Ahmad Sahide

Trump dan Harapan Perdamaian Suriah

Oleh : Ahmad Sahide*

OPINI, EDUNEWS.ID-Konflik di Suriah sudah berlangsung kurang lebih delapan tahun lamanya pascabergejolaknya The Arab Spring 2011 lalu. Negara dengan sejarah kebesaran masa lalu Islam itu kini terperangkap dalam Perang Saudara yang tak kunjung selesai. Ratusan ribu rakyat sipil menjadi taruhan dari konflik yang berkepanjangan ini. Masa depan negara ini pun seram. Anak-anak kehilangan harapan hidup karena serangan bom sewaktu-waktu bisa datang menghampiri yang dapat berujung pada hilangnya nyawa.

Itulah wajah Suriah hari ini yang beribukotakan Damaskus, kota yang terukir dalam sejarah sebagai salah satu pusat peradaban Islam. Di kota inilah, Dinasti Umayyah pernah berdiri kokoh dan cukup disegani dunia. Kini, bukan hanya peradabannya yang hancur, sisa peninggalan kebesaran masa lalu itu juga ikut luluhlantak karena perang yang tidak berkesudahan.

Terkait dengan konflik Suriah, sebetulnya saya sudah pernah menulis di Jurnal Sospol Universitas Muhammadiyah Malang dengan judul The Arab Spring and Democratization; Why is Syria Different? Tulisan saya ini terbit pada volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2017. Salah satu poin utama dari tulisan ini adalah bahwa salah satu faktor utama konflik yang tidak berkesudahan di Suriah karena dua negara super power ada di belakang pihak-pihak yang berkonflik. Kedua negara super power itu adalah Amerika Serikat (AS) dengan Rusia. Dalam hal ini, Amerika berperan mendukung kelompok oposisi untuk menggulingkan rezim Bashar al-Assad, sementara Rusia mengambil sikap politik untuk mendukung rezim penguasa, Bashar al-Assad. Karena ada dua negara besar yang terlibat sehingga pihak-pihak yang terlibat konflik atau perang di lapangan tidak pernah kebabisan ‘amunisi’. Dampaknya, perang pun tidak berkesudahan.

Baca juga :  Mengobati Pecandu Hoax

Keputusan Trump

Pada minggu terakhir bulan Desember 2018, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, secara mengejutkan mengumumkan penarikan tentara Amerika dari Suriah. Tentu saja keputusan Trump mundur dari Suriah ini mengecewakan kelompok oposisi yang mendapatkan dukungan persenjataan dan logistik lainnya dari Amerika. Seperti halnya kekecewaan yang diungkapkan oleh milisi Pasukan Demokratik Suriah/ Syrian Democratic Force (SDF) yang melihat keputusan ini sebagai bentuk dari pengkhiantan AS. Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis, yang merasa tidak sejalan dengan keputusan Trump akhirnya mengundurkan diri (Kompas, 22/12/2018).

Jika kita kembali pada tesis yang saya sampaikan dalam judul artikel saya, yang terbit di Jurnal Sospol, maka penarikan mundur tentara Amerika dari Suriah memberikan satu harapan akan perdamaian di Suriah. Secercah harapan untuk jauh dari suara-suara ledakan bom setiap hari akan terwujud. Mundurnya Amerika akan melemahkan kelompok oposisi dan itu bisa juga berarti kemenangan bagi rezim Assad. 

Hal ini juga bisa menjadi pertanda kemenangan Rusia dalam perebutan pengaruh dengan Amerika di Suriah. Suriah yang selama ini menjadi negara mitra penting bagi Rusia di kawasan Timur Tengah, di samping Iran, akan tetap berada dalam aliansi politik yang dibangun Moskow.

Ini jugalah yang menjadi salah satu faktor utama mengapa Trump mendapatkan banyak resistensi dari dalam negeri terkait dengan kebijakannya untuk mundur dari Suriah sebagai arena perebutan pengaruh dengan Kremlin. Bagi orang Amerika yang meyakini doktrin bahwa Amerika adalah pemegang supremasi politik global akan merasa ‘terganggu’ dengan langkah yang diambil Trump. Bagi mereka, ini bukan sekadar kemunduran dan strategi penarikan diri dari konflik di Suriah, tetapi ini adalah persoalan tergerusnya supremasi politik global Amerika di hadapan Rusia.

Baca juga :  Pemuda, Antara Jajanan dan Jajahan Gaya Hidup

Rusia di bawah Vladimir Putin berani ‘mengintervensi’ daur ulang demokrasi Amerika 2016 lalu yang dimenangi oleh Trump di mana sampai saat ini rakyat Amerika dan juga para elite, terutama dari Demokrat, masih terus mempermasalahkan adanya campur tangan Putin dalam kemenangan Trump. Kini, di bawah Trump, Amerika mengambil langkah menarik diri dari arena pertempuran pengaruh dengan Rusia dalam konflik yang berkepanjangan di Suriah. Seolah langkah Trump tersebut menjadi tanda penyerahan secara perlahan mahkota supremasi politik global kepada Rusia. Pewaris ideologi sosialisme Uni Soviet yang ditaklukkan oleh Amerika dan sekutunya dalam Perang Dingin.

Sebagaimana yang dikhawatirkan oleh Israel juga bahwa penarikan mundur tentara AS hanya akan memperkuat kehadiran Rusia dan Iran di Suriah. Logika Trump memang bukan logika supremasi politik global yang saat ini dalam genggaman AS. Logika Trump adalah logika bisnis. Baginya, Washington, di bawah kepemimpinannya, tidak terlalu tertarik menempatkan banyak tentara di berbagai wilayah karena itu menghabiskan banyak uang (Kompas, 22/12/2018).

Sejak awal kepemimpinannya, Trump pernah mengatakan bahwa Amerika terlalu banyak menghabiskan uang untuk menjamin keamanan negara lain dan sekutunya. Seperti itu pula logika Trump mengenai kehadiran tentara AS di Suriah. Bukan persoalan supremasi politik global Washington yang mulai dirongrong oleh Rusia di bawah Putin. Maka tidak heran jika pilihannya adalah menarik diri dari Suriah yang mana ini bermakna dua hal.

Baca juga :  Pekerjaan (Penulis) Kliping

Pertama, kemenangan Rusia dalam perebutan pengaruh di salah satu negara penting di kawasan Timur Tengah. Ini juga menjadi bukti dari tesis Noam Chomsky bahwa kekuasaan Amerika memang terus mengalami kemerosotan dan semakin tidak dapat memaksakan kehendaknya (Chomsky, 2018: 99). Di Suriah, Amerika tidak dapat memaksakan kehendaknya untuk menurunkan Assad dari tahta kekuasaannya. Kedua, adanya harapan perang itu segera berakhir dengan kemenangan di pihak rezim Assad yang mendapatkan dukungan politik dari Kremlin.

Tentu saja, berbagai elemen masyarakat Amerika sulit untuk menerima realitas sejarah ini meskipun itu menghadirkan secercah senyum perdamaian bagi warga Suriah ke depan. Yang jelas Amerika harus mempersiapkan diri bahwa dunia tidak lagi sepenuhnya dalam genggamannya. Dan sepertinya, dunia tanpa Amerika kelak akan terwujud. China sudah bangkat dan bersiap untuk menjadi negara super power. Sementara Rusia baru saja membuktikan diri memenangi pertarungan perebutan pengaruh di Suriah melawan Amerika.

Ahmad Sahide. Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta & Penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta

 

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!