MUZAKKIR DJABIR

Gundala; Patriot dan Satire Politik

Oleh : Muzakkir Djabir*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID-Letupan protes dari kaum buruh di pabrik tua yang nampak kumuh menjadi latar pembuka film bergenre action ini. Protes kaum marginal atas ketidakadilan tuan pemodal pemilik pabrik, mereka menuntut karena merasa tenaga mereka diupah tak sebanding. Gerakan protes yang diorganisir oleh ayah Sancaka berujung maut, seseorang dari rekan buruh berkhianat, bersekongkol dengan pemilik pabrik dan lalu menikam ayah Sancaka, rekannya sendiri. Getir kehidupan mulai menerjang keluarga kecil ini, Sancaka piatu, tak ada lagi sosok ayah yang menghidupi dirinya dan ibunya. Sancaka kecil kemudian menjadi yatim piatu karena ibunya yang merantau untuk mencari sesuap nasi tak kunjung kembali hingga Sancaka menginjak usia dewasa.

Seorang diri, anak kecil mengarungi kehidupan yang keras, tidur berpindah, mencari makan dengan menjadi buruh kasar mesti harus rebutan dengan anak-anak lainnya yang senasib sebagai orang marginal dan tak berpunya. Kehidupan yang dijalani Sancaka sungguh keras, tetapi hal itu mengajari sekaligus menempahnya menjadi sosok ‘petarung’. Takdir nampaknya menuntun Sancaka menjadi seorang ‘pahlawan’ suatu waktu kelak. Tatkala kecil saat menangisi kepergian ayahnya yang dibunuh kawannya di pabrik tuan pemodal, dalam kesedihan berbaur marah yang memuncak, Sancaka kecil disambar petir, dan peristiwa itu memgandakan kekuatannya. Sancaka adalah kekuatan ‘putih’.

Baca juga :  Mewujudkan Rekonsiliasi Nasional!

Pada alur cerita yang lain, dikisahkan sosok Pengkor, seorang anak yang berasal dari keluarga yang mapan, tapi karena fitnah, ayahnya dibunuh, lalu kekayaannya dikuasai pamannya sendiri, Pengkor kecil pun hampir merenggang nyawa karena rumahnya dibakar, beruntung dia selamat meski sekujur tubuhnya mengalami luka bakar, wajah, tangan dan kakinya jadi cacat. Pengkor kecil juga jadi yatim piatu, lalu pamannya menitipkan di panti asuhan yang kejam dengan harapan Pengkor kecil akan binasa.

Di panti asuhan yang sadis tersebut, anak-anak yatim di eksploitasi dan jika tidak taat pada pengasuhnya (tepatnya;preman), anak-anak ini akan disiksa bahkan di bunuh. Disinilah, jiwa perlawanan Pengkor berkobar, dia mengorganisir kawan-kawan yatimnya melakukan perlawanan dan membunuh para pengasuhnya yang jahat. Sejak itu, Pengkor menjadi tokoh yang disegani kawan-kawannya, dia hidupi dari kekayaan mendiang ayahnya yang berhasil dia rebut kembali dari pamannya dan terus membina sahabatnya ini, kelompok ini menjelma menjadi kelompok yang berpengaruh dan berada di profesi yang beragam. Kelompok Pengkor bahkan mampu mengatur atau mengintervensi kekuatan politik, politisi di parlemen bertekuk lutut pada sosok Pengkor.

Gundala merupakan film yang bermaksud menokohkan sosok ‘patriot’ atau pahlawan cita rasa Indonesia, tokoh pejuang kebenaran yang merepresentasikan cerita genuine rakyat Nusantara, menawarkan alternatif sekaligus melawan hegemoni sosok pahlawan seperti Batman, Superman dan lain sebagainya yang di produksi di dunia Barat. Gundala kembali menyemarakan dunia perfilman nasional, film yang berbobot dan sarat pesan moral. Film in mengirimkan pesan antara lain; Pertama, setiap individu harus mau mengambil peran dalam memerangi kejahatan, seberat apapun resikonya, kejahatan tak boleh dibiarkan, setiap individu mesti memompakan spirit berkorban demi kepentingan masyarakat dan negara. Kedua, etos juang, setiap kita dalam kehidupan ini, akan selalu menghadapi problem, menjalani tidak saja suka tapi juga duka, tidak saja kesenangan tapi juga kesulitan, kita harus survive menjalaninya sembari tetap berbuat kebaikan bagi sesama. Ketiga, film ini merupakan satire atau kritik terhadap kehidupan politik dan politisi di Indonesia, institusi politik dan politisi banyak yang memposisikan diri sebagai ‘anak buah’ dari para pemodal, menyuarakan kepentingan bos-nya dibandingkan memperjuangkan maslahat bagi rakyat dan negara, seperti sosok Pengkor yang menjadi bos dari banyak politisi yang tunduk karena dicukonginya.

Baca juga :  PDI Perjuangan ; Pragmatisme versus Ideologis

Gundala merupakan potret kehidupan manusia, narasi tentang kebaikan melawan kebatilan, dan pada asa yang penuh derita, kebaikan akan selalu tegak menjadi pemenang. Film ini, memberikan hikmah bahwa tiap individu harus berani tampil mengambil tanggung jawab ‘menerangi’ kegelapan yang membekap kehidupan manusia, apa pun resikonya. Sancaka adalah simbol figur yang berani mengambil resiko untuk menegakkan kebenaran meski mempertaruhkan hidupnya dalam menghadapi ‘kegelapan’ yang didedahkan oleh Pengkor, simbol kejahatan. Over all, film yang disutradarai oleh Joko Anwar ini menarik, tak kalah dengan film Hollywood. aktor-aktris kawakan yang membintangi Gundala semakin memberikan ‘warna’ dan karakter pembeda dibandingkan film-film produksi Indonesia lainnya, sosok seperti Abymana Aryasatya, Bront Palarae, Tara Basro, Ario Bayu, Rio Dewanto, Marissa Anita, Muzakki Ramadhan, Cecep Arif Rahman, Lukman Sardi menegaskan kualitas film ini. Gundala galibnya adalah komik karya Harya Suryaminata yang diangkat ke layar lebar oleh Jagat Sinema Bumilangit, Gundala merupakan pembuka dari sekuel berikutnya. Dari epic yang dibaca pada ending film ini, kelanjutan dari cerita di film mendatang semakin seru dan mendebarkan. Film ini layak untuk jadi tontonan keluarga, jadikan film nasional sebagai tuan rumah di negeri sendiri.

Baca juga :  Andai Indonesia Tanpa Pancasila

Bogor-Serpong
Ditulis di atas gerbong KA

Muzakkir Djabir, Penikmat Film

 

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!