Opini

Pendeta Gerungan dan Masyumi


Lukman Hakiem
Dilihat   104

Oleh: Lukman Hakiem*

Menarik membaca buku lawas karya Soemarso Soemarsono: “Pengalaman dari Tiga Pendjara” (Jakarta, Yayasan Bunga Revolusi, 1971).

Di bagian akhir, Almarhum Soemarso bercerita tentang temannya, seorang lelaki, sesama tahanan yang terus bersamanya di Rumah Tahanan Militer (RTM) Jl. Keagungan, di penjara, Salemba, dan di penjara Glodok, Jakarta.

Lelaki itu telah berusia kira-kira 70 tahun, fisiknya mulai ringkih, tetapi semangatnya tidak pernah pudar.
Di penjara, orang memanggilnya Gerungan, berasal dari Minahasa, seorang Nasrani yang taat. Dia seorang pendeta di suatu gereja kecil.

Malam sebelum tidur, dan pagi-pagi bersamaan dengan datangnya waktu Subuh, suara Gerungan mengalun keras sekali menyanyikan lagu pujian agama Kristen. Lagu pujiannya terdengar di seluruh pelosok penjara. Gerungan taat dan rajin sekali menjalankan ibadatnya itu, sampai-sampai “Saya hafal nyanyian Kristen itu, lengkap dengan urut-urutan satu persatunya,” tulis Soemarso.

Pendeta Gerungan inilah yang dulu namanya dimuat di surat-surat kabar, sebab dialah yang menawarkan diri kepada pemerintah untuk diterjunkan di daerah Darul Islam (DI) Jawa Barat guna menemui Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Gerungan mengaku sanggup membuat perdamaian dengan Kartoseowirjo. Dia yakin Kartosoewirjo tidak bersalah.

Pendeta Gerungan juga minta diterjunkan di Irian Barat (kini Papua) sebagai sukarelawan yang akan berjuang mengusir Belanda.
Pendeta Gerungan terus menerus berkirim surat kepada Kejaksaan Agung, menyalahkan politik pemerintahan Sukarno dan meminta supaya komunis dilarang di seluruh Indonesia. Di mata Gerungan, yang menyuburkan Partai Komunis Indonesia (PKI) itu Presiden Sukarno. Peringatan dari siapapun yang memintanya agar menghentikan kebiasaannya menyurati Kejaksaan Agung, tidak digubrisnya. Dengan mata melotot dia berkata: “Saya akan berjuang sampai titik tinta yang terakhir.”

Akibat sikapnya itu, Gerungan ditangkap dan dipenjara. Dia terkena delik menyerang Pancasila. Atas tuduhan itu, dia menantang Presiden Sukarno untuk menetapkan siapa yang benar, siapa yang salah. Caranya ialah dengan menyembelih korban ternak yang dipersembahkan kepada Tuhan. Penyembelihan itu dilakukan di Lapangan Banten. Pendeta Gerungan ingin tahu siapa yang kurbannya akan diterima Tuhan.

Pihak Kejaksaan Agung yang kasihan melihat pendeta tua itu meringkuk di penjara, menawarkan pembebasan Gerungan dengan syarat lelaki itu tidak mengulangi perbuatannya. Usul kejaksaan itu ditolaknya mentah-mentah. Gerungan memilih tetap meringkuk dalam penjara.

Gerungan seorang Kristen yang taat. Dia seorang pendeta. Akan tetapi, berkali-kali dia menyatakan bahwa politiknya sepenuhnya membenarkan dan mengikuti Partai Islam Masyumi.
Pendeta Gerungan sangat fanatik kepada tokoh-tokoh Masyumi.

 

Lukman Hakiem : Penulis dan Aktivis Politik

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close
Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu