Artikel

Merdeka Dari Belenggu Jahiliyah

Ilustrasi zaman jahiliah

Oleh : Dian Rahmanaputri

EDUNEWS.ID-Nikmat Allah teragung (menjadi Muslim dan Mukmin) telah kita syukuri semayamnya dalam diri. Tetapi sejarah juga mengajari kita, betapa pun pernah dalam kebenaran, di lintasan sejarah, pengikut Musa dan Isa terbelenggu, konsep ketuhanannya kacau centang-perenang melewati berbagai konsili tandingan. Kemerdekaan menuntut sebuah proklamasi bahwa kita telah melepaskan diri dari semua intervensi, tekanan, dan kekangan oleh semua bentuk jahiliyah dan musuh fitrah. Ibrahim Khalilur Rahman bersama kumpulannya memberi contoh tentang bagaimana sebuah proklamasi untuk berlepas diri dari belenggu jahiliyah dibangun dengan gagah dan kokoh.

Begitulah sejarah memberi kisah, bahwa proklamasi ini menuntut totalitas, tak peduli berapa pun jumlah. Ibrahim dan masyarakat bertauhidnya hanya minoritas di tengah peradaban paganis Namrud yang ingin menggilas. Tetapi mereka penuh kehormatan dengan kalimat tegas. Para pemuda Ashhabul Kahfi pun menjadi gambaran lain, bahwa proklamasi ini tidak mengikat mereka dalam sekat kewilayahan, tapi berlepas diri adalah niscaya untuk menegakkan fitrah di mana pun jua, walau hanya di dalam sebuah gua. Berlepas diri adalah sebuah kemuliaan. Ketidaktergantungan kepada jahiliyyah dan musuh fitrah, membangun set psikologis penuh percaya diri, sejajar, bahkan unggul di hadapan tiran jahiliyyah yang lacur.

Adalah Ustman ibn Mash’un, ketika terjadi penyiksaan atas kaum mukminin oleh para pemuka Quraisy berada dalam lindungan pamannya Al Walid ibn al-Mughirah, seorang pemuka kafir. Dengan segera ia umumkan bahwa ia melepaskan diri dari perlindungan tokoh musyrik paling disegani di seantero Makkah itu. Lalu hari itu pun tiba, saat Allah mengujinya. Di Ka’bah, didapatinya Lubaid bersyair, “Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah bathil!” Utsman dengan merdeka berkomentar di majelis bangsawan itu, “Engkau benar!” Lubaid melanjutkan, “Dan segala kenikmatan pasti sirna!” “Dusta! Nikmat surga itu kekal!” Kata Ustman.

Baca juga :  Lunturnya Budaya Bangsa

Mendengar itu Lubaid berteriak, “Wahai Quraisy, sejak kapan orang-orang bodoh berani mengganggu majelis kalian!”

Bangkitlah semua orang demi memukuli Utsman, mengerubutinya sampai salah satu matanya nyaris remuk, Kata Walid, “Kalau saja kau mau kulindungi, mata itu tak akan cedera!” Tetapi Utsman begitu santai berkata, “Bahkan mata sebelahnya iri untuk mendapat luka yang sama!” Begitulah. Sampai seorang budak seperti Bilal menemukan nikmat kemerdekaan di hadapan tuannya, ketika dengan bebas ia berproklamasi, “Ahad…Ahad…Ahad…!” Tentu di tengah cambukan, di tengah tindihan batu, di atas pasir membara. Tetapi merdeka, “Ahad…Ahad…Ahad…!”

“Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkab saja setelah mengatakan, “Kami beriman”, padahal mereka belum diuji?…” (Q.s. al-Ankabut: 2)

Keluarga Yasir yang dijanjikan surga, menjadi kronik menyejarah tentang beratnya ujian di saat harus berpisah dengan jahiliyyah. Bilal adalah sosok lain, bak kacang goreng hitam menggosong di atas pasir pinggiran Makkah yang membakar. Deraan cambuk, tindihan batu, pukulan kayu, dan sengat mentari tengah hari yang membakar gores-gores luka meretih adalah menu harian yang disajikan bagi ahli iman Makkah di awal-awal risalah. .

Khabbab ibn Al-Arats, pandai besi yang pernah dipanggang hingga cairan tubuhnya memadam bara itu begitu terenyuh sampai merajuk, “Ya Rasulullah, tidakkah engkau menolong atau berdoa untuk kami?”

Wajah mulia yang sedang berbaring berbantal serban di dekat Ka’bah berkata, “Orang-orang sebelum kalian ada yang disiksa dengan digalikan tanah lalu ia ditanam disitu hidup-hidup. Kemudian dibawakan gergaji lalu gergaji itu diletakkan di atas kepalanya, kemudian dia dibelah menjadi dua dan disisir dengan sikat besi hingga tinggal kulit dan tulangnya. Tetapi itu semua tidak memalingkan mereka dari agamanya. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, Allah akan menyempurnakan urusan ini sampai seorang penunggang berjalan sendirian dari Shan’a ke Hadhramaut dan tiada yang ditakutinya kecuali Allah, dan tidak takut serigala akan memakan kambingnya. Tapi tampaknya kalian tergesa-gesa!” (Hr. Bukhari dan Ahmad)

Nuh, Luth, dan Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun harus rela berpisah dengan pendamping hidupnya. Bahkan Nuh ‘alahissalam, harus merelakan sang sibiran tulang ditelan banjir karena kekufuran. Tegar Ummu Habibah merebut alas duduk dari Abu Sufyan ayahnya, dengan alasan sederhana, “Ayah adalah seorang musyrik yang najis, sementara ini adalah alas duduk Rasulullah!” Begitu juga kita temukan tegasnya Abu Bakr menghardik kekufuran anaknya di Medan Badar, “Tidak ada warisan tersisa untukmu selain pedang terhunus ini, wahai anak kecil yang buruk!”

Alangkah ringan Shuhaib melangkah meninggalkan semua usaha yang dulu ia mulai dari nol sebagai imigran di Makkah untuk berhijrah. Seindah cara Sa’ad menghentikan mogok makan ibu yang sangat disayanginya dengan berkata, “Bunda, seandainya Bunda memiliki seratus nyawa, dan ia keluar satu per satu di hadapan nanda untuk memaksa nanda menanggalkan keyakinan ini, sekali-kali nanda tak akan pernah meninggalkan agama ini selamanya!”

Bukan Islam yang mencerai beraikan ikatan. Justru kekufuranlah yang memisahkan ahlinya dari kasih sayang dan lembut mesra persaudaraan keimanan! Hancur sudah penduduk Makkah dan Thaif, seandainya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam menerima tawaran malaikat yang ingin menimpakan dua gunung Akhsyabain setelah mereka menyakiti beliau. Tapi yang beliau katakan hanya, “Aku berharap Allah mengeluarkan generasi yang menyembah-Nya dari sulbi-sulbi mereka!” Hari penaklukan Makkah dan Surah An-Nashr adalah saksi bahwa kemenangan ini adalah kemenangan aqidah, saat dendam lari terbirit dan tersisa hanya, “Pergilah…kalian semua bebas!”

Saat Abdullah ibn Rawahah menjalankan tugas untuk mengambil sebagian hasil panen kurma orang-orang Yahudi sesuai perjanjian, tampang kecurangan ala Yahudi hendak mereka tampakkan di wajah keimanan itu dengan berusaha menyuapnya. Ya, suap. Namun apa kata Ibnu Rawahah?

Baca juga :  Gie dan Pembantaian Massal PKI

“Demi Allah, kecintaanku kepada Allah dan Rasul-Nya yang melebihi apa pun di dunia ini, membuatku tidak akan pernah mengkhianati amanah ini. Tetapi demi Allah, kebencianku yang amat sangat kepada kalian wahai makhluk yang lebih hina dari kera dan babi, tidak akan pernah membuatku berbuat dzalim dan tidak adil sedikit pun kepada kalian!” Benarlah engkau wahai Ibnu Rawahah, dan Yahudi hina itu pun harus membuat pengakuan jujur yang pahit, “Karena sikap seperti inilah bumi dan langit tegak!”

Gemilang generasi pertama ummat ini menyelesaikan ujiannya. Mereka menemukan aqidah sebagai buhul ikatan pengganti sempurna untuk menggantikan ikatan jahiliyah yang telah lapuk membusuk. Allah, Rasul, dan Jihad begitu mereka cintai. Tak ada lagi alasan untuk mencari cinta yang lain, apatah lagi menyayangi apa yang dibenci Allah dan Rasul-Nya.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!