Artikel

Cendekiawan Muda ; Catatan Jumat Dari Al Azhar

bersilahturahmi dengan Ketua Umum ICMI, Prof. Dr. Jimly Assahadiqie di Ruang Pengurus YPI Al Azhar, Jl. Sisinggamangaraja, No. 2, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (30/8.2019)

Oleh : Abdul Malik Raharusun, M.Pd*

Mukaddimah

Jumat, 30 Agustus 2019 menyempatkan waktu menemani Ketua Umum Majelis Sinergi Kalam-Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (MASIKA-ICMI), Dr. Ferry Rizky Kurniansyah bersama staf bidang ekonomi saudara Iwan Setiawan bersilahturahmi dengan Ketua Umum ICMI, Prof. Dr. Jimly Assahadiqie di Ruang Pengurus YPI Al Azhar, Jl. Sisinggamangaraja, No. 2, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sedikit tentang YPI Al Azhar, yayasan yang didirikan pada 7 April 1952 oleh 14 tokoh Islam dan pemuka masyarakat di Jakarta. Diantara para penggas dr. Syamsuddin (Menteri Sosial RI), Sjamsuridjal (Walikota Jakarta Raya), dan pendiri yayasan diantaranya Soedirdjo, Tan In Hok, Gazali Syahlan, H. Sjuaib Sastradiwirja, Abdullah Salim, Rais Chamis, Ganda, Kartapradja, Sardjono, H. Sulaiman Rasjid, Faray Martak, Jacub Rasjid, Hasan Argubie dan Hariri Hady. Dalam perjalanannya, kiprah YPI Al Azhar sebagai labotorium intelektual dan gerakan dakwah Islam tidak dapat dipisahkan dari sosok Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka.

Dikutip pada laman website YPI Al Azhar, “Seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan umat, aktifitas di Masjid Agung Al-Azhar terus tumbuh dan berkembang. Awalnya kegiatan ibadah dan dakwah hanya diikuti oleh masyarakat sekitar, termasuk para pengayuh beca dan kuli bangunan. Kini jamaah Masjid Agung Al-Azhar datang dari berbagai lapisan umat, tidak saja mereka yang bermukim di kawasan elite Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, bahkan dari luar daerah seperti Tangerang, Bekasi , Depok, Bogor dan lain-lain. Prof. Dr. Hamka sebagai Imam Besar di masjid ini. Figur Buya yang ceramah-ceramahnya senantiasa membawa kesejukan dengan pilihan kalimat-kalimat yang santun, telah mengikat perhatian ummat di berbagai pelosok, terutama melalui acara Kuliah Subuh yang disiarkan oleh RRI. Di samping membina berbagai aktifitas pengajian, majelis taklim, kursus-kursus agama Islam, Buya Prof. Dr. Hamka juga mendorong tumbuh dan berkembangnya sekolah-sekolah Islam Al-Azhar yang berpusat di kompleks Masjid Agung Al-Azhar. Kegiatan dakwah dan sekolah-sekolah tersebut, kian hari semakin mendapat tempat di hati masyarakat dan menambah harum nama Al-Azhar di tengah-tengah ummat, tidak saja di Ibukota Jakarta dan sekitarnya tapi juga sampai ke berbagai daerah di tanah air”.

Buya Hamka lah juga sebagai “wasilah” pada tahun 1961 Mahmoud Syaltout, Grand Syekh Al-Azhar Cairo ketika itu, mengunjungi tanah air sebagai tamu negara dan menyempatkan diri singgah di Masjid Agung Kebayoran. Kedatangan beliau disambut oleh sahabatnya Buya Prof. Dr. Hamka, Imam Masjid Agung Kebayoran. Dalam kesempatan itu Syekh Prof. Dr. Mahmoud Syaltout berkenan memberikan nama Al-Azhar untuk masjid tersebut sehingga nama resminya menjadi Masjid Agung Al-Azhar”.

Sampai saat ini tradisi intelektual Masjid Agung Al Azhar masih tetap dilanjutkan sebagai ruh gerakan dakwah Islam. Prof. Dr. Jimly Assahadiqie, SH selain Ketua Umum ICMI, saat ini adalah juga Ketua Pembina, Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al Azhar, Indonesia. Sebagai akademisi nama Prof. Dr. Jimly Assahadiqie, SH sudah sangat akrab baik dengan gerakan Islam juga kalangan Nasionalis.

Baca juga :  ICMI Minta Vaksinasi Rubela Dihentikan

Lahir di Palembang, Sumatra Selatan, pada 17 April 1956, Prof. Dr. Jimly pernah menjabat anggota Dewan Pertimbangan Presiden pada tahun 2010. Juni 2012-Juli 2017, dipercaya sebagai Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Semasa menjabat di DKPP, Prof. Jimly, memperkenalkan DKPP sebagai lembaga peradilan etika pertama dalam sejarah, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Sebagai pendiri dan menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi pertama (2003–2008) dan diakui sebagai peletak dasar bagi perkembangan gagasan modernisasi peradilan di Indonesia. Sampai sekarang buku karya ilmiahnya yang diterbitkan sudah lebih dari 65 judul dan ratusan makalah yang tersebar di pelbagai media dan disampaikan di pelbagai forum. Banyak ide baru yang ia tuangkan dalam buku, seperti dalam buku “Green Constitution”, “Konstitusi Ekonomi”, “Konstitusi Sosial”, “Peradilan Etik dan Etika Konstitusi”, “Konstitusi Keadilan Sosial”, dan lain-lain. (dikutip dari Wikipedia).

Menanti Jumat, Seperti Anak Mendengar Nasehat Dari Sang Ayah

Bersua dan mendengarkan nasehat akademik dari Prof. Jimly, bagi anak-anak muda yang tergabung dalam Majelis Sinergi Kalam-Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (MASIKA-ICMI) layaknya seperti seorang anak mendengar nasehat dari sang Ayah. Pada struktut Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), MASIKA adalah badan otonom yang sengaja dipersiapkan sebagai kaderisasi cendekiawan muslim Indonesia dari ICMI.

Dan jumat ini, selain mendengar nasehat-nasehat akademik lagi dari Prof. Jimly. Sebuah kesempatan langka kami juga bersua dan mendengar nasehat sastra dari Sang Maestro Taufik Ismail yang kebetulan jumat ini juga menyempatkan waktu ke Masjid Agung Al Azhar. Saya mencoba mencatat diskusi sejam menjelang jumat bersama Prof. Jimly dan diskusi pasca jumat bersama Pak Taufik. Catatan ini adalah tafsir ulang saya dari apa yang disampaikan kedua tokoh di atas.

Kebaruan. Kebaruan adalah kesan yang saya tangkap setiap kali bersua dengan Prof. Jimly. Dari Prof Jimly selalu hadir wacana-wacana baru yang selalu ditularkan kepada generasi muda. Mungkin ini juga cara Prof Jimly memberi “tugas” bagi anak-anak muda MASIKA untuk berfikir tentang bangsa dan Negara. Jumat ini, Prof. Jimly membuka diskusi dengan konsep baru otonomi daerah.

Indonesia yang teramat sangat kompleks dapat dilihat dari sudup pandang mana saja, agama, suku, ras, potensi alam, geografis dan sebagaimana kita teramat kompleks. Kompleksitas yang dimiliki Indonesia tentunya juga berdampak yang juga pada sistim tata kelola pemerintahan. Menurut senator terpilih DKI Jakarta, sistim otonomi yang ideal dikembangkan tidak harus bersifat simetris, dalam arti menyeragamkan kebijakan otonomi seluruh daerah dengan satu model dinilai, Prof. Jimli kurang tepat. Karena kompleksitas Indonesia, otonomi yang dikembangkan justru harus bersifat asimestris yakni melihat kekhususan dan keistimewaan yang dimiliki setiap daerah. Dan merumuskan konsep baru otonomi menurut Prof. Jimly dalam sejarah panjang kenegaraan kita kemungkinan melahirkan konsep baru sangat terbuka lebar, mislanya UU No. 29 tahun 2007, UU No. 44 tahun 1999, UU Nomor 11 tahun 2006 dan UU Nomor 21 tahun 2001.

Baca juga :  Perjuangan Rakyat Massenrempulu Melawan Pasifikasi Belanda

Lebih lanjut menurut Prof. Jimly konsep otonomi yang saat ini dianut juga masih bersifat politik yakni cara pandang otonomi yang dilakukan untuk memenuhi keinginan atau aspirasi politik daerah dan mengabaikan potensi kekhasan yang dimiliki daerah yang berbeda dengan daerah lain. Kedepan idealnya konsep otonomi daerah sudut pandang persepsinya dapat diperluas dari beragam perspektif, salah satunya ekonomi. Prof JImly mencontohkan Batam dan Bali. Konsep otonomi daerah dapat dikembangkan dengan melihat kekhasan kedua daerah tersebut (Batam dan Bali) dari sudut pandang ekonomi. Interaksi yang sangat tinggi dengan dunia luar (luar negeri), misalnya memungkinkan dibuatkan regulasi dimana orang dapat bertransaksi dengan menggunakan mata uang Negara mana saja di Batam dan Bali, tinggal pelaku ekonomi Indonesia mengkonfersinya dalam bentuk rupiah.

Otonomi dalam perspektif ekonomi ini juga memungkinkan kepala daerah pada wilayah tersebut, karena kekhasannya, diangkat tidak melalui mekanisme pemilihan kepala daerah sebagaimana umumnya kepala daerah, tetapi ditunjuk secara professional oleh Presiden. Maka kualifikasi kepala daerah juga berstandar internasional, mislanya penguasaan bahasa harus dapat menguasai bahasa Inggris, Arab, Mandari dan kecakapan pergaulan internasional lainnya. Gagasan otonomi daerah perspektif ekonomi dapat dilaksanakan tentunya setelah melalui tahapan-tahapan sebagaimana diatur dalam undang-undang.

Pasca Jumat, Diskusi Sastra Bersama Maestro Taufik Ismail

Sastrawan yang sudah sangat sepuh, Pak Taufik Ismail bergelar Datuk Panji Alam Khalifatullah, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat pada tanggal 25 Juli 1935, kini berusia 84 tahun. Pak Taufik, rasanya seluruh pembaca sastra dan sejarah mengenal sosok ini. Ia pembaca puisi yang ulung, sederet penghargaan dalam bidang sastra diberikan kepadanya. Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand (1994), Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994). Dua kali ia menjadi penyair tamu di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1971-1972 dan 1991-1992), lalu pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993). Tahun 2003, Taufiq Ismail mendapat penghargaan doktor honoris causa dari Universitas Negeri Yogyakarta. (dikutip dari Wikipedia).

Baca juga :  Merdeka Dari Belenggu Jahiliyah

Dengan gaya sastranya, cara mengatur intonasi suara, bahasa gerak tubuhnya juga tangannya yang mengikuti tekanan-tekanan suaranya, ketika Pak Taufik bercerita maka kami terbawa masuk ke lorong waktu melompat dari satu waktu ke waktu yang lain. Sastrawan penulis ontology puisi, “Malu Aku Menjadi Orang Indonesia” ini, bercerita tentang jatuh bangunya Ia bersama tim membangun dan mempertahankan majalan sastra Horison. Majalah Horisin adalah majalah sastra terbit pertama kali pada tanggal 15 Juli 1966. Majalah yang menjadi rujukan sastra dan juga sejarah di Indonesia, setiap kali dibanjiri tulisan-tulisan dari para penulis sastra. Bagi Pak Taufik seperti “kesepakan yang tidak disepakati” jika seorang penulis sastra tulisan sastranya telah dimuat oleh redaksi Horison maka Ia sudah dapat disebut “sastrawan”.

Pak Taufik bercerita tentang puisi-puisi langitnya, bahkan bukan hanya puisi “Sajadah Panjang” yang diangkat grup musik legendaris Bimbo menjadi lagu, menurut Pak Taufik ada 90 judul puisi yang diangkat Bimbo menjadi lagu diantaranya Sajadah Panjang, Rindu Rasul, Tuhan, dan lainlain. Dan kita tahu bahwa lagu “Sajadah Panjang” sampai saat ini masih menjadi lagu religi favorit yang tak lekang dirayapi waktu.

Memasuki usia kedelapan puluh, Pak Taufik menulis puisi, “Katastrofi Mendunia ; Marxisme, Leninisme, Stalinisme, Maoisme, Narkoba”, bagi Pak Taufik memasuki usia 80 tahun adalah tahapan selanjutnya manusia merenungi perjalanan hidupnya. Pada buku ini pada dua halaman Pak Taufik mengenang nama-nama para sahabatnya yang telah wafat mendahului. Deretan nama disusun sesuai abdjad sampai dua halaman buku, pada nama paling terakhir disitu ada nama Pramoedya Ananta Toer. Pak Taufik berkisah Pram adalah sahabat saya, kami sering tegang, berseteru dalam debat sastra tapi kami juga sahabat. Menjelang beberapa bulan sebelum wafat, Pak Taufik dan Pram sempat berseu pada sebuah pertemuan sastra, saling berjabat tanggan dan berbincang. Itu pertemuan terakhir saya dan Pram, kata Pak Taufik.

Kami larut dalam diskusi dan canda tawa, seperti Ayah dan Anak-anaknya. Tapi Pak Taufik sudah harus pamit dan diskusi kami pasca jumat. Jarum jam menunjukan pukul 14.07 menit, pasca jumat ini, lebih dari sejam kami bersama Pak Taufik, Prof Jimly dan Pengurus Masjid Agung Al Azhar. Barakollah, jumatan yang berkesan.

 

Abdul Malik Raharusun, M.Pd, Sekretaris Eksekutif Majelis Sinergi Kalam-Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia

Sumber Bacaan
Diskusi Jumat, 30 Agustus 2019 di Kantor Pengurus YPI Al Azhar, Jakarta.
http://www.al-azhar.or.id/index.php/tentang-kami/sejarah
https://id.wikipedia.org/wiki/Jimly_Asshiddiqie
https://id.wikipedia.org/wiki/Taufiq_Ismail
https://id.wikipedia.org/wiki/Horison_(majalah)

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!