Opini

212 : PINTU MASUK HIJRAH UNTUK NEGERI

Dr. Aji Dedi Mulawarman

Oleh: Dr. A. Dedi Mulawarman

PENDAHULUAN
Selalu saja saat mendengarkan lagu-lagu kebangsaan yang sarat nilai, kesadaran diri untuk merawat negeri dengan kemandirian membuncah. Coba lihat lirik lagu Rayuan Pulau Kelapa, nyanyikan, resapi, apa yang terayun di kedalaman ruang batin kita:
Tanah airku indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa
Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yg amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala
Melambai-lambai nyiur di pantai
Berbisik bisik raja klana
Memuja pulau
Nan indah permai
Tanah airku Indonesia

Sudah dapat kita rasakan? Masalahnya adalah pada bila saat kita menyanyikannya tetapi tak terbangun dalam konstruksi kesadaran dan gerak di dunia nyata, maka sepertinya inilah yang disebut absurditas Keindonesiaan. Saya tidak yakin omongan tentang merawat Keindonesiaan dapat dibangun dari kolaborasi apalagi mentalitas menjual negeri hanya untuk kuasa. Di titik inilah, negeri yang sudah gerah dengan kuasa Barat dan konco-konconya seperti Singapura dan Jepang bahkan Korea Selatan, kini bergerak menuju pertarungan  dengan kekuatan besar baru, Cina Komunis, yang mungkin saja berkolaborasi dengan Rusia. Sebagaimana pernah saya tulis dalam artikel pendek berjudul Gelombang Pusaran dari Barat ke Yellow River beberapa waktu lalu:
“Orde Reformasi, pintu kebebasan mulai terbuka kembali, tetapi dunia telah berubah, kekuatan Cina Komunis telah menjadi superpower baru katanya, Maka kita mulai tertarik masuk ke pusaran “baru yang lama”, komunisme yang kita tolak habis-habisan hingga 3 tragedi PKI dulu, dari yang barat sentris ke cina sentris. Dana digelontor ke negeri ini, seperti dulu IMF, WB, dan G to G yang pasti itu adalah Baratisme Nusantara. Sekarang Dana digelontor habis-habisan dari Yellow River, dan kampus-kampus sudah mulai memberangkatkan mahasiswa dan dosen-dosennya. Ya, air bah yang berubah arah dari yang dulunya Amerika, Eropa dan Australia, sekarang berpindah ke Yellow River. Kita tidak sedang bertarung dengan individu amrik, eropa, australia, atau orang cina-nya. tapi yang kita lihat dari semua hal yang bersifat historis dan masa depan kita adalah Narasi Besar yang dibawa, Ideologi Besar Barat yang Liberalisme atau Ideologi Besar Cina yang Komunisme itu. kita tidak sedang membenci ras kulit putih atau kuning, tetapi yang kita tentang adalah air bah besar, narasi besar, ideologi besar, yang berhadap-hadapan dengan Pancasila itu sendiri.”

212 DAN KESADARAN UMMAT
Keresahan penulis sepertinya bukanlah keresahan yang bersifat pribadi, karena seperti akan kita lihat, peristiwa puncak 2 Desember 2016 adalah bentuk keresahan komunal anak negeri, dengan motor penggerak baru, pemimpin baru informal ummat Islam di Indonesia, Habib Riziq Shihab, icon perubahan di negeri ini. Fenomena Habib Riziq seperti pengulangan sejarah dimulai kembali setelah 100 tahun lalu HOS Tjokroaminoto 1916 menjadi pemimpin baru ummat Islam, Sang Raja Jawa Tanpa Mahkota, yang menggegerkan di seantero Nusantara waktu itu. Mengapa teriakan membela Al Qur’an atas kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi pintu masuk yang dapat menggerakkan kesadaran di negeri ini? Kesadaran bahwa negeri yang mayoritas muslim ini kemudian bergerak melakukan penolakan masif atas  desain dan praktik kebudayaan, penjarahan politik dan ekonomi oleh para pemilik modal besar, yang tampil di media mainstream maupun di dunia nyata. Hal ini terlihat dari gegap gempitanya ummat ketika misalnya mendengarkan orasi Sang Habib. Saya mencoba mentranslasi salah satu orasi Habib Riziq berkenaan Aksi Bela Islam setelah 411 dan persiapan menuju 212 berikut ini:
“Bahkan yang agamis ame yang nasionalis kumpul semua. Betul?… Itu… sampai ada orang kafir ikut juga saudara. Dan dahsyatnya aksi bela Islam 411 atas izin Allah jutaan umat Islam turun tidak ada seorang kafirpun yang didzalimi saudara. Betul? Bahkan ada sepasang pengantin beragama katolik ingin ke gereja Katedral jutaan manusia dia bingung bagaimana nembusnya saudara? Dia sudah putus asa tetapi tiba-tiba para santri mendekati “mau ke mana ibu bapak penganten?” “o, kami mau menikah di gereja katedral” “O, mari turun kita bantu jalannya”. Dibukak jalan oleh para peserta aksi, bahkan oleh peserta aksi bersihkan sampah yang di jalan supaya gaun pengantennya tidak kotor saudara. Dahsyat tidak? Indah tidak? Berarti artinya Islam toleran tidak? Anugrah siapa? Karunia siapa? Pertolongan siapa? Siapa yang Maha Besar? Siapa Maha Agung? Siapa Maha Suci? Takbir. Percaya dengan pertolongan Allah? Betul? Siap datang aksi 212? Siap datang Jumat 2 Desember? Percaya Allah akan menolong kita? Takbir. Yang sekolah yang kerja libur semua saudara untuk perjuangan Islam, Islam gak boleh Islam kita dihina. Betul? Siap hadir? Siap datang? Sebagai penutup saya mau sampaikan saudara. Tadi saya dari reskrim mabes polri lanjutan pemeriksaan soal kasus Ahok, dari sana saya langsung kemari dan besok akan ada pemeriksaan di Polda saudara, maka saya hanya ingin menyampaikan di sini. Apapun yang terjadi dengan saya ke depan mau saya dipenjara, mau saya dibunuh, umat Islam gak boleh berhenti untuk berjuang tegakkan Islam di Indonesia. Takbir, Takbir, Takbir. Siap bela Allah? Siap bela Rasul? Siap bela Nabi? Siap bela Qur’an? Siap bela Islam? Siap bela negara? Siap bela NKRI? Takbir. Catet baik-baik saudara demi Allah hari ini seorang habib di bunuh karena bela Islam, besok masih ada ribuan habaib lainnya yang akan bangkit lanjutkan perjuangan. Takbir. Dan catet baik-baik-saudara hari ini ada seorang kyai seorang ulama seorang ustad seorang dai yang dibunuh karena membela Islam, be-sok akan muncul ribuan kiai, ustad dan dai melanjutkan perjuangan. Takbir. Hari ini ada 1000 pemuda dibunuh untuk bela Islam besok jutaan pemuda Islam Indonesia akan bangkit kembali saudara. Siap berjuang, angkat semua takbir, takbir, takbir. Shallu ala Nabi…”

Setelah berbicara dengan mengingatkan kembali untuk hadir 212, ditutup Mars Aksi Bela Islam:
Al Quran iman kami
Al Quran pedoman kami
Al Quran petunjuk kami
Al Quran satukan kami
Aksi bela Islam
Aksi bela Islam
Allahu allahu Akbar

Baca juga :  Mentalitas Tauhid dan Kepemimpinan Nasional

Aksi 212 akhirnya menjadi gelombang jutaan ummat Islam yang tak dapat dihindari, tak dapat dihentikan dan tak dapat dibendung, bahkan karena ada niat bendungan di berbagai daerah, Ciamis kemudian memelopori aksi ribuan umat Islam jalan kaki ratusan kilometer dari Ciamis menuju jakarta. Kita lihat di hari H, jutaan masa Islam menyanyikan Indonesia Raya bersama,  tidak pernah ada dalam sejarah negeri ini lagu kebangsaan dinyanyikan jutaan massa. Ya, jutaan Ummat Islam memenuhi monas hingga luber ke mana-mana, melaksanakan shalat jumat berjamaah terbesar di dunia. Setelah itu tidak ada yang namanya kerusuhan, bahkan yang ada adalah kesantunan dan kebersihan kota kembali seperti semula setelah ummat secara tertib pulang. Seperti telah saya tuliskan di memoar 411, 212 juga terjadi keikhlasan maha dahsyat:
“Mereka ikhlas, benar-benar ikhlas, merasakan solidaritas saling berbagi apapun. Ya suasana batin dan denyut umat di tengah represi aparat dan kepongahan pemimpin negeri ini hanya karena pertarungan segelintir elit saling berebut kuasa demi mengamankan posisi dan transaksi yang terlanjur tergadai. Di setiap titik kita cari makan dan minum segala tersedia dari gelontoran sumbangan umat. Di saat kita ingin membeli air mineral, teh, kopi, susu tengah di saat itu pula harga menjadi nol rupiah karena gemericik air kebaikan yang mengalir seperti tangan-tangan malaikat berperan di dunia nyata.”

Kita telah melihat jelas sekali, 212 adalah simbol mata batin umat yang lebih dahsyat dari kecerdasan akal gerombolan. Aksi 212 telah membalik seluruh logika dan asumsi bahwa kita tidak mampu melakukan perubahan yang drastis. Siapa mengira situasi negeri ini menjadi terbalik 180 derajat? Hanya karena kita mau dan kita sanggup, hanya karena Allah saja semua dapat berubah. Ya, memang 212 itu angka, tapi angka itu penuh makna, bukan hanya material. Demikian pula, 100 tahun itu adalah representasi angka dan Rasul mengatakan akan ada pembaharuan setiap 100 tahun. 100 tahun sebagai angka tidak hanya bersifat material pula, karena angka 100 bagi Rasul adalah refleksi melangit. Maka dari itu saya percaya dan dengan itu maka saya beriman pada Rasul. Sama pula ketika misalnya pertumbuhan ekonomi yang direpresentasikan dengan angka dan kemudian dijadikan dasar negeri ini dari tahun ke tahun itu untuk memproyeksikan masa depan kesejahteraan negeri, maka ketika ternyata tidak merefleksikan realitas serta kesejahteraan rakyat kecuali para cukong, sehingga menyebabkan keresahan dan memuncak di 212. Maka sebenarnya angka pertumbuhan ekonomi bagi saya adalah dukun yang menyajikan data palsu bak candu bagi para pembuat, penyaji dan pemakainya.

REORIENTASI PASCA 212
Orientasi 212 bila mau ditarik sebagai awal perubahan dan hijrah untuk negeri, maka tidaklah tepat bila ekonomi dijadikan dasar perubahan. Sebagaimana sejarah menunjukkan kehancuran negara ini karena pilihan dan orientasi negara mengarahkan ekonomi sebagai panglima Orde Baru. Demikian pula dengan pilihan politik sebagai panglima sebagaimana juga sejarah menunjukkan kehancuran Orde Lama. Kini, Orde Reformasi menggabungkan desain politik dan ekonomi sebagai panglimanya. Jadi sebenarnya di sinilah letak kesalahan mendasar dari paradigma pembangunan negeri. Apakah perlu melihat dengan cara pandang baru? Misalnya dengan melakukan resetting pikiran dalam bingkai konstruksi kebudayaan, sebagai panglima?

Kalau alumni 212 melakukan aksi hanya bersifat material antisipatif melalui gerakan ekonomi syariah, sepertinya nanti akan mengulangi kesalahan sejarah lagi. Artinya, boleh dan wajib konstruksi politik ekonomi itu dilakukan, tetapi keduanya harus dalam bingkai besar redesain atas positioning kebudayaan sebagai payungnya. Yang saya maksud dengan desain itu adalah kebudayaan bermarwah masjid.  Bukannya sedang melawan pragmatisme jaman, dan, karenanya juga, dan tetap yakin, Tauhid tak bisa bercanda dengan jamannya, Tauhid selalu tegas menegasikan ilah-ilah, berhala-berhala dunia, sekaligus menegaskan Ilah Yang Esa.

Apalagi bila kita melihat bahwa gagasan negara berkemakmuran dan berkesejahteraan yang dilakukan oleh Eropa Barat dan Amerika, dan sekarang juga dilakukan oleh Cina bahkan negeri ini menirunya habis-habisan. Semua refleksinya dioerientasikan pada materialisasi berbentuk angka-angka dan statistik apa itu yang disebut Indonesia makmur dan sejahtera, pertumbuhan ekonomi, termasuk outlook ekonomi tahunan yang gencar digelontorkan seperti menjelang akhir tahun gini ini atau bahkan kalau ada itu outlook sosial masyarakat, dan lain sebagainya. Semua ya semuanya memang takluk pada logika gagasan Evolusi Institusi Inklusif, potret kesejahteraan Neoliberalisme berbasis Materialisme Individual.

Saya merasa kurang pas dengan cara pandang kemakmuran dan kesejahteraan karena diukur berdasarkan kemapanan materi, kecukupan sandang papan, kesehatan diri dan keluarga, serta kreativitas aktivitas bisnis yang menjamin kebebasan mengakses ladang-ladang ekonomi masyarakat dan lingkungan alamnya, bahkan lebih jauh kebebasan mengakses kebahagiaan tanpa dibatasi moralitas bahkan kaidah-kaidah kebaikan, apalagi agama.

Mengapa begitu? Cara pandang seperti itu dapat dilacak dari dasar berpikir metodologis dari mana sumber ilmu termasuk ekonomi dikembangkan, yaitu Positivisme yang mengedepankan model to explain and to predict. Semuanya merupakan gerakan materialisme empiricism baik yang kapitalistik liberal maupun sosialistik komunal (termasuk di dalamnya komunisme) untuk melegitimasi sifat dasar kemanusiaan Barat dan para followernya, yaitu Self/Social Interest yang anti agama, anti Tuhan. Ya semuanya memang anti Tuhan. Kalaupun Tuhan ada pasti digeser menjadi marginal dan bahkan Deus Absconditus, Tuhan Disembunyikan saja.

Apakah kita perlu melakukan perubahan sesuai logika seperti di atas? JIka ya, maka negeri ini tidak pernah makmur dan sejahtera dalam koridor Ilahiyyah, karena ambigu dan melawan kepercayaannya sendiri, agama dan Tuhannya. Allah pasti memberikan Cahaya Maha Cahaya-Nya pada setiap abdi-Nya, selama tetap mengikhlaskan diri sebagai umat Muhammad yang istiqomah dan terdepan, bak ombak yang menggulung lautan, bukannya buih di lautan. Keberpihakan pada keyakinan dan keadilan itu mutlak, tidak bisa dinegosiasikan apalagi jadi abu-abu. Positioning Mutlak seperti itu dengan demikian menjadi penting. Bukan pula menjadi argumentasi politicking bahkan keangkuhan atas nama interest yang bersifat individu bahkan kelompok parsial dari komunitas. Bila eksistensi tidak abu-abu yang pernah dijadikan simbol perjuangan tidak penting lagi dan bila pula pragmatisme politik menjadi dasar “karep”, maka lebih baik siapapun perlu perpikir ulang menggunakan ketegasan Positioning Mutlak. Ya berpikir ulang sekaligus menggeser dasar paradigmatik pada penegasan pentingnya the uniqueness of symbol yang jadi pijakan kejuangan historis.

Baca juga :  Ridwan Kamil Blunder dan Kuwalat

Kita benar-benar tidak ingin melakukan pengulangan kecerobohan historis apalagi menderivasikan egoisme secara sosiologis yang menghancurkan sendi-sendi dan kerekatan bangsa kita. Bila kita memang menyatakan diri sebagai anak kandung bangsa ini sekaligus bagian genetis umat, ruh umat, maka kita akan jaga keutuhan semua entitas bangsa sekaligus tidak akan menjual negeri ini sejengkalpun. Kita tidak sedang menuruti hasrat pragmatisme, tetapi menegaskan posisi umat yg tidak bisa dijual murah. Kebudayaan bermarwah masjid menjadi ruh atas perubahan sistem dan pikiran individu sekaligus masyarakatnya. Kebudaayaan melalui bangunan pendidikan yang menekankan religiositas dan bukan basa-basi diseluruh level, mulai dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi menjadi pintu masuk utama, sebagai ruh moralitas langit yang menjadi ruh atas desain dan konstruksi lanjutan atas ketatanegaraan, politik, ekonomi dan pembangunan negeri.

Artinya, tidak serta merta konsep dan teori Barat yang telah menghancurkan negeri ini lewat rembesan pendidikan dibuang, pensucian atas kurikulum dan sistem pendidikan melalui reorientasi konsep ekonomi, sosial, budaya, politik, tata negara, dan semuanya harus menjadi prioritas. Pekerjaan berat seluruh buku daras, buku teks, riset-riset, artikel ilmiah, harus diarahkan bukan hanya diterjemahkan saja, apalagi kalau negeri ini disuruh membaca buku berbahasa asing.  Lebih penting adalah melakukan redesain, rekonstruksi, bahkan menciptakan buku daras baru, buku teks baru, riset baru, artikel ilmiah, harus diarahkan pada sistem nilai dan religiositas kita serta nilai-nilai lokal yang sangat religius menjadi penting bagi perubahan mindset masyarakat negeri ini. Jangan pernah takut dengan perubahan, toh konsep dan teori asing belum tentu statis, mereka juga dinamis dan bahkan selalu berubah, dan kita hanya menjadi follower mereka? Absurd sekali kalau begini jadinya.

Kita insya Allah punya gagasan sains teknologi cadas yang berpihak pada negeri ini. Kita punya para guru besar, doktor, sarjana dan praktisi cerdas yang mampu membangun negeri ini dan telah melakukannya hingga saat ini, berbasis nilai tradisi religius dan kebangsaan kita. Selain itu semua desain dan sistem pembangunan negeri wajib dibangun dan diredesain dari sistem nilai reiligius dan lokalitas kita sendiri. Tidak perlu saya kira seperti saran pemimpin negeri ini memanggil para manusia karton yang hidup di luar negeri hanya karena tidak sabar dan malahan menjadi antek-antek asing aseng asong, kecuali mereka memang masih memiliki semangat religiositas dan kebangsaan untuk membangun negeri ini. Insya Allah sebenarnya sistem nilai, desain, konstruksi pendidikan, riset dan aksi kebudayaan telah dilakukan, tetapi semuanya saat ini hanya menjadi lembaran yang memenuhi rak-rak perpustakaan, laboratorium dan hard disk komputer dan laptop. Bahkan sistem ekonomi rakyat yang sangat reiligus dan bersifat kebersamaan telah terjadi di negeri ini, sayangnya selalu saja negara melihat dan memenjara mereka dalam koridor ekonomi usaha kecil yang tidak boleh menjadi dominan. Orientasi pembangunan yang terlalu mercusuar dan cenderung meninggalkan rakyatnya demi yang katanya kemajuan telah menggadaikan kemandirian dan selalu dibincang dalam bentuk investasi mapun hutang triliunan rupiah. Mengapa misalnya kita tidak mendorong serta mengonstruksi dengan serius ratusan hingga ribuan cluster ekonomi rakyat berbasis Koperasi yang benar-benar dimodali, didesain, didampingi serta diorientasikan menjadi Koperasi Multinasional yang mampu berhadapan di kancah internasional. Bukannya negara hanya memberi award ketika mereka telah besar karena usaha mereka sendiri. Inilah kemalasan negara dan mentalitas birokrasi yang sangat korup karena mereka hanya mementingkan percepatan masuknya pajak untuk kepentingan pembangunan infrastruktur dan bayar hutang ribuan triliunan rupiah. Bahkan mental malas itu terbangun lewat tax amnesty misalnya. Wong jelas-jelas itu mereka pra pengusaha korup yang mayoritas adalah non pribumi pengemplang pajak tidak mau bayar pajak kok dibela. Saatnya kita membuka semua konstruksi genuine anak negeri dan mempraktikkan secara simultan. Siap tidak siap, harus siap, kita harus hijrah.

HIJRAH UNTUK NEGERI
Hijrah itu seperti apa? Yang jelas, seperti saya jelaskan di buku 2024: Hijrah untuk Negeri:
“hijrah  itu ya bukan hanya seperti dipikirkan secara literal melakukan pergeseran vektorial dari satu titik a ke titik b, atau perpindahan sebuah situasi x menuju situasi y, juga perindahan bersifat teknis saja bahkan bila lebih mau dikonseptualkan dan masuk dalam kerangka institusional merupakan perubahan signifikan untuk melakukan perbaikan sistem sosial ekonomi politik demi perubahan yang mengamankan kepentingan keseimbangan dan, nah ini lebih krusial, menjaring kemungkinan manfaat ekonomi dan politik kenegaraan. Saya malah melihat Hijrah Rasulullah SAW dan para nabi serta rasul terpilih tidak bisa hanya kita pahami sebagai perpindahan atas alasan sempit, seperti ekonomi, politik, dan sosiologis kontekstual sebagaimana gagasan pemikir Barat. Hijrah bagi saya lebih jauh dari itu. Hijrah pastilah berhubungan dengan situasi maha penting dari sisi substansi nilai religiositas yang terkonstruk dari kegelisahan-kegelisahan ideologis sehingga menyebabkan situasi masyarakat pada titik mengkhawatirkan. Rasulullah melaksanakan hijrah seperti dijelaskan di atas memang memiliki alasan substansial, demi terselamatkan nilai-nilai perjuangan Islam itu sendiri atas nama Tuhan. Ahzani Samin Jazuli mengatakannya sebagai satu metode dari berbagai banyak metode penyebaran dakwah, juga tentang perhelatan membela kebenaran hakiki, kalaupun itu juga berkenaan keadilan sosial ekonomi bukan dalam kerangka linieritas kebahagiaan material semata, apalagi secara politik adalah pembagian kekuasaan secara demokratis atas nama keinginan rakyat. Hijrah adalah situasi perubahan atas nama keinginan dogma keimanan yang lebih revolusioner dan mengarah pada kekuatan aksi konkret, bukan hanya aksi konkret tanpa ruh Ketuhanan.”

Seperti apakah Hijrah yang perlu dilakukan? Sebagaimana telah saya jelaskan panjang lebar di buku 2024:
“…hal paling penting adalah konsolidasi umat, dan kita telah melakukannya saat ini melalui 212. Saatnya kita mulai dengan hijrah dari demokrasi liberal menuju Syura, Musyawarah Mufakat. Musyawarah adalah amanah konstitusi yang harus dijaga demi menjaga persatuan Indonesia. Founding Fathers kita jelas sekali lebih mengedepankan musyawarah mufakat dalam keterwakilan, untuk memilih pemimpin negeri ini, baik eksekutif maupun legislatif. Yang terjadi saat ini adalah sistem Pemilihan Umum kita adalah Sistem Pemilihan Umum paling Kompetitif, yang berlawanan dengan sistem musyawarah. Siapa punya nama dan uang dia yang menang. Belum lagi liberalisasi telah juga merangsek lewat Otonomi Daerah, baik dari sisi pemerintahan maupun pengelolaan keuangan yang sangat federalistis. Nyawa kita saat ini harus dipertaruhkan dalam kompetisi head to head, mulai akar rumput sampai puncak kekuasaan negeri ini. Menjadi wajar bila dekade terakhir ini betapa banyak wacana ekspansi yang mengarah pada keinginan berbagai wilayah untuk merdeka, yang dipicu konsep pemerintahan terpisah. Hijrah kedua adalah hijrah dari ekonomi neoliberal menuju ekonomi kerakyatan berkeadilan sosial. Tidak dapat disangkal bahwa kita telah terjebak dalam ukuran-ukuran universal numerik seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, anggaran defisit, nilai uang, harga minyak dunia. Politik Ekonomi kita juga diarahkan pada sistem Ekonomi Pasar Bebas dan Korporasi. Mengapa ukuran-ukuran perekonomian dan Politik Ekonomi kita tidak berkaitan dengan apa yang dicita-citakan founding fathers yaitu keadilan sosial? Alih-alih pertumbuhan ekonomi bahkan telah menjerumuskan kita ke dalam jebakan-jebakan pasar bebas seperti MEA. Ya jebakan! Kita mengakomodasi buruh luar negeri daripada pekerja lokal sendiri atas nama efisiensi yang mengarah pada bertambahnya tingkat kemiskinan. Alih-alih defisit APBN kita terjerumus dalam utang LN yang mengarah pada pelucutan hak negara untuk mengatur subsidi dan proteksi pasar nasional. Seharusnya kita membangun koperasi bukan korporat. Amandemen UUD 45 No 33 telah menghilangkan koperasi. Seharusnya kita tetap menjaga kebersamaan dan kerakyatan dalam berekonomi, bukannya memicu individualisme ekonomi transaksional. Mengapa kita tidak membangun Koperasi Multi Nasional, yang semua mendapat jaminan besar dan mendapat kesejahteraan bersama, malah kita terjebak pada logika dasar Korporasi Multi Nasional. Saatnya negara melakukan Hijrah Kebangkitan melalui Gerak, Gerakan Bangga Koperasi. Hijrah paling penting, adalah hijrah kebudayaan. Kita dan anak-anak kita kini menjadi manusia- manusia universal yang hilang sudah akar budayanya. Gerusan globalisasi telah memproduksi manusia-manusia hedonis melalui pendidikan, melalui Sekularisasi dan Westernisasi Sistem Pendidikan Nasional. Ya tujuan Pendidikan Nasional kita memang bertujuan mulia, mendidik manusia dan masyarakat Bertakwa serta Berjiwa Kebangsaan untuk membangun Indonesia sebagai pusat peradaban dunia, tetapi tidak dalam implementasinya. Sungguh disayangkan kenyataan bahwa pendidikan kita sangat terkooptasi dengan mentalitas Barat. Tengok saja betapa kurikulum kita terjebak pada logika Liberalisme, banyaknya buku-buku asing bermuatan individualisme dan materialisme. Kita dipaksa dan didesain untuk mengikuti logika universal. Jika kita masih percaya kekuatan asali Nusantara serta kekayaan budayanya, bukankah kita yang seharusnya menjadi pusat peradaban? Bagaimana melakukan pendidikan seperti itu? Pengalaman mungkin pelajaran terbaik,  seperti saya lakukan, tugas rutin memberi kuliah akuntansi, di kelas. Suatu hari, seperti biasanya, saya bercengkerama dengan mahasiswa di kelas. Ya, bukan hanya menyodorkan pengetahuan bagi mereka, tetapi menyodorkan kesadaran. Entah, kadang di persimpangan hari-hari, jenuh muncul sebelum masuk kelas. Apalagi bila mau berangkat ke kampus, harus mampir dulu di “ruang” lain, ruang realitas bisnis, dan bahkan sebelum itu, harus membaca surat-surat masuk sekolah keluarga yang perlu ditandatangani, suasana hati sebulan itu memang benar-benar dalam kondisi “down under”, alias kayak maunya lari dan tidak masuk kelas. Pikiran nakal yang muncul, “apa sih aku ini, kok cuma gitu aja hari-hari ngajar berulang-ulang dengan tema sama? Apa gunanya bagi diriku? Toh aku ini orang biasa di kampus?” Tapi begitu ingat mahasiswa bukanlah mahasiswa yang sama, mereka bukan mesin yang cukup disodori dengan hal monoton, pengetahuan mekanis, praktik, teknik dan kegiatan pengetahuan lain. Ya, dengan semangat yang ada itulah, setiap kali masuk kelas dan melihat dan mendengar mahasiswa berinteraksi di kelas, “darah penyadaran” seperti menyorong ke depan. Akhirnya, ya begitulah, bicara di depan kelas setelah mereka berdebat tentang materi kuliah, bicara bukan hanya pengetahuan, sekali lagi saya luncurkan penyadaran. Setiap huruf, kata, kalimat meluncur dengan energik di depan kelas, memang respon mata dan bahasa tubuh mereka beragam, ada yang ekspresif, mata bersinar, tapi ada juga yang matanya kosong, nah yang lebih membuat sedih (di situ aku merasa sedih hehehe atau sakitnya tuh di sini) adalah respon mencibir implisit. Astaghfirullah ujub ini… ujub kita… ujub semua… Astafghfirullah…”

Baca juga :  HRS Janji Penuhi Panggilan Polda Jabar Senin Besok

CATATAN AKHIR
Atas dasar itulah sebenarnya nafas kita memang masih nafas panjang. 212 hanya awal, dialah pintu masuk bagi pembenahan gradual dan sangat fundamental, meskipun di posisi eksisting sekarang perubahan dapat dilakukan tetapi harus direkayasa tetap dalam koridor payung kebudayaan. Negeri sudah tidak butuh argumentasi, tapi kesadaran langit dalam batin umat. Ayo bela Islam, Ayo Hijrah untuk Negeri Bela NKRI. Sekarang juga. Tidak ada perubahan akan terjadi kecuali Allah ingin dan kita menyambutnya dengan tangan terbuka. Insya Allah.
Kalau panggilan ber-ruh langit itu benar adanya ya jalani saja…
Yang jelas panggilan itu tak pernah berbohong…
Ini bukan tentang rasio bernurani ego…
Bukan pula transaksi bernurani pasar … 
Bukan pula kebenaran teks negeri antah berantah…
Yang pasti substansinya tak pernah sama dengan budaya kita…
Entahlah kalau kita suka pasrah terkonstruksi olehnya, bukan sebaliknya…
Yang jelas ini bukan ego diri, harga pasar, apalagi budaya kuning putih…
Apalagi penyamaran jadi londo putih kuning…
Ini tentang harga diri bernurani umat…
Tentang nadi langit dalam setiap kita…

Singosari Jum’at, 9 Rabbiul Awwal 1438; 9 Desember 2016

Dr. A. Dedi Mulawarman
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Ketua Dewan Pengurus Nasional Forum Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam
Koordinator Keluarga Besar Alumni HMI MPO
Ketua Yayasan Rumah Peneleh

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!