Ahmad Sahide

Optimisme Demokrasi Tunisia

Oleh : Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID-Sembilan tahun silam, Desember 2010, Tunisia menjadi sorotan dunia internasional karena dari negara inilah Musim Semi Arab (The Arab Spring) bermula. Pemicunya adalah anak muda bernama Mohammed Bouazizi yang nekat membakar dirinya sebagai bentuk protes atas kekejaman aparat terhadap rakyat sipil, terutama kepada drinya.

Tindakan nekat dari pemuda dua puluh enam tahun itu membuat nyawanya tidak tertolong. Bouazizi menghembuskan nafas terakhirnya pada 4 Januari 2011. Di luar dugaan rezim dan aparat yang menganiaya Bouazizi, ternyata pengorbanan anak muda pedagang kaki lima ini menjadi awal dari keruntuhan rezim otoriter Zine el Abidine Ben Ali, atau dikenal luas dengan Ben Ali, dan beberapa rezim otoriter di negara Arab lainnya, seperti halnya Moammar Qadafi di Libya, Husni Mubarak di Mesir.

Bouazizilah yang merangsang masyarakat Arab untuk bangun melawan rezim yang diktator dan lalim dengan demonstrasi besar-besaran sehingga Ben Ali harus melarikan diri ke Arab Saudi karena ketidakmampuan menghadapi bangkitnya people power. Dari sinilah kisah dan sejarah The Arab Spring bermula di negara Arab. Momentum ini jugalah yang menjadi awal bangkitnya harapan masyarakat untuk hidup lebih baik dengan demokrasi. Pada saat itu, The Arap Spring dipandang sebagai pembuka pintu demokratisasi di negara-negara Arab.

Baca juga :  Islam Indonesia di Mata Kevin Fogg

Namun demikian, demokratisasi yang sudah lama diimpikan oleh masyarakat Arab secara luas tidak berjalan sebagaimana keindahan impian itu. Musim Semi Arab bukannya mengantarkan pada demokratisasi, melainkan membawa pada huru-hara politik yang tak berkesudahan. Suriah hari ini masih terus bergejolak dan baru saja sebagian wilayahnya diserang serta dikuasai oleh Turki. Mesir yang sempat membuat harapan itu melambung tinggi, gagal di tengah jalan ketika presiden terpilih, Muhammad Mursi, dikudeta oleh militer pada Juli 2013. Sampai saat ini, Mesir masih tetap dalam genggaman militer dengan presidennya adalah Abdel Fattah el-Sisi. Rakyat Mesir harus mengubur dalam-dalam impiannya akan demokrasi.

Gejolak politik di negara-negara Arab pasca-Musim Semi tersebut pun menjadi data pembenar akan teori dari beberapa pemikir ilmuwan politik internasional yang pesimis akan kesesuaian demokrasi dengan Islam. Pandangan pesimis tersebut datang dari ilmuwan seperti Samuel P. Huntington, Eric Chaney, dan Alfred Stepan. Mereka melihat bahwa demokrasi di dunia Islam itu suram. Namun demikian, bukan berarti tidak ada ilmuwan yang optimis melihat masa depan demokrasi di dunia Islam. Ilmuwan seperti John L. Esposito, Julie C. Hwang, Tariq Ramadan, Hussein A. Hassouna mempunyai pandangan yang menjaga optimisme akan demokrasi di dunia Islam (Sahide, 2019. The Arab Spring; Tantangan dan Harapan Demokratisasi).

Baca juga :  BPS : Indeks Demokrasi Naik Tapi Kebebasan Berpendapat Turun

Tunisia dan Optimisme Demokrasi

Dari sekian banyak negara yang terkena dampak dari The Arab Spring yang membawa angin segar akan demokrasi, Tunisia adalah satu-satunya negara yang menjadi palang pintu terakhir penjaga optimisme itu. Pada 13 Oktober ini, Rakyat Tunisia sudah mengikuti pesta demokrasi sebanyak tiga kali dengan pemimpin terpilihnya adalah Kais Saied, berusia 61 tahun (Kompas, 15/10/2019). Pada 2011, tidak lama setelah gejolak politik itu, Tunisia menyelenggarakan pemilihan presiden dan yang terpilih adalah Moncef Marzouki. Di tahun 2014, Tunisia menyelenggarakan pemilihan presiden yang kedua pasca-Musim Semi dan yang terpilih adalah Caid Beji Essebsi.

Jika kita membaca demokratisasi di Tunisia dengan teori dari Jack Snyder yang membagi tahap demokrasi di suatu negara dalam dua tahap, yaitu negara dengan demokrasinya sudah matang (mature democracy) dan negara yang sedang berjalan menuju demokrasi (democratizing state). Negara yang demokrasinya sudah matang menurut Snyder adalah negara yang menjadikan pemilihan sebagai satu-satunya cara dalam proses pergantian pemimpin. Syarat lainnya adalah setidaknya negara tersebut sudah dua kali menyelenggarakan pemilihan umum. Terpilihnya Kais Saied pada 13 Oktober lalu merupakan pemimpin Tunisia yang ketiga yang dipilih secara demokratis. Maka Tunisia sudah memenuhi syarat sebagai negara yang demokrasinya matang menurut teori Snyder yang tidak terbantahkan.

Baca juga :  Vladimir Putin

Oleh karena itu, Tunisia adalah satu-satunya negara yang terkena dampak dari Arab Spring yang menyelamatkan muka dunia Islam bahwa Islam dan demokrasi bisa berjalan beriringan. Tunisia menjaga optimisme itu terlepas dengan masih adanya gejolak dan dinamika internal yang masih menjadi pekerjaan rumah pemimpin terpilih untuk membuat demokrasi bekerja dan berjalan lebih baik. Memberikan kesejahteraan kepada rakyat Tunisia.

 

Ahmad Sahide, Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasiolan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta/Penulis buku The Arab Spring: Tantangan dan Harapan Demokratisasi

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!