Artikel

Opu Galla; Pewaris Muda Panrita Lopi Di Bulukumba

Oleh: Sopian Tamrin*

Catatan riset Sosiologi Maritim pada komunitas pembuat perahu

SOSIOKOSMIK, EDUNEWS.ID – Siapa yang tidak gamang dengan kehadiran berbagai narasi besar yang merongrong sendi ter-arif pada setiap lokalitas. Masih adakah yang luput dari keganasan teknologi modern saat ini. Sebagaimana anasir Marsall Mc luhan bahwa dunia ini mengarah pada satu bentuk tunggal dalam satu ikatan kampung global.

Jika meminjam istilah Anthony Giddens hingga abad ini belum ada satupun yang prima dihadapan panser modernitas, Ia akan melibas apapun yang dihadapinya. Dalam kondisi demikian maka pada kedalaman nilai apa lagi kita bergantung?

Kekuatan nilai lokal yang tumbuh dalam praktik sosial masyarakat yang hidup dalam waktu yang cukup lama mau tidak mau harus berhadap-hapadan dengan arus yang hegemonik ini. Namun karena daya gerus modernisasi memiliki media sebagai instrumen utamanya maka hampir bisa dipastikan akan memenangkan kontestasi.

Seperti itu pula yang melanda nasib tradisi pembuatan perahu phinisi yang ada di tanah beru. Praktik sosial pembuatan perahu Phinisi yang asli dan dikerja berdasarkan ilmu spritual tradisional sudah berada diujung tanduk. Belum lagi kecenderugan pembuat perahu perlahan beralih menjadi pekerja kapal besar karena memiliki nilai profit.

Harapan Di Tangan Pewaris

Meski hegemoni ilmu perkapalan modern sedang eksisnya, bukan berarti semangat dan inisiatif masyarakat dalam menjaga pengetahuan tradisional perihal perkapalan juga tak diperjuangkan. Seperti salah satu keluarga pada komunitas pembuat perahu Phinisi berjuang menerapkan ilmu kepanritaan adalah bapak Syarifuddin dan Alfian (anaknya).

Baca juga :  Reproduksi Konsumerisme Ala Kampung

Beliau mengaku sebagai pewaris asli para panrita lopi. Tutur beliau saat diwawancara, “Meskipun pemesan kapal membawa ukurannya sendiri , tapi kami lebih mengutamakan ukuran kami sebagai tugas moral kami melanjutkan ilmu yang diwariskan pendahulu kami sebagai turunan panrita.”

Panrita Lopi Dan Dimensi Spiritualnya

Perahu Phinisi yang menjadi warisan budaya bulukumba adalah satu arena aktualisasi spiritual para panrita. Perahu Phinisi atau kapal Phinisi saat ini tidak sekadar terkenal karena keindahanya, melainkan sekelumit dimensi spiritualnya. Panrita menjadi juru kunci prosesi sakral yang melingkupi pembuatan kapal.

Pengerjaan tidak pernah dimulai jika panrita lopi belum melakukan annatta’. Annatta adalah pemotongan kayu yang digunakan untuk tulang kapal atau lunas. Ritual ini sebagai tanda dimulainya pengerjaan kapal sekaligus isyarat restu dari panrita.

Kecakapan spiritual panrita dipercaya bisa mengetahui akhir dari kapal sebelum jadi. Dalam penyaksian sang panrita lopi sudah mengetahui bahwa kapal yang dibuat akan mate ri lau (tenggelam di laut), mate ri dara (karam di darat atau jadi tapi tidak bisa beroprasi), mala pa’masu (hanya dapat untuk bisa dimakan), ma’sale-sale (selalu terkena bala, rintangan, masalah), mancari laba (selalu untung).

Imajinasi bagian kapal menurut pengakuan Alfian alias Daeng Galla (biasa juga disapa Opu Galla; nama pewarisan kepanritaannya) sama seperti tubuh manusia. Perahu Phinisi layaknya manusia yang terbangun dari tidur. Perahu Phinisi memiliki lunas layaknya tulang belakang manusia, kemudian tulang rusuk sebagai ruas, dan lambung kapal ibarat kulit manusia.

Baca juga :  Revolusi 4.0 Dan Masalah Sosialnya

Pendeknya bahwa struktur kapal dianggap ideal hanya jika sudah mengikuti ukuran tambubu (ukuran yang telah ditentukan dari panritta lopi). Sebagaimana manusia, ia juga dipercaya terusun dari tiga bagian utama yakni bagian kepala, badan, dan kaki yang kemudian disebut sebagai struktur rukun tiga belas.

Maujud Phinisi

Selayaknya manusia, jika hanya tubuh maka tidak ada apa-apanya. Seperti uraian di atas, bahwa sebenarnya perahu Phinisi dimaknai panrita memiliki jiwa seperti kita. Dengan berjiwa atau memiliki wujud maka kapal Phinisi baru bisa berlayar. Maujud Phinisi menurut bapak syarifuddin tidak bisa dilihat dengan mata kepala orang biasa, melainkan penyaksian dari orang tertentu yang kemudian disebut panrita.

“Warisan ilmu para panrita tidak bisa menurun pada sembarang orang,” imbuh pak syarifuddin sambil menunjukkan sertifikat pengakuan dari UNESCO sebagai bukti bahwa ia dipercaya sebagai pelanjut leluhur para panrita lopi. Meskipun yang diakui UNESCO sebenarnya bukan perahunya melainkan ilmu dan tradisi pembuatan perahu Phinisinya.

Hal ini disadari oleh keluarga bapak Syarifuddin, bahwa sampai saat ini terdapat kontroversi mengenai asal mula kapal Phinisi, tapi yang pasti bahwa juga sejak lama pembuatan kapal Phinisi telah diwariskan pada masyarakat Bulukumba, khususnya di Bonto Bahari (dulunya berpusat di Lemo-Lemo).

Sebagai peneliti, kami sangat apresiatif semangat pak Syarifuddin dan anaknya Alfian yang sampai saat ini terus mengkampanyekan pelestarian warisan leluhur ini. Dari keuletan ini hingga sekarang beliau sekeluarga sudah menjadi juru kunci informasi ketika ada wisatawan atau dari kementerian yang akan mengetahui perihal perahu Phinisi.

Baca juga :  Haruskah Tjokro Hidup, Lalu Menagih?

Even terkait perahu Phinisi telah diikuti keliling keluarga ini. Mereka juga sudah secara rutin dipercaya sebagai penanggung jawab oleh Pemda pengelola festival Phinisi di kabupaten bulukumba. Sebuah gagasan besar perihal festival perahu Phinisi direncanakan digelar tahun depan.

Dari wawancara kami bahwa kegiatan akbar tersebut akan mengangkat tema “Phinisi Pulang Kampung”. Mendengar itu, spontan kami merasakan gambaran acaranya. Rencananya kegiatan ini akan memanggil semua kapal Phinisi yang diproduksi di Bonto Bahari untuk diundang pulang kampung.

Tentu ini bukan hal mudah namun mereka sudah memikirkan konsep bahwa setiap kapal yang datang akan diservis secara gratis sebagai daya tarik untuk datang. Ini akan menjadi sejarah jika terlaksana maksimal. Mengapa tidak, jikalau kapal-kapal yang sudah di produksi di Bonto Bahari sudah tersebar ke seluruh dunia.

Demikianlah cara dan upayanya jika budaya lehuhur masih ingin kita lihat di masa depan. Ia akan terlahir kembali dari gagasan dan perjuangan besar dari orang-orang yang bersungguh-sungguh. Jika meminjam istilah sosiolog Pierre Bordieu, maka habituasi pembuat perahu di Bonto Bahari akan eksis apabila tersedia arena yang kuat dan berkesinambungan agar praktik sosialnya terus aktual.

Salamakki!  Doa baik teriring dari kami. Khususnya untuk Opu Galla, Sang Pewaris Muda Panrita Lopi Bulukumba.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!