MUZAKKIR DJABIR

Anin!

Anindya Bakrie

Oleh : Muzakkir Djabir*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID-Nama sosok muda ini, yang bernama lengkap Anindya Bakrie sebelumnya kerap saya dapati berseliweran di media (cetak-online) saja, memberitakan soal kiprah atau perspektifnya terkait dengan dunia usaha yang ditekuninya sejak belia serta tentang olahraga renang yang merupakan salah satu olahraga favoritnya, dimana sosok ini menjadi ketua umum di organisasi Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI).

Interaksi atau -pasnya disebut- pertemuan yang relatif intens di kegiatan atau forum yang dihelat Kadin Indonesia, saya sebagai peserta dan pendatang baru sering mendapatinya dan melihatnya dari jauh, sesekali bertegur sapa tentunya. Anin merupakan salah satu tokoh penting di organisasi pengusaha tersebut, menjabat sebagai Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Organisasi, Keanggotaan dan Pemberdayaan Daerah, sama dengan mentor saya di Kadin Indonesia, yakni; Andi Rukman Nurdin (ARN) yang juga salah seorang WKU, membidangi koordinasi wilayah timur Indonesia.

Pekan kemarin, bertempat di kantornya yang megah, Bakrie Tower dibilangan Kuningan, kami kembali bersua dan ngobrol lebih dekat. Dengan senyum khasnya, Anin menghampiri kami yang lebih dahulu menunggunya di ruang meeting, sebelumnyanya dia juga menjumpai koleganya yang lain, obrolan kami tak jauh dari soal dunia bisnis, isu ekonomi sembari diselipkan guyon dan rumor politik kekinian. Perbincangan kami bertiga disela dan terhenti beberapa kali karena dering telepon yang masuk ke gawainya.

Baca juga :  Dari Reformasi Menuju Transformasi

Pertemuan yang terbilang singkat ini memberikan banyak kesan dalam benak saya terkait personality seorang Anin. Pertama, meski dilahirkan dari keluarga top konglomerat di republik ini, sosoknya nampak egaliter, sederhana, terbuka dan rendah hati, jauh dari kesan sombong. Terbukti kehidupan kesehariannya jauh dari isu atau gosip negatif. Kedua, cerdas dan tenang, penguasaannya pada isu yang dibicarakan sangat kuat, coba cek youtube dimana Anin menjadi narasumber pada acara seminar atau sejenisnya baik di dalam negeri maupun forum internasional, gesture, intonasi, diksi maupun alur pikirannya menjelaskan tingkat kecerdasannya, hal yang lumrah karena Anin dibekali dengan pendidikan terbaik, setelah menamatkan pendidikannya di Pangudi Luhur, meneruskan sekolah di Phillips Academy kemudian kuliah Teknik Kimia di Nothwestern University dan tingkat master di Stanford Graduate School of Business Amerika Serikat. Setamatnya dari kuliah sempat malang melintang bekerja di korporasi internasional. Dan pada akhirnya dipanggil balik ke Indonesia oleh ayahnya, Aburizal Bakrie (ARB) untuk mengendalikan dan membesarkan imperium bisnis keluarga Bakrie yang kala itu sedang menghadapi tantangan yang sangat berat.

Baca juga :  Perawatan Integritas (2)

Anin nampaknya diharapkan menjadi representatif keluarga besar Bakrie dalam konteks bisnis maupun sosial kemasyarakatan. Sikapnya sangat tenang dan mau mendengarkan lawan bicaranya. Ketiga, networking luas, pribadinya yang luwes dan terbuka memungkinkan dirinya memiliki jaringan yang luas baik di dalam negeri, terlebih di luar negeri. Dikantornya, terpampang pose dirinya dengan banyak tokoh dan pemimpin dunia, termasuk para pembesar di republik ini. Keempat, pekerja keras, keberhasilannya di dunia usaha, tak sekedar mendompleng nama besar Bakrie, bahwa dia berasal dari trah Bakrie hal itu tak dapat dipungkiri, tetapi orang juga tak bisa menafikan kemampuan dan kedisiplinan seorang Anin yang membangun dan membesarkan bisnisnya.

Republik yang besar dan kaya ini memiliki masa depan yang menjanjikan, banyak tokoh-tokoh muda-nya yang energik, visioner dengan portofolio yang tak diragukan, termasuk Anin tentunya. Bagi saya, sosok Anin memiliki semua prasyarat untuk berkontribusi atau mengambil peran secara lebih signifikan kepada bangsa ini, bukan berarti kontribusinya kepada negara di sektor dunia usaha sekarang ini tidak besar. Maknanya, ruang pengabdiannya yang diperluas. Anin sosok yang cerdas, rupawan, memiliki visi, pengalaman, jaringan luas dan telah selesai dengan dirinya sendiri, point terakhir ini yang membuat banyak figur-figur muda potensial ‘layu’ karena terjerat kasus korupsi, memperkaya diri dengan memanfaatkan posisi politiknya, saya pikir, Anin tidak berorientasi kesana, bisa lebih fokus mengabdi kepada masyarakat dan negara. Republik ini tentu akan lebih berbahagia dengan tampilnya banyak anak muda dalam kancah kehidupan berbangsa dan bernegara. Anak-anak muda yang berprestasi di bidangnya, tentu sangat menarik menyaksikan mereka berlomba menunjukkan karya, mengartikulasikan gagasan-gagasan mereka dalam memandu negara ini menjadi bangsa yang modern, maju dan makmur.

Baca juga :  Ada Apa Dengan Pembangunisme?

Menurut pandangan saya, Anin harus memulai memikirkan bagaimana meluaskan spektrum geraknya, dia harus memancarkan frekuensi pikiran-pikirannya kepada khalayak luas di republik ini, harus lebih intens tampil ke publik untuk menawarkan ‘gerakan’ tentang bagaimana memajukan bangsa ini. Anak muda selalu menjadi agen of social change dilingkungannya, harus mampu menyelami suara nurani masyarakat dengan berinteraksi secara langsung dengan mereka, menyambanginya di pelosok-pelosok nusantara. Anak muda tak boleh berada di menara gading. Kita menanti kiprah besar Anin di masa mendatang. Wallahu ‘alam bishhawab.

 

Muzakkir Djabir. Pengurus Kadin Indonesia, Bidang Koordinasi Wilayah Timur.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!