Opini

Nasib Neraca Perdagangan dan TPT Kita

Tawaf T Irawan

 

Oleh: Tawaf T. Irawan

“Menurut saya, sampai saat ini kebijakan investasi, urusan perizinan, tidak ada tendangan apa-apa” (Kompas, 20 Juni 2019).

Ucapan Presiden Jokowi diatas patut dimaknai sebagai bentuk kegundahan mendalam seorang pemimpin ketika melihat kinerja ekonomi yang belum sepenuhnya membaik, terutama di sektor investasi.

Menurut Badan Koodinasi Penanaman Modal, realisasi investasi triwulan I-2019 sebesar Rp 195,1 triliun, terdiri PMA Rp 107,9 triliun dan PMDN Rp 87,2 triliun. Realisasi investasi tehun ini ditargetkan Rp 792 triliun. Melihat target angka realiasi 2019, dan angka realiasi triwulan I- 2019, hal ini cukup mengkhawatirkan mengingat implikasinya terhadap penyerapan tenaga kerja, penerimaan negara, daya beli masyarakat dan perdagangan.

Terutama perdagangan internasional, ekspor-impor, data Badan Pusat Statistik menyajikan angka yang tidak menggembirakan. Defisit neraca perdagangan Indonesia masih terus terjadi pada Januari-April 2019 sebesar 2,564 miliar dollar AS. Angka ini lebih besar dibandingkan defisit Januari-April 2018, yang hanya 1,405 miliar dollar AS. Sebagai catatan, 2018 defisit neraca perdagangan RI mencapai 8,698 miliar dollar AS. Tanpa ada terobosan kebijakan perdangangan dalam tujuh bulan kedepan, dipastikan angka defisit neraca perdagangan 2019 kian membengkak.

Perlu dingat bahwa implikasi defisit neraca perdagangan adalah pada nilai tukar rupiah. Beberapa waktu yang lalu, nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan, salah satu sebabnya adalah stok devisa yang terus tergerus karena defisit necara perdagangan.. Defisit ini karena beberapa faktor seperti naiknya harga minyak, perang dagang AS-China dan menurunya kinerja sektor industri terutama sawit, makanan dan minuman serta TPT.

Baca juga :  Ramadhan dan Tafakur Kebangsaan

Kinerja Industri TPT

Kedepan pemerintah berkonsentrasi untuk mendorong lima industri unggulan guna mendongkrak kinerja ekspor, seperti otomotif, elektronik, makan dan minuman, kimia serta tekstil dan produk tekstil (TPT). Tapi menarik menjadi catatan adalah kinerja industri TPT. Jujur saja industri TPT lima tahun belakangan ini terseok-seok karena mendapatkan tekanan persaingan yang berat, baik di pasar internasional maupun domestik. Di pasar internasional tekanan persaingan diberikan oleh Vietnam, China dan Bangladesh.

Pangsa pasar ekspor tekstil Indonesia paling banyak ke AS (32,34%), Uni Eropa (14,97%) dan Jepang (10,08%). Pangsa pasar dunia TPT Indonesia saat ini baru mencapai 1,8%. Masih sangat kecil sekali dibandingkan Vietnam, China dan Bangladesh. Pasar TPT di Uni Eropa dan AS Indonesia kalah bersaing dengan Vietnam yang unggul akses pasar. Hal ini karena Vietnam dikenakan tarif bea masuk 0 persen, sementara Indonesia 5-20 persen. Pada 2018 ekspor tekstil Indonesia hanya naik 6% dari 2017.
Sementara Vietnam, periode yang sama ekspor tekstilnya meningkat 16 persen.
Sementara itu, untuk pasar tekstil ke negara-negara Afrika tekstil Indonesia kalah bersaing dengan China, yang memiliki jalur logistik dan rantai pasok global yang lebih baik. Dengan Bangladesh tekstil Indonesia kalah bersaing di pasar Afrika dan Timur Tengah karena jarak yang lebih dekat, sehingga harga tekstil Bangladesh lebih murah.

Baca juga :  Acara Yang Tak Bermutu

Di pasar domestik, tekanan persaingan industri TPT Indonesia juga tidak kalah hebat. Negara pesaing utama tetap Vietnam dan China. Vietnam memberikan harga tekstil yang lebih murah karena pengelolaan industri dan logistiknya lebih efisien. Vietnam menerapkan jam kerja pada industri ini 1 minggu 48 jam, Indonesia 40 jam. Tarif listrik di Vietnam per Kwh sebesar 7 sen dollar AS, Indonesia 10 sen dollatr AS.
Vietnam juga unggul dalam hal harga gas dan THC (terminal handling charge) dibandingkan Indonesia. Harga gas di Vietnam 7,5 dollar AS per juta MMBTU, sementara Indonesia 9,3 dollar AS per MMBTU. THC untuk kontainer ukuran 20 kaki di pelabuhan Ho Chi Minh 46 dollar AS dan 69 dollar AS. Sedangkan di Indonesia THC untuk ukuran yang sama masing-masing 95 dollar AS dan 145 dollar AS.

Kurangnya daya saing industri TPT nasional tidak saja disebabkan tata kelola industri yang kurang efisien, tapi juga bisa datang dari kebijakan pemerintah. Menurut para pelaku industri TPT peraturan menteri perdagangan No. 64/M-DAG/PER/8/2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 85/M-DAG/PER/10/2015 Tentang Ketentuan Impor Tekstil Dan Produk Tekstil dirasakan lebih berpihak kepada pedagang luar negeri dibandingkan kepada pelaku industri TPT nasional, sehingga pasar tekstil nasional dibanjiri produk tekstil dari China. Terlebih pada musim lebaran.

Cari jalan keluar

Pemerintah dan pelaku industri TPT perlu mencari jalan keluar agar tekanan persaingan tidak bertambah hebat. Strategi melihat kedalam dan keluar (inward and outward looking policy) harus dilakukan. Kebijakan melihat kedalam yang harus dilakukan adalah memetakan kembali biaya input, proses dan logistik. Saat ini Indonesia masih terikat perjanjan impor kapas dengan AS sebagai bahan baku TPT nasional. Tentu saja hal ini harus dievaluasi agar kapas dapat diproduksi di dalam negeri sehingga dapat menekan biaya input. Demikian pula biaya input tenaga kerja dan energi, juga masih terlalu mahal. Biaya logistik juga tidak kompetitif. Terkait semua biaya ini perlu evaluasi total.

Baca juga :  Energi Al-qur'an ; Spirit Perjuangan Indonesia yang Dinistakan

Kebijakan melihat keluar yang perlu dilakukan adalah segera merealisasikan kerja sama Indonesia dan Uni Eropa melalui European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Lobi intensif perlu dilakukan oleh Duta Besar atau Atase Perdagangan agar TPT Indonesia dapat bersaing di pasar Eropa. Paling tidak perlakuan tarif bea masuk bisa ditekan serendah mungkin. Selain itu, membuka pasar non tradisional perlu dilakukan lebih agresif lagi.

Belum lama ini Indonesia telah membuka kerjasama dengan Chile. Pada 2018 perdagangan bilateral dengan Chile baru mencapai 247,1 juta dollar AS. Peluang pasar di negara-negara Amerika Latin perlu dibuka lebar lagi untuk perbaikan neraca pembayaran. Paling tidak bisa dibantu dari pemulihan kinerja industri TPT yang terasa tendangannya.

*Penulis adalah Mahasiswa Program PhD Universiti Utara Malaysia
dan Pengajar di Universitas Pakuan Bogor

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!