MUZAKKIR DJABIR

Membaca Manuver Politik Paloh

Nasdem sedang membaca, memformulasi, mengonsolidasikan serta memainkan strategi untuk kontestasi pileg maupun pilpres 2024.

Paloh dan Anies

Oleh : Muzakkir Djabir*

POTRET, EDUNEWS.ID-Makan siang Surya Paloh dengan Gubernur Anies Baswedan di Gondangdia dan saat bersamaan di Teuku Umar, Prabowo dijamu Megawati dengan nasi goreng racikannya. Komunikasi bos Metro TV ini berlanjut dengan mengundang Anies ke rumahnya beberapa hari pasca pertemuan Gondangdia. Manuver Paloh melaju dengan menyambangi kantor DPP PKS, partai yang sedari awal menyatakan sikap untuk mengambil peran oposisi. Saya yakin, manuver politik ini akan terus berlangsung dengan tokoh atau pemimpin politik lainnya. Seperti apa membaca gerak politik Paloh ini?.

Tak dapat dipungkiri bahwa sikap dan gesture politik yang diekspresikan Paloh merupakan ‘penanda’ akan kekecewaannya terhadap komposisi serta ploting kabinet yang disusun Presiden Jokowi. Kekecewaannya didasari oleh; Pertama, Jokowi tidak memposisikan seorang Paloh layaknya sebagai ‘tokoh’ senior yang dimintai pandangan dalam penyusunan kabinetnya, dibeberapa kesempatan Paloh mengungkapkan ke media bahwa untuk ‘jatah’ Nasdem pun sebagai partai pengusung, dia tidak mengetahui. Nampak Jokowi lebih mengistimewakan Megawati, padahal Paloh merasa juga punya kontribusi yang tidak kecil dalam memenangkan Jokowi-Ma’ruf. Wajar jika sekarang hubungan Mega-Paloh sedang renggang bahkan akan kian panas-dingin hingga kontestasi pilpres di 2024.

Kedua, Paloh merasa harapannya untuk mendapatkan porsi kursi menteri serta pos-pos yang diinginkan tidak sepenuhnya diakomodir oleh Presiden Jokowi, termasuk bergabungnya Gerindra ke dalam pemerintahan yang otomatis mengurangi porsi kursi menteri dari partai-partai koalisi lainnya. Masuknya Gerindra ke dalam pemerintahan juga dinilai tidak sehat bagi pembangunan demokrasi Indonesia ke depan karena tidak optimalnya check and balances akibat tiadanya oposisi yang signifikan. Ketiga, Paloh ingin menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu tokoh kunci dalam politik nasional, sehingga bargainingnya juga tinggi dan olehnya itu elit-elit politik harus menghitungnya sebagai simpul kekuatan politik utama.

Baca juga :  Ada Apa Dengan Pembangunisme?

Lanskap Politik 2024?

Manuver yang dilakukan oleh Paloh tidak bisa dianggap remeh oleh Jokowi maupun kekuatan politik lainnya, Paloh merupakan politisi gaek yang kaya pengalaman. Strategi dan insting politiknya tajam. Komunikasi politik Paloh sangat mumpuni dan mampu merangkul serta mengonsolidasikan kekuatan politik yang berbeda sekali pun. Gerak lincah Ketum Nasdem tersebut secara berlahan akan menyebabkan pergeseran lanskap atau konfigurasi politik pasca penyusunan formasi kabinet. Selain faktor kekecewaan, dorongan untuk membangun poros politik baru menjadi variabel bagi Paloh melakukan komunikasi politik.

Nasdem sedang membaca, memformulasi, mengonsolidasikan serta memainkan strategi untuk kontestasi pileg maupun pilpres 2024. Paloh cerdas menangkap ruang psikologis partai-partai pengusung kandidat capres 02 yang gamang pasca ditinggal Gerindra. PKS, PAN dan Demokrat sebagai partai pengusung Prabowo-Sandi merasa ditelikung sehingga kehadiran Paloh akan mengembalikan spirit bahkan kepercayaan diri parpol tersebut untuk mengartikulasikan sikap kritis terhadap pemerintahan Jokowi-Ma’ruf. Tentu terlalu dini menyimpulkan bahwa Nasdem, PKS, Demokrat dan PAN akan berkoalisi pada pilpres 2024 mendatang, meskipun juga tidak mustahil akan terwujud sebab diluar PKS, irisan platform maupun ideologi parpol tersebut juga tampak tak terlalu kontras untuk tidak mengatakan berbeda. Pastinya, yang paling realistis untuk mereka sepakati dan mainkan adalah sikap oposisional terhadap pemerintahan.

Baca juga :  Intoleransi = Iliterasi

Hemat penulis, konfigurasi kekuatan politik pada pilpres 2024 mendatang, kemungkinan akan terbelah menjadi Tiga, yakni; (1). PDIP dan Gerindra. (2). Golkar dan PKB (3). Nasdem, PKS dan PAN. Sedangkan PPP relatif ‘nyaman’ bergabung di konfigurasi nomor 3. Partai Demokrat cenderung diantara nomor 2 atau 3, tergantung pada seberapa besar penerimaan parpol tersebut dalam memposisikan sosok AHY sebagai ‘putra mahkota’ partai Demokrat. Konfigurasi parpol ini akan bertambah dengan parpol yang tidak lolos parliamentary threshold (PT) seperti PSI, PKPI, Perindo, Hanura dan Partai Baru besutan politisi eks PKS yakni, Partai Gelora.

Anies Capres 2024?

Anies Baswedan merupakan salah satu figur yang digadang-gadang akan bertarung pada pilpres 2024, selain nama; Puan Maharani, Prabowo, Sandi, Khofifah, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Tito Karnavian dan Sri Mulyani. Posisi Anies sebagai Gubernur DKI, selalu dalam sorotan pemberitaan sehingga secara tidak langsung mengerek populeritasnya. Kecerdasan dan kemampuan narasinya sangat mumpuni, dan jangan lupa dia juga ‘good looking’. Personanya sebagai pemimpin cukup komplit sehingga wajar jika Anies masuk radar banyak partai untuk diusung sebagai Capres, termasuk Paloh tentunya. Relasi Anies dengan Paloh aka Nasdem bak gayung bersambut, selain karena kedekatan hubungan personal, Anies merupakan deklarator ormas Nasdem sebelum bermetamorfosis menjadi parpol seperti sekarang. Anies tak punya parpol, kekurangan ini bisa di isi oleh Nasdem. Dan Nasdem tak punya figur kuat untuk diusung sebagai Capres, posisi itu bisa di isi Anies.

Tentu, masih sangat prematur untuk menyimpulkan bahwa manuver Paloh terkait dengan kontestasi pilpres, bisa jadi Paloh sedang memainkan strategi untuk mengukur seberapa besar penerimaan publik terhadap figur Anies Baswedan serta merekam tokoh-tokoh lain yang memiliki kans tampil sebagai Capres-Cawapres. Juga dimaksudkan untuk terus menjaga positioning di mata Presiden Jokowi. Terlepas dari deskripsi di atas. Manuver Paloh menunjukkan kelasnya sebagai politisi cerdas. Paloh mendapatkan keuntungan, antara lain: 1. Eksistensinya sebagai politisi senior akan terus terjaga bahkan menguat. 2. Nasdem akan menjadi pembicara khalayak ramai, olehnya itu akan semakin dikenal publik. 3. Secara taktis, jika performa pemerintahan Jokowi-Ma’ruf kurang optimal, Nasdem bisa berkelit bahkan keluar dari koalisi dengan menarik seluruh kadernya di kabinet. Anggota kabinet yang memiliki kans maju sebagai Capres-Cawapres akan mengalami demoralisasi karena dinilai kurang cakap.

Baca juga :  Menakar 'Perkawinan' Sulsel Baru dan Spirit Restorasi di Pilgub Sulsel

Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf sedang menghadapi problematika yang kompleks dan krusial, beban ekonomi nasional kian berat. Resesi sedang di depan mata. Paloh bisa jadi king maker seperti Megawati, Anies Baswedan bisa dia klaim sebagai petugas partai Nasdem yang menjadi Presiden jika benar-benar Paloh akan mencalonkan Anies Baswedan dan terpilih pada pilpres 2024. Tetapi sebelum sampai ke pilpres 2024, terlebih dahulu Anies harus lolos dari ujian soal kisruh anggaran yang sedang dihadapinya. Lawan-lawan politiknya sedang mencari amunisi kesalahan Anies dan akan terus menyerangnya hingga mematikannya secara politik sehingga kans Anies Baswedan maju sebagai Capres juga redup. Wallahu ‘alam bishawwab.

*Penulis adalah Direktur Eksekutif iDea Strategic Indonesia

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!