi Moral

Menugaskan
Tentu banyak cara yang bisa dilakukan oleh anak-anak bangsa dalam membangun kultur tersebut, atau yang saat ini populer dengan istilah ‘gerakan literasi’. Sebuah gerakan yang dilakukan untuk menumbuhkan semangat dan kultur membaca serta menulis yang tinggi. Bisa dengen membentuk komunitas-komunitas untuk mendorong hal tersebut dan saya kira di Indonesis sudah banyak gerakan-gerakan semacam ini (data-datanya bisa dibaca dari esai-esai saya sebelumnya).

Kebetulan profesi saya adalah sebagai dosen. Jadi bisa juga dikatakan dosen yang hobi menulis atau penulis yang juga adalah dosen. Atau mungkin bisa sebagai dosen penulis. Karena saya adalah dosen yang punya kegemaran menulis, maka tentu selain menyampaikan materi kuliah kepada mahasiswa saya juga punya ‘misi lain’, yaitu membangun kultur literasi (menulis) kepada para mahasiswa.

Status sebagai dosen tentu punya otoritas dan kekuatan ‘memaksa’ kepada para mahasiswa menulis. Di setiap kelas yang saya ampu, selalu saja ada tugas bagi mahasiswa untuk menulis. Apakah itu tugas mingguan (misalnya sekali dalam dua minggu) atau tugas-tugas yang lainnya; tugas tambahan, membuat bulletin atau buku. Bisa dengan meminta mahasiswa menuliskan perjalanannya untuk sampai ke Yogyakarta dan masuk ke kampus tempatnya kuliah (kebetulan saya mengajar di Yogyakarta), meminta menuliskan catatan kuliah, meresensi buku, dan lain sebagainya.

Baca juga :  Perang Salib Dan Pengaruhnya Terhadap Kemajuan Ekonomi Eropa

Itulah yang selama ini saya lakukan, sebagai dosen, dalam mencoba membangun kultur literasi yang kuat kepada mahasiswa. Bagaimana membangun (walaupun sedikit memaksa) kebiasaan kepada mahasiswa untuk mencintai membaca dan menulis sehingga sekalipun perkuliahan selesai mereka dapat terus mengembangkan keilmuan dan memerluas wawasannya.

Apakah itu efektif?
Jika saya ceritakan atau memerlihatkan karya-karya mahasiswa yang pernah mengikuti kelas saya, mungkin banyak yang mengatakan bahwa itu tidak efektif karena untuk menjadi seorang penulis itu adalah pilihan, bukan paksaan. Itu benar adanya. Juga banyak karya mahasiswa yang dikumpulkan itu adalah hasil curian di dunia maya. Bahkan beberapa kali saya menemukan mahasiswa mengambil karya orang lain di internet dan lupa menghilangkan nama penulis dari karya yang ‘dicuri’ itu. Mereka mungkin bukan pencuri yang cerdas. Jadi ada dua nama tercantum di situ, pada bagian awal nama dari mahasiswa yang mengumpulkan tugas, beserta nomor induknya, dan pada bagian akhir adalah nama dari penulis asli tersebut. Mungkin mereka sedang lelah atau sedang mengantuk ketika ‘sedang mencuri’. Hahahahaha….

Baca juga :  Kedepan, Profesi Dosen Dinilai Semakin Langka dan Mahal

Terlepas itu efektif atau tidak, hal ini terus saya lakukan sampai saat ini. Semua itu karena saya juga banyak menemukan bahwa banyak dari mereka yang sebenarnya mempunyai bakat dalam menulis, apakah itu esai, cerpen, atau puisi. Hanya saja bakat itu tidak diasah dengan baik. Bakat-bakat itu saya temukan dari mereka-mereka yang serius dalam mengerjakan tugas-tugas yang saya minta. Bahkan beberapa kelas yang pernah saya ajar telah berhasil membuat buku dari karya mereka yang bercerita tentang banyak hal, pengalaman, impian masa depan, cerita-cerita pendek, dan lain sebagainya.

Setidaknya, dari sekian banyak yang pernah saya ajar di kelas dan paksakan menulis, akan lahir dari mereka penulis-penulis berbakat dan hebat dan mencintai ilmu (senang membaca). Jika saya tidak berhasil melahirkan mereka sebagai penulis, setidaknya saya bisa menanamkan kepada mereka rasa cinta terhadap ilmu. Bagi saya itulah tugas utama sebagai seorang pendidik (dosen). Nilainya terletak di situ, bukan sekadar nilai A, B, C, atau D. semoga bermanfaat membaca tulisan ini. Salam!

Dr. Ahmad Sahide. Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!