Opini

Perang Dagang, Produktivitas Nasional jadi kata kunci

Rizal E Halim

Oleh : Dr Rizal E Halim*

OPINI, EDUNEWS.ID-Peningkatan tensi perdagangan dunia akibat perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan China telah memberi tekanan terhadap kinerja perekonomian dunia, setidaknya terhadap pertumbuhan global dan melambatnya perdagangan global. Hal ini tentunya akan memiliki efek tularan ke Negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Memang contagion effects pada masing-maisng Negara berbeda tergantung seberapa besar atau tinggi keterbukaan ekonominya, seberapa besar exposure ekonominya terhadap ekonomi global.

Untuk Indonesia, meskipun perekonomian nasional less exposure terhadap ekonomi dunia mengingat mesin pertumbuhan nasional bersumber dari konsumsi domestik, namun eskalasi perang dagang US-China akan memberi imbas pada perlambatan kinerja perdagangan yang memang dalam lima tahun ini tidak kunjung membaik. Harga komoditas akan tertekan, sementara ekspor nasional sangat tergantung pada komoditas, ini menjadi catatan serius bagi sektor perdagangan Indonesia. Berikutnya, volatilitas keuangan global juga akan berimbas pada stabilistas sektor keuangan nasional. Persoalan ini tentunya perlu disikapi dengan taktis dan menggunakan pendekatan pendekatan antisipatif.

Baca juga :  Lianna Putri Sri, Gadis Cantik nan Anggun yang Gelorakan Feminisme Lewat Tulisan

Memang Juni 2019, neraca perdagangan surplus US$ 200 juta, namun sepanjang periode Januari-Juni 2019, , neraca perdagangan nasional masih mencatatkan defisit mencapai US$ 1,93 miliar dan terbesar sepanjang lima tahun terakhir. Ini tentuya tantangan bagi Presiden Jokowi beserta kabinetnya untuk mengantisipasi efek tularan lebih dalam dari tensi perang dagang terhadapa perekonomian nasional.

Salah satunya yakni memperbaiki neraca dagang dengan beberapa mitra yang selama beberapa tahun ini deficit. Misalnya neraca perdagangan Indonesi-China pada 2018 mencatatkan deficit mencapai USD 18,4 milliar atau naik dari tahun 2017 sebesar USD 12,68 milliar. Sepanjang Januari-Juni 2019, ekspor Indonesia ke China turun menjadi USD 10,34 milliar dari periode yang sama tahun lalu sebesar USD 11,13 milliar. Sementara nilai impor pada periode yang sama meningkat menjadi USD 45,53 milliar, naik drastis dari tahun sebelumnya USD 35,6 miliar. Ini catatan serius untuk memperbaiki neraca perdagangan nasional mengingat China adalah mitra dagang terbesar Indonesia. Salah satu upaya menyikapi perang dagang US-China yakni mendorong produktivitas nasional dengan memperkuat sektor industry manufaktur nasional, memangkas inefisiensi ekonomi yang seringkali menyandera daya saing nasional. Upaya ini tidak hanya mengurangi efek perang dagang tetapi juga menjadi peluang mendorong kinerja perdagangan nasional. Syaratnya kinerja produktivitas industri manufaktur harus digenjot, inefisiensi baik dari sisi birokrasi maupun infrastruktur harus bisa dibenahi.

Baca juga :  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Integritas (7)

Penulis adalah Ekonom Universitas Indonesia

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!