Ekonomi

Lingkar Studi Efokus : Perekonomian Nasional Tidak Menggembirakan

Direktur Lingkar Studi Efokus, Rizal E Halim

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID- Lingkar Studi Efokus merilis, jika sepanjang 2015 hingga Q3 2018, perekonomian nasional masih belum menunjukkan kinerja terbaiknya. Sejumlah indikator memperlihatkan angka angka yang jauh dari harapan.

Direktur Lingkar Studi Efokus, Rizal E Halim mengungkapkan sejumlah indikator misalnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga berada di bawah pertumbuhan nasional dan tren sebelum 2015 yang berada di atas 6%. Padahal konsumsi rumah tangga selama ini menjadi engine pertumbuhan dan mendominasi 56% dari struktur PDB. Indikator lainnya defisit transaksi berjalan yang terus meradang mencapai USD 22,4 miliar sepanjang Q1- Q3 2018.

“Prediksi saya neraca transaksi berjalan 2018 akan berada di atas USD 30 miliar atau melanjutkan tren defisit lebar,” kata Rizal E Halim di Jakarta, Ahad (16/12/2018).

Baca juga :  CPNS Kemenkumham, ini Posisi Favorit Pelamar

Rizal menuturkan, indikator lainnya adalah investasi. Tahun 2018 memang terjadi tren penurunan bagi investasi.

“Pada Kuartal I sebesar Rp 185,3 triliun, Kuartal II sebesar RP 176,3 triliun (turun sebesar 4,9%), dan Kuartal III sebesar Rp 173,8 triliun (turun sebesar 1,6%),” tutur Rizal.

Dengan demikian, lanjut Dosen Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini, dari target investasi sebesar Rp 765 triliun pada 2018, sampai dengan Kuartal III baru mencapai sebesar 70%.

Ini menjadi tren penurunan yang pertama kali sejak 2013, di mana tahun-tahun sebelumnya cenderung mengalami peningkatan atau pertumbuhan meskipun berjalan lambat.

“Bahkan nilai investasi Kuartal III menjadi penurunan pada level terendah dalam 3,5 tahun terakhir,” bebernya.

Baca juga :  Kemenkop dan UKM Kembangkan Industri Kentang Lewat Koperasi

Rizal juga mengungkapkan beberapa hal yang perlu dilakukan dalam jangka pendek khususnya menjelang Pemilu 2019.

“Pertama, menjaga daya beli masyarakat. Kita bersyukur bahwa secara historis menjelang pemilu terjadi pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tinggi. Semoga ini bisa terwujud menjelang 2019,” urainya.

Kedua, mengelola pembelanjaan pemerintah dengan lebih efisien sehingga tekanan terhadap defisit APBN bisa terjaga.

“Ketiga, meningkatkan program program bagi kelompok masyarakar miskin dan rentan miskin,” tambah Rizal.

Keempat, menjaga iklim bisnis sehingga produksi tetap tumbuh, industri membaik dan income pekerja bisa lebih terjaga.

“Terakhir, mengurangi kebijakan kebijkan kontra profuktif seperti impor, DNI, dan sebagainya, pungkas Rizal.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!