Buku

Puisi dan Penyair yang Tak Sempat Tenar

Ahmad Sahide bisa dikategorikan sebagai seorang sastrawan realis. Beliau menggambarkan kenyataan apa adanya, ruang dan tempat seolah menjadi nyata. Dalam karya ini kekuatan deskriptifnya sekuat sastrawan besar Rusia Leo Tolstoy dalam karyanya Kazak dan Penyerbuan.

Beliau berusaha mengarahkan pembaca untuk menikmati perjalanan setiap tokoh dalam melukis sketsa kehidupan. Serpihan-serpihan masa depan disatukan dalam kisah persahabatan, cinta, karir dan tanggung jawab. Kesan inilah yang terkuak dalam judul novel Hilang ini.

Arkie merajut simpul persahabatan untuk meneguhkan peradaban di bawah komunitas. Arkie sebagai inisiator pembuat sketsa kehidupan pernah gagal menyatukan sahabat-sahabatnya dalam komunitas. Kini Arkie kembali merajuk asa yang sama dengan meyakinkan sahabat-sahabatnya bahwa tindakan yang ia lakukan demi masa depan mereka. Cerita ini diambil dari lakon Arkie dengan Gondes (Hal. 5-7).

Pada hakikatnya, Sang penulis (Ahmad Sahide) ingin menyampaikan kisah persahabatan yang apik di setiap tokohnya. Persahabatan yang solid antara Arkie dan Fawwad akhirnya merintis masa depan dengan komunitas bernama Komunitas Menulis Bersama (KMB) yang berorientasi pada pembiasaan menulis (hal. 64-65).

Baca juga :  Mendaras Natisha, Mengaji Parakang

Persahabatan mereka ikat dengan kekuatan pena  dibalut cinta bersegi-segi. Cinta yang dirangkai oleh penulis adalah cinta pada umumnya yaitu cinta muda-mudi terbakar asmara. Cinta dibangun atas dasar suka dan mengagumi.

Pembaca akan menikmati alur cerita cinta tersebut ketika pembaca pernah terlarut dalam kisruh percintaan seperti yang dijalani Arkie, fawwad, Herman, dan Tokoh-tokoh yang lain.

Arkie yang dirundung persoalan cinta karena menjalin kisah asmara jarak jauh terkadang terbakar cemburu. Hingga pada akhirnya, merelakan adalah cara terbaik untuk meninggalkan dan ditinggalkan dalam kisah percintaannya.

Walau, Arkie menyunting yang baru. Kenangan masa lalu sulit terganti. Kedatangan yang baru belum bisa dipertuan oleh Hati Arkie. Hanya puisi yang mampu menimpal luka Arkie dan hanya puisi yang mampu memahami perasaannya.

Terlihat jelas dari puisinya yang berjudul “Tampung Air Segi Empat”  tentunya puisi itu akan dibawa ke KMB (Hal. 196-197). Begitupun dengan Fawwad cinta yang menggebu perlahan meninggalkannya. Dari seorang yang tak romantik menjadi sang penyair dadakan. Fawwad harus tertatih mengikhlaskan sesuatu yang pernah ada dalam hidupnya, yang kini kembali menjadi tiada (hal. 177).

Baca juga :  Hebat, 9 Siswa SD di Yogya Ini Raih Nilai UN Sempurna

Deru kehidupan yang mereka jalani kini punya kesamaan. Kisah cinta mereka semai dilukis dengan puisi. Altar KMB berubah menjadi panggung para penyair. Deru syair memantul di setiap sudut ruangan KMB.

Di situlah letak kekuatan pena yang tak mudah untuk direngkuh. “Butuh perjuangan, ketekunan dan komitmen” kata Fawwad (hal. 59). Pada akhirnya keseriusan mereka dalam menjajaki kepenulisan di komunitas menuai hasil. Mereka mulai menghasilkan karya sederhana nan menggugah imajinasi pembaca di setiap syair puisi yang ditulis.

Tak ayal puisi menjadi penyambung lidah kematian Arkie pada tanggal 6 April. Puisi “hilang” yang tak sempat dibawa ke KBM ditemukan oleh ibunya tergeletak di dalam kamar Arkie. Mungkin puisi itu adalah pesan keabadian dan kesimpulan akhir sketsa kehidupan Arkie. “Hilang adalah ada//ketika kita hilang/kita akan bertemu hilang///” dari petikan puisi Arkie sebelum kematiannya (hal. 294).”

Baca juga :  Ini Penyebab Yogyakarta Langganan Raih Nilai Kejujuran UN Tertinggi

Buah kehidupan ditelorkan dalam komunitas dan karya mengabdi dalam sebuah judul Novel “Hilang”. Novel Hilang mengumbar sisi kehidupan Arki, Fawwad dan sahabat-sahabatnya. Kini sosok Arkie menjadi Seorang penyair yang tak sempat tenar.

Cerita novel ini diangkat dari kisah nyata sesuai pendakuan penulis di bagian pengantar. Tentunya, dalam karya ini tidak semuanya kenyataan. Ada rona bahasa yang menjembataninya. Itulah karya sastra. Sisi lain dari karya ini belum cukup menggugah dan memberikan kekuatan kepada pembaca menapaki jejak para tokoh dalam melukis sketsa kehidupan.

Seharusnya perwatakan setiap tokoh mesti diperkuat dan pesan spirit kepenulisan masih perlu diperkuat untuk menginspirasi pembaca. Serta, Polemik kurang bertendens dalam novel ini. Terlepas dari kelemahannya novel ini wajib dibaca oleh semua kalangan sebagai motivasi dalam meneguhkan peradaban teks.

Sampean, Alumni Sosiologi Universitas Negeri Makassar, asal Bulukumba.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!