Buku

Ziarah Cinta Para Pecinta

Para penyair selalu punya caranya sendiri dalam menyampaikan kegelisahan dan pemikiran-pemikirannya. Mirip-mirip dengan para nabi, pertapa atau para sufi. Ada kekhasan tersendiri bagi mereka dalam memaknai hal-hal yang ditemuinya di setiap lorong-lorong kehidupan.

Demikian halnya dengan Tajuddin Noer—Penulis buku ini—dalam melukiskan relung-relung keresahan dan refleksinya. Walaupun beliau tak pernah berharap disebut penyair (amatir ataupun profesional), sebagaimana dikatakan dalam pengantarnya. Tetapi, memang demikianlah laku dari seorang penyair yang sejati, sifat dan sikap altruistiknya—bajik, bijak dan arif—senantiasa hadir di setiap ucap dan lakunya.

Buku Ziarah Cinta karya Tajuddin Noer ini sepertinya ingin menjelaskan lika-liku perjalanan intelektual dan spritual dari beliau. Buku ini menjadi bukti dari serangkaian perjalanan yang telah disusurinya. Puisi-puisinya dalam buku ini merupakan serpihan-serpihan dari serangkaian penghayatan dan permenungannya yang begitu reflektif—baik sebagai seorang bapak rumah tangga, pengusaha maupun sebagai pegiat literasi—dalam memotret fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat. Terutama kejernihan dan kearifannya dalam mengemas laku spritual, sosial dan intelektual manusia dalam diksi ataupun bait-baitnya yang maknawi.

Salah satunya terlihat dalam puisinya yang berjudul “Matinya cinta para pencari Tuhan”. Laku ritus spritual manusia digambarkan dengan amat apik dalam puisi tersebut: Engkau sujud di sajadah darah sesama/Engkau berjalan di atas tulang belulang sesama/Zikirmu adalah tasbih tentang umpatan sesat-menyesatkan/Sorga dikapling oleh kelompokmu saja/Sebab kebenaran engkau pelajari dari generasi yang kehilangan cinta/Jubahmu mengibaskan badai kepada sesama/Rintih dan tangis bahkan nyawa/…Keindahan lantunan Ilahi yang engkau baca/Berhenti di tenggorokan/Pedang sapu jagad engkau kibaskan pada mereka/Yang sesungguhnya setia pada mihrab cinta (hal. 116).

Rasa penghormatannya yang tinggi terhadap jiwa sosial-kemanusiaan juga digambarkan dalam puisinya yang berjudul “Eksploitasi”. Diksi itu tergambar jelas dalam bait terakhir puisi tersebut: Kemiskinan telah menjadi tontonan yang mengasikkan bagi para tiran/Kemiskinan tidak lagi mengasah kecerdasan/Tidak lagi menajamkan kepekaan/Tetapi telah berubah menjadi eksploitasi kemanusiaan (hal. 66).

Baca juga :  Sambut Hari Buku Nasional, Perpusnas Gelar Expo 2016

Puisi ini seakan ingin menggambarkan kepada pembaca akan fenomena abrasi nurani kemanusiaan. Beragam duka lara yang terjadi seolah tak mampu menjadikan nurani tergerak. Nurani tertutup oleh ambisi ketamakan dan eksploitasi. Semacam pembantaian harkat dan martabat manusia dan menyeretnya ke liang kubur kehinaan. Fenomena ini tentu menjadi kedukaan tersendiri bagi penulis. Kedukaan itulah yang barangkali ingin digambarkan dalam bait puisi tersebut.

Barangkali karena latar belakangnya yang pernah lama menggelandang di kehidupan pergerakan mahasiswa, sehingga membawanya untuk menuliskan beberapa larik-larik puisi reflektif tentang dunia pergerakan saat ini. Salah satunya adalah puisinya yang bertajuk “Bergerak Sajalah”. Berikut bunyi bait puisi itu. Aku diam bukan berarti aku tidak peduli lagi/Tetapi karena aku sedang melawan dengan caraku sendiri/Aku tidak ikut dalam pusaran negativisme/Biar sajalah kita saling memerankan lakon menurut versi kita masing-masing/Aku terlalu lemah untuk hidup di tengah makian, cacian dan hardikan/Biarkan saja aku memunguti kerikil dan duri-duri di jalan/Biarkan saja aku menepi di sudut negeri/Karena para kesatria demonstran menggelar huru-hara lukai jiwaku/Di keharibaan ini kutorehkan nada sebagai penghibur pelipur-lara, memupuk asa/Cinta dan sepenggal senyum kuyakin dapat merubah arah sejarah/Dari keterasingan kususun perjuanganku/Pergi sajalah, jangan hiraukan sahaya/Sebab jalanku adalah jalan Abu Dzar/Tertinggal di ujung sepi, di tengah sahara/Kafilah Muhammad telah menunggunya dengan cinta/Bergerak sajalah/Jalanku adalah jalan cinta/Tak terusik oleh hiruk-pikuk dan riuhnya para pengembara (hal. 38).

Fenomena huru-hara dan hiruk-pikuk heroisme demonstrasi mahasiswa memang sempat mengharu-biru menghiasi jalan raya dan kantor-kantor pemerintahan. Disana-sini demonstrasi terjadi, tetapi malangnya demonstrasi itu lebih mirip parade pengrusakan massal. Massa aksi bertindak anarki, merusak apa saja, bahkan tidak sedikit memakan korban tak berdosa. Kerisauan inilah yang menggerakkan si penyair untuk menuangkan pengamatannya dalam puisi “Bergerak sajalah” tersebut.

Baca juga :  Kekuatan Di Balik Autisme

Yang menarik juga adalah kritik kerasnya terhadap perilaku para politisi, beliau menerjemahkannya dalam puisi berjudul “Heroik Cinta di Pentas Politisi”. Lihat sejenak lidah para politisi yang begitu lembut/Tak menyisakan kesan dusta/Lihat perilaku politisi yang begitu elok bagai peragawan/Komat-kamit mereka bagai hembusan hawa sejuk di pagi hari/Kisah yang amat indah/Lihat lendir-lendir yang berantakan/Bermukim di rumah-rumah bordil/Tetapi lihat perangai di ruang-ruang publik/Dipenuhi jubah-jubah agamawan (hal. 76). Diksi reflektif dan kritis dalam puisi tersebut begitu kuat dalam memuntahkan keresahan yang sulit terbendung. Jamak diketahui bahwa perilaku munafik para politisi dan sebahagian kaum birokrat membuat kita marah dan muak. Dari perilaku korupsi hingga gratifikasi seks marak kita dapati. Barangkali karena alasan itulah sehingga menggerakkan sang penyair untuk mengkritiknya lewat bait-bait puisi tersebut.

Buku ini bagi para perindu kesejatian dan perdamaian yang hakiki tentu bisa dijadikan sebagai kitab suci setelah Al-Qur’an dan kitab Hadits, karena buku ini mengandung begitu banyak petunjuk dan ajaran mulia bagi umat manusia. Kini, di kehidupan yang serba modern. Zaman di mana pertikaian sering terjadi, kebencian dan kemurkaan dipelihara, kekerasan dan penindasan ditanamkan, serta kejujuran dan kebenaran selalu diabaikan.

Pada zaman seperti itu, damai adalah kata yang teramat mahal bagi setiap orang, bangsa, dan kelompok. Damai menjadi kata yang terus diperjuangkan dan dipertaruhkan. Setiap usaha untuk menggapainya tak jarang menelan korban harta dan jiwa yang begitu banyak. Hingga kini, betapa jurang pemisah di antara kelas-kelas sosial, suku, agama, ras dan bangsa-bangsa dunia semakin menganga lebar, ditambah lagi dengan sikap intoleransi, dan pupusnya solidaritas sosial semakin membangkitkan sikap egoisme dan individualisme. Konflik yang terjadi akhir-akhir ini semakin membenarkan dakwaan-dakwaan itu semua. Tentu untuk meyelesaikan beragam konflik dan penyakit-penyakit hati dan akal manusia tersebut, maka kehadiran bait-bait syair para perindu dan peziarah cinta tersebut sangatlah dirindukan. Dengan demikian kedamaian, kearifan dan harmoni akan hadir mewarnai kehidupan.

Baca juga :  'Penjualan Buku Meningkat tapi Pendapatan Penulis Menurun'

Sekalipun tema-tema yang disajikan dalam buku ini begitu beragam dan barangkali sudah akrab dengan telinga dan pikiran kita, tetapi ada hal yang khas dari buku ini. Setidaknya buku ini dalam menggambarkan maknanya selalu menggunakan pendekatannya yang sangat reflektif dan kontemplatif. Di situlah salah satu kelebihan dari penulis buku ini, mampu menyajikan beragam masalah dengan bahasa yang cair, komunikatif, dan sangat piawai menempatkan diksi-diksi yang reflektif dalam setiap bait-bait syairnya.

Terakhir sebagaimana pesan dari Muhammad Nur Jabir—Direktur The Rumi Institute—dalam prolog buku ini, bahwa syair yang ada dalam buku ini mesti dibaca dengan cinta, di mana hati sedang dalam kondisi terbuka. Tanpa kondisi keterbukaan kita akan membaca syair-syair tersebut seperti membaca buku biasa, yang mana setiap katanya berlalu begitu saja. Padahal dalam syair “Huruf”, penulis atau penyair mengatakan, “Huruf adalah tanda perkenalan/Huruf adalah titik menyimpan bunyi/Lalu menjadi kata dan kalimat/Agar Dia diketahui”. Maka bagi sesiapa saja yang ingin mengenali hakikat dan kesejatian serta menikmati kedamaian, kearifan dan harmoni. Mari, berziarah ke rumah keabadian—rumah sang peziarah cinta—dengan jiwa dan hati yang terbuka.

M. Yunasri Ridhoh, Mahasiswa UNM dan Peserta Kelas Literasi Paradigma Institute

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!