Puisi

Puisi-Puisi Dian Rahmana Putri

Rohingya Terimakasih

Untukmu Rohingya si manusia perahu 

Apa yang salah darimu? Agamamu? Etnismu? Suku? Warna Kulit? Perbedaan agama? Atau hal lain yang tak bisa disatukan? Tak bisa dimusyawarakan?
Ketika kau tak diakui dinegaramu sendiri
Ketika diskriminasi itu menimpamu
Ketika keberadaanmu tak diakui
Ketika kau dipaksa bekerja tanpa gaji dan
Ketika kau tak bisa mencicipi bangku sekolah
Kau tetap berusaha tegar meski sebenarnya
Air mata itu ingin berteriak mencari keadilan
Kau bertahan sekuat mungkin untuk anak cucumu
Untuk kehidupan yang lebih baik
Meski seringkali ketakutan menghantui menghampiri dan
Menjerumuskanmu dalam mimpi buruk
Saat anak-anakmu ditindas,dibantai
dan kau diusir

Lalu…
Bersembunyi dalam ketidakpastian
Kau tetap bersabar kau tetap kokoh kuat lebih dari batu karang
Kau pergi jauh mengarungi luasnya lautan
Tak pedui lagi panasnya terik matahari ombak dan hujan
Penderitaanmu itu,Semangatmu itu dan Keberanianmu itu
adalah gelombang-gelombang kebangkitan
Terjebak di kapal penuh sesak di laut
Mencari Mencari dan Terus Mencari Tempat Perlindungan
Mencari tempat aman
Hingga kau berlabuh di Aceh
Indonesiaku

Terimakasih Rohingya
Atas banyak pengajaran yang bisa kupetik dari kisahmu
Dari segelintir ujian yang menimpamu
Kau bak inspirator yang merasuk dalam kalbu
semoga menjadi berkah untukmu untuk kita semua
Untuk meraih kejayaan Islam kembali
dan Ridho Ilahi

ALLAHU AKBAR…

ALLAHU AKBAR…

ALLAHU AKBAR !
Aamiin allahumma aamiin

 

 

Kepada Mahasiswa

Kepada pewaris peradaban, yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusia.

Dik, boleh aku berkisah kepadamu?
Tentu bukan kisah 1908 tentang Dr. Soetomo yang telah lampau
Bukan pula kisah lama 1928 tentang sumpah pemuda yang mulai kita lupakan itu
Atau kisah patriotik 1945 tentang proklamasi dan perang kemerdekaan yang kini terasa usang

Baca juga :  Shollu'ala Basuki

Ijinkan saya hanya bertutur kisah tahun 1966 tentang Tritura dan Ampera,Belum terlalu jadul bukan?

Mengertikah engkau makna ceceran darah di jaket kuning Arief Rahman Hakim
Ijinkan pula saya bercerita tentang kemaren sore. Ya, 1998 itu seakan baru kemarin sore.
Tidakkah kalian tahu, betapa banyak senior kalian yang bertumbangan di Semanggi
Berikhtiar membela rakyat, menegakkan reformasi?

Dik…
Bolehkah aku beritahu,
Negeri tidak dicipta untuk lucu-lucuan
sebagaimana stand up comedy yang kalian gandrungi
Indonesia tidak semestinya dikelola dengan cengengesan
Karena ia diperjuangkan dengan sepenuh hati
dengan darah, air mata, jiwa dan raga para pahlawan kita

 

Dik…
Bagaimana kalian tetap gembira menimba ilmu tatkala rakyat kalian menimba lara?
Bagiamana kalian bisa tanpa gundah kuliah, sedang rakyatmu tengah berkalang resah?
Bagiamana kalian bisa tanpa resah kuliah, sedang rakyatmu tengah berkubang gundah?
Sungguh kami tak mengerti, karena kami tak pernah ajarkan itu kepadamu

 

Dik…
Tidakkah engkau tahu….
bahwa negara mensubsidi ongkos kuliahmu?
Tidak bolehkah aku beritahu ….
bahwa rakyatmu lah yang mensubsidi sekolahmu
lewat pajak yang sebagian lalu dikorupsi berjamaah itu
Ya, pajak yang dibayarkan dengan terengah engah, dalam sengal nafas kaum papa..
Dalam duka kaum miskin yang kian terhimpit harga-harga yang melangit….
Dalam rintih yang melirih, karena meraka tidak tahu kemana mesti mengadu(h)

 

Dik…
Apakah jalan terjal kuliah itu membuat idealisme kalian lantas punah?
Apakah teori-teori itu lantas membuat hati kalian menjadi mati?
Apakah peliknya skripsi membuat kalian kelu hati?
Apakah deretan angka-angka itu membuat akal sehat kalian binasa?
Apakah kurikulum yang mesti kalian tempuh membuat jiwa kalian menjadi lumpuh?
Apakah diktat-diktat yang tebal itu membuat otak kalian justru menjadi bebal?
Apakah sibuk mengejar nilai itu membuat kalian lantas kehilangan sistem nilai dan jati diri?
Apakah tugas-tugas yang besok mesti terkumpul itu membuat otak kalian menjadi tumpul?

Baca juga :  Puisi: Anak Rantau

 

Dik…
Lalu, kalian bertumbuh menjadi generasi rapuh
Belajar berdiskusi perihal rakyat di kafe-kafe yang mewah
Belajar problem solving di tengah hingar bingar musik diskotik yang hedonis
Belajar soal kebangsaan di mal-mal kota yang kapitalis
Belajar perihal cinta bangsa dari drama-drama korea yang sok romantis
Belajar nasionalisme sekedar dari menyusuri luasnya lapangan futsal

 

Dik,
Indonesia kembali memanggilmu
Rakyat kembali merindumu
Nusantara mendamba hadirmu
Pertiwi mengundang baktimu

 

Dik,
Kalian tidak lagi berperang angkat senjata
Kalian tidak berperang melawan Belanda
Tapi, sempatkan sedikit waktu untuk belajar berperang
belajarlah tentang perang asimetrik
Ketahuilah bahwa negeri ini diincar dari segala penjuru
bukan sekedar belajar peran-perangan ala Clash of Clans itu

 

Dik
Sempatkan diri untuk lebih serius berlajar
Belajarlah berempati pada rakyatmu yang tengah sekarat
Bukan sekedar bermain PS empat
Belajarlah cerdas berorasi
Bukan sekedar hingar-bingar musik pensi
Belajarlah tajam menganalisis
Bukan sekedar berfoto narsis
Belajarlah tampil menginspirasi
Bukan bangga dikerjai jadi penonton acara live di studio TV

 

Dik,
Bagaimana kalian akan bertumbuh menjadi pribadi kebanggan bangsa
jika kepada dosenmu kalian telah tanggalkan etika dan tatakrama
Bagaimana kalian akan bertumbuh menjadi mahasiswa juara,
jika bangunmu masih saja kesiangan karena begadang nonton bola…
Bagaimana kalian akan menjadi hebat jika kalian telah tinggal semangat
Bagaimana akan menjadi benteng kokoh rakyat jika hatimu masih saja rapuh
Bagaimana pula menjadi pembela jika hatimu masih saja lara tersebab asmara
Bagaimana kalian akan menjadi mahasiswa dengan prestasi kemilau jika hatimu masih saja galau

Baca juga :  Puisi: Dosen bukan Dosen

 

Dik,
Jaga amanah Tuhan bernama status muliamu sebagai mahasiswa
Karena ia tidak Tuhan sematkan pada semua manusia
Ingatlah bahwa agen of change bukan sekedar mantra-mantra berbusa
Social kontrol bukan sekedar soal omong kosong yang tolol belaka
Iron stock bukan sekedar cerita gagah-gagahan yang dusta
Cerdas cendekia bukan di otak semata

 

 

Jilbab, Hijrah dan Kata Orang

 

Jilbab yang menutupi tubuhnya

Membuat setiap mata memandang dengan berat

Seakan-akan pertanda dunia akan berakhir

Ketika hijrahnya diuji

Ketika istiqomahnya hampir saja terpatahkan

Ada apa sebenarnya?

 

Mereka memandang dengan aneh,

Setiap diri yang sedang berhijrah,

Setiap pribadi yang sedang berusaha istiqomah,

Berbusana syar’i dianggap sok suci,

Menundukkan pandangan dianggap sok alim,

Memberitahukan yang benar dianggap sok ustazah.

 

Lantas haruskah mengabaikan risalah Sang Penutan sejati ?

Bukankah menutup aurat adalah perintah-Nya ?

Menundukkan pandangan untuk menjaga iffah,

menjauhakan diri dari fitnah nafsu dan syahwat,

Dia yang berjilbab memang belum tentu terbebas dari kesalahan,

Terbebas dari dosa,

Dan terbebas dari api neraka

 

Tapi…

Paling tidak dia punya satu point,

Telah menjalankan kewajibannya sebagai wanita muslimah,

Bukan dengan meninggalkan prinsipnya atau bahkan merasa malu atau minder saat dianggap minoritas,

 

Muslimah…

Dia yang tetap berpegang teguh pada alquran dan hadits

Semoga tetap istiqomah !

 

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!