Buku

Panggung Kekuasaan Gelanggang Hiburan

Oleh: Sampean*

RESENSI, EDUNEWS.ID – Lakon para aktor kekuasaan, tontonan paling menjenuhkan bagi masyarakat. alur cerita yang diperankan penuh dengan kepura-puraan. Segala tindak dan tutur merupakan skenario intrik politik memenangkan kekuasaan.

Maka segala cara pun ditempuh memenangkan pertarungan. Di balik borok kenyataan di panggung kekuasaan ditutupi dengan politik pencitraan. Realitas politik inilah yang direkam oleh Ahmad Sahide dalam bukunya Kekuasaan dan Moralitas sebagai catatan berserak tentang bangsa rentang tahun 2010-2011.

Buku ini jejak keriuhan di kisaran istana, yang tokoh utamanya diperankan oleh Presiden Republik Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Penulis sangat telaten menampilkan sosok SBY yang tak berdaya menghadapi hempasan kasus Century yang tertuju kepadanya. Dari kasus Century Polemik terus berkecamuk, pencitraan pun tak terbendung. Sosok SBY dihadirkan sebagai sosok yang lemah, lembut, gemulai, dan cengeng. Karakter tersebut hadir pada tulisan pertama Demokrasi Setengah Hati.

Sebagaimana SBY curhat pada pembukaan Para menterinya dan gubernur Indonesia. Presiden Resah dengan aksi yang akhir-akhir ini menyoroti sikap dan kebijakan politiknya. Terutama yang terkait dengan Bank Century. Presiden SBY resah dengan para demonstran yang membawa kerbau sebagai bahwa beliau sosok yang berbadan besar, malas, bodoh, seperti kerbau (hal.2).

Tanggapan SBY terhadap aksi para demonstran justru meneguhkan bahwa dirinya adalah sosok citra dari kerbau karena kebijakan politiknya. Keberpihakan SBY dengan suara Publik seolah ditepis dengan membiarkan pengkriminalan terhadap Pimpinan KPK Chandra M. Hamsa dan Bibid Samad Riyanto. Dan, Sebaliknya, SBY terkesan melindungi Para koruptor, Juga memfasilitasi para koruptor di penjara (hal.8).

Baca juga :  WOW!!! Ternyata Sebagian Isi Kamus Oxford Ditulis Seorang Pembunuh

Dari catatan ini, Masyarakat bisa membuka lembaran sejarah kelam pemerintahan SBY pada periode 2010-2011. SBY dilingkupi dengan berbagai kasus korupsi baik ditujukan kepadanya, mengarah kepada menterinya, dan partai pendukungnya. Jeruji kasus korupsi melingkupinya sehingga Anak-anak rahim partainya satu persatu memasuki sangkar besi bermula dari Andi Nurpati, Nazaruddin, Angelina Sondak, Anas Urbaningrum, dan Andi Mallarangen. Dan kasus korupsi yang tak kalah mentereng di masa pak SBY adalah kasus Gayus Tambunan. Kasus korupsi ini menyandera ketua umum partai Golkar Aburizal Bakri sebagai penggelap pajak.

Dari dua kasus ini cukup terlihat dua kekuatan besar saling menyandera satu sama lain. tarik ulur kepentingan penyelamatan partai dan aktor utamanya sangat nampak jelas. Kelihaian permainan Aburizal Bakri  dihadang isu reshuffle kabinet oleh SBY. Dari seratus hari pemerintahan SBY telah menggulirkan wacana reshuffle kabinet kurang lebih setahun kemudian keputusan reshuffle kabinet direalisasikan pada tanggal 18 Oktober 2011.

Dari Catatan dalam buku ini mengungkapkan reshuffle kabinet SBY bahwa …perombakan kabinet tidak lagi hak prerogatif Presiden. Maka, kabinet SBY ke depan akan tetap kabinet yang bersatu tetapi bukan kabinet kerja sebab SBY lebih mengutamakan persatuan dalam penyusunan dalam menyusun kabinetnya dari pada kerja…. kerja yang diinginkan oleh SBY hanya bahasa politik…. (hal.150).

Baca juga :  Harga Sebuah Kehormatan Bagi Lelaki Bugis

Dari 42 catatan esai 36 di antaranya catatan kelam pemerintahan SBY. Buku ini cukup runtut merekam peristiwa politik di istana dalam sepekan. Penulis cukup sinis dengan rekam jejak pemerintahan SBY yang tersandera kasus korupsi yang menimpanya. Kepentingan rakyat kecil terabaikan. Dalam buku ini tak ada menceritakan keberpihakan SBY kepada rakyatnya.

SBY lebih sibuk mencitrakan dirinya sebagai pemimpin yang bijaksana, lemah, lembut, empati, dan gemulai. Karakter pemimpin SBY tidak menampilkan sikap militer dalam dirinya akibat catatan kelam di sekitarnya. Dari sini kita tahu bahwa periode perjalanan pemerintahan SBY, periode perjalanan kasus korupsi besar di negeri ini. Bermula dari Kasus Gayus Tambunan, Kasus Century, kasus Proyek Hambalang saling berantai satu sama lain namun tak ada yang tuntas. Buku ini bisa dijadikan acuan rentetan peristiwa korupsi yang sudah terpendam untuk diungkap kembali.

Sementara, 4 catatan esai yang lain sebagai catatan hiburan tentang budaya dan olahraga; modernisasi dan tradisi perjodohan orang Bugis-Makassar, novelis pembohong yang baik, Messi; Nama Besar dan kekecewaan, catatan bedah buku puisi. Empat catatan ini, hanya catatan penghibur pembaca dari kejenuhan penyimpangan kekuasaan.

Berangkat dari buku, sikap politik penulis terhadap pemerintahan SBY hanya sebagai pengamat yang mengikuti pemberitaan media. Terlihat jelas dari referensi media digunakan yaitu media cetak kompas  yang nampan di esainya. Jika dilihat dari kumpulan esai sebelumnya Kebebasan Dan Moralitas pada buku kumpulan esainya kali ini Kekuasaan Dan Moralitas sangat mencolok.

Baca juga :  Ingin Beasiswa S2 di Selandia Baru ? Nih Infonya

Kebebasan dan moralitas lebih mengarah pada kritik sosial, dan membakar semangat pembaca. Sementara, dalam buku ini lebih bersikap analitik, kritis, dan sinis terhadap kekuasaan di kisaran panggung istana. Kemuakan yang dirasakan penulis hanya serpihan terkecil masyarakat bangsa ini.

Namun, suara kecil ini cukup mewakili untuk merawat ingatan masyarakat terhadap pemerintahan kelam SBY-Budiono. Dalam buku ini sering menyinggung karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa pelupa. Maka buku ini, yang akan menjaga dan merawat ingatan bangsa Indonesia. Jika ini adalah catatan yang berserak tentang bangsa, kesalahan pengetikan pun berserak di beberapa halaman seperti halaman 9 paragraf pertama kalimat terakhir; “retorika politk” harusnya “politik”.

Kesalahan yang sama pada halaman; 21 “positif” paragraf pertama, 128 “hala dan haram paragraf dua, dan paling banyak kesalahan pengetikan terdapat pada reformasi jilid dua hampir setiap halamannya terjadi kesalahan pengetikan mulai dari halaman 87-89. Tentunya kesalahan ini akan mengganggu para pembaca di tengah asyiknya membaca. Kesalahan ini akan mempengaruhi pandangan pembaca terhadap suatu tulisan atau rangkaian kalimatnya. Sehingga, ke depannya penulis dan editornya lebih berhati-hati lagi dalam mempersiapkan naskah sebelum naik cetak.

Meskipun, banyak kesalahan pengetikan sekiranya, buku ini akan menjadi manuskrip peristiwa sejarah kebangsaan khususnya pada peristiwa politik di panggung kekuasaan.

Sampean. Alumni Sosiologi Universitas Negeri Makassar.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!