Kampus

Mensesneg: Mahasiswa hanya Bisa Belajar dari Dosen, itu Kesalahan Besar

MALANG, EDUNEWS.ID – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) RI Pratikno mengatakan, saat ini Indonesia memerlukan sumber daya manusia (SM) dengan keahlian hibrida. Saat ini, Indonesia tengah berupaya dalam mengembangkan kualitas SDM), tapi ternyata tidak cukup dengan keahlian linear.

“Seperti ilmuwan sosial tapi paham juga tentang algoritme,” ujar Pratikno saat menjadi pembicara di Konvensi Nasional Ilmu-ilmu Sosial yang diadakan Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS) di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (8/8/2019).

Lalu ada juga seorang ilmuwan sosial memiliki kemampuan tinggi di bidang wirausaha sehingga disebut socio-enterpreneur. Menurut Pratikno, kualitas SDM seperti ini justru lebih berharga dan maju dibandingkan technopreneur. Sebab, socio-enterpreneur sudah pasti memahami dan menguasai banyak ilmu pengetahuan.

Baca juga :  Ombudsman : Pungli Paling Banyak di Sektor Pendidikan

Untuk memiliki keahlian hibrid, maka suatu individu perlu mengasah keterampilan sosialnya. Namun sayangnya, aspek ini tidak masuk ke dalam kurikulum pendidikan. Sebab, selama ini lebih fokus pada penguasaan konten semata.

Dia mencontohkan, pembelajaran sosiologi kemungkinan besar hanya lima persen dapat dimanfaatkan dalam kehidupan. Keilmuan ini tidak akan mencukupi pada mereka yang memiliki ruang gerak sosial yang lebih luas. Oleh sebab itu, penguasaan konten tidak cukup untuk menciptakan individu dengan keahlian hibrid.

“Saya punya kegelisahan puluhan tahun bahwa kurikulum kita itu kaku. Mahasiswa hanya bisa belajar dari dosen, itu kesalahan besar institusi pendidikan. Mahasiswa bisa belajar di mana saja,” tutur dia.

Baca juga :  Mahasiswa UAJY juara di Indocement Award

Mahasiswa yang memimpin BEM misalnya bisa memeroleh poin perkuliahan. Mereka dapat menerima nilai tertentu yang setara tiga SKS pada materi kepemimpinan. Atau, dapat juga diterapkan pada perkuliahan wirausaha terhadap mahasiswa yang sukses berjualan.

“Ini dosa jariyah para rektor. Mahasiswa itu bisa lebih berkembang jika diberi kesempatan belajar dari manapun,” pungkas mantan rektor Universitas Gajah Mada (UGM) ini.

Selain itu, SDM juga memerlukan keterampilan secara teknikal terutama pada bahasa. Bahasa di sini bukan sekedar menguasai lokal, nasional maupun internasional. SDM juga harus bisa memiliki kemampuan dalam bahasa digital.

“Bahasa digital, coding dan programing harus diberlakukan sebagai media komunikasi,” ujar dia.

rpl

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!