Artikel

Habibienomic Sebagai Warisan Penting

Oleh : Suroto*

EDUNEWS.ID-Mantan Presiden B.J Habibie telah meninggal dunia hari ini (11/09/19). Kita kehilangan putra terbaik bangsa yang memiliki pemikiran “genuine” dan tajam.

Habibienomic yang pernah ditawarkan sebagai konsep pemikiran Almarhum B.J Habibie adalah sebuah aliran ekonomi yang mengedepankan peningkatan nilai tambah ekonomi berbasis teknologi. Pemikiran ini sebetulnya pernah ditawarkan pada awal tahun 1990 an.

Habibienomic sebetulnya sebuah aliran pemikiran yang penting dan relevan untuk diterapkan saat ini dan juga mendatang. Sayangnya beliau belum sempat memiliki kesempatan untuk menerapkanya karena beliau berada dalam situasi krisis dan transisional.

Model konsep alih teknologi harusnya memang ditempelkan dalam berbagai negosiasi kebijakan investasi terutama investasi asing. Sebab tanpa komitmen alih teknologi pada akhirnya seperti saat ini, semua nilai tambah berada dalam kendali negara lain.

Baca juga :  Revolusi Industri 4.0 untuk Pariwisata Toraja dalam Gaet Generasi Milenial

Mustinya konsep Habibienomic itu juga jangan hanya dimaknai dalam konteks membangun teknologi “high tech”, tapi lebih penting dari itu semua justru ke industri kerakyatan. Terutama yang menyangkut industri pangan.

Hari ini kita dapat lihat, ketika pasar telah terbuka lebar dan penetrasi produk kita kalah dalam sentuhan teknologi, jadi tak memiliki “reserve” sebagai hasil dari nilai tambah.

Pemerintahan hari ini dan mendatang musti memikirkan kembali konsep kebijakan Habibienomic ini.

Setiap produk yang dihasilkan rakyat harus bernilai tambah dan memberikan tambahan kesejahteraan bagi mereka. Terutama teknologi untuk industri pangan dan energi terbarukan.

Eksportasi kita yang masih tergantung kepada produk ekstraktif atau bahan mentah yang tak bernilai ekonomis mustinya dikurangi. Setiap produk terutama industri pangan basis keluarga ( home industry) harus digenjot dengan diberikan insentif fiskal.

Baca juga :  Sejarah Berulang, Dulu HMI, Kini FPI

Eksportasi kita harusnya merupakan berasal dari surplus pangan atau ekonomi domestik.

Kalau kebijakan ini dijalankan maka dampak strategisnya akan banyak sekali. Mengurangi pengangguran, memberikan nilai tambah riel kepada rakyat banyak, dan setidaknya mengurangi defisit neraca perdagangan yang saat ini telah mencapai angka terburuk sejak tiga dekade belakangan.

Jadi dalam menyikapi revolusi industri 4.0 itu jangan terjebak pada soal bisnis cangkangnya atau kembangkan bisnis basis platformnya, tapi isinya.

Konsep Habibinomic dengan demikian juga akan bermakna untuk kembalikan kedaulatan ekonomi kita.

Jakarta, 12 September 2019

Suroto, Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis ( AKSES)

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!