Opini

Rahasia Tak Di Rahasiakan


Dilihat   256

Penulis : Mansur*

Profesor, gelar kehormatan dari praktisi akademis dan karir yang cemerlang di dunia pendidikan sedangkan menurut Undang-undang nomor 14 tahun 2005, pasal 1 ayat 3 profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi. Profesor mempunyai banyak tanggung jawab selain di bidang pendidikan. Mereka juga harus memberikan kontribusi bagi kemajuan peradaban.

Data terakhir jumlah profesor di Indonesia berkisar 4.730 orang (PDDIKTI, 2016). Ada yang mengatakan jumlah itu belum ideal seharusnya satu program studi mempunyai minimal satu profesor. Tapi semestinya yang di permasalahkan bukan masalah jumlahnya profesor. Tapi, kontribusi profesor dalam pengembangan mutu pendidikan di masing-masing universitas di indonesia. Di Indonesia hanya sebagian kecil profesor yang melakukan riset atau penelitian. Di Indonesia, beberapa Profesor menghabiskan waktu dalam ruangan. Mestinya profesor mengembangkan disiplin ilmunya dengan melakukan riset atau penelitian sehingga bisa mendapatkan temuan baru.

Gelar yang di dapatkan malah membuat profesor malas dalam mengembangkan disiplin ilmunya dan tidak produktif lagi dalam kampus karena mereka mempunyai pekerjaan sampingan. Beberapa profesor menyambi menjadi pengusaha atau yang lainnya. Contohnya sering kita jumpai di dunia pendidikan khususnya di perguruan tinggi. Profesor biasanya mendapatkan mata kuliah di Strata satu. Tapi, kuliah tersebut diisi oleh asistennya. Kewajiban profesor tersebut dilalaikan yang tugasnya mendidik akademisi muda. Tanggung jawab utama profesor yakni mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan UU no 14 Tahun 2015 tentangguru dan dosen. Di sisi lain beberapa profesor ada yang anti kritik.

Hal ini menjadi fenomena di dunia pendidikan. Dengan fenomena itu bisa saja profesor beranggapan bahwa dialah yang paling pintar dan tahu segala-galanya. Sehingga proses pembelajaran dalam kelas akan menjadi membosankan. Sebab, metode pembelajaran klasik seperti mengisi ember kosong sehingga mahasiswa hanya pendengar setia. Kontrol pemerintah terhadap kualitas dan kinerja profesor menjadi titik fokus untuk mengukur apakah mereka produktif atau tidak. Pada hal gaji yang di terima sangat tinggi. Sangat di sayangkan sampai saat ini belum pernah saya mendengar ada evaluasi dari pemerintah tentang kinerja profesor di masing-masing universitas baik negeri maupun swasta. Di bandingkan dengan profesor di luar negeri mereka malah semakin produktif dengan melakukan riset atau penelitian tidak tanggung-tanggung mereka berinteraksi dengan alam untuk mendapatkan penemuan baru.

Kerja keras dan konsistensi yang di lakukan profesor di luar negeri menjadi bukti bahwa saat ini kemajuan negara di dunia karena adanya penemuan-penemuan yang bisa memudahkan manusia dalam segala hal baik didunia sains, kedokteran, pendidikan, dan antariksa. Menurut Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir anggaran riset atau penelitian di Indonesia paling buntut di antara negara-negara ASEAN (Post Kota). Anggaran riset semakin kecil dan profesor makin malas, itu menandakan pendidikan kita dalam posisi terpuruk. Di sisi lain ada juga profesor kita yang mampu berbicara banyak seperti BJ Habibie yang menemukan teori keretakan pesawat dan menjadi muslin tercerdas di dunia.

 

Mansur : Alumni Universitas Negeri Makassar (UNM)

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close
Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu