Sopian Tamrin

Pilpres dan Media Sosial yang Asosial

Oleh: Sopian Tamrin*

SOSIOKOSMIK, EDUNEWS.ID – Media sosial merupakan pintu masuk terciptanya komunitas global. Namun arus menuju global village seperti anasir McLuhan mulai menemukan masalahnya. Kondisi virtualitas dalam jaringan di Indonesia saat ini dalam kewaspadaaan. Untuk sementara kita simpulkan bahwa panorama kehidupan daring medsos akhir-akhir ini cukup memanas karena pilpres sudah di depan mata.

Beberapa hari yang lalu, KPU sukses menggelar debat tahap kedua dengan menempatkan masing-masing capres, berhadap-hadapan. Sebagai bahan amatan publik, kondisi semakin memanas setiap kali usai pelaksanaan debat. Mengapa tidak, karena perhelatan debat capres bisa dikata sebagai sorotan utama masyarakat Indonesia saat ini.

Siapa kira bahwa seusai debat yang resmi maka perdebatan pun akan surut. Malahan selepas debat, justru perseteruan akan memanaskan telepon genggam pintar anda. Namun bukan lagi sang kandidat melainkan sang partisan.

Bahkan jika diperhatikan intesinya sepertinya debat dalam jaringan (medsos) jauh lebih hangat dibanding dengan debat yang sesungguhnya. Mengapa tidak, jika setiap pendukung tidak tanggung mengumbar keburukan masing-masing lawannya dengan data yang seringkali tidak bisa dipastikan kebenarannya.

Data yang dilansir we are social menunjukkan bahwa pengguna FB mencapai lebih dari 2 milliar aktif dan Indonesia menjadi pengguna terbesar ke empat di dunia. Data tersebut juga menempatkan Indonesia sebagai pegguna Facebook terbesar di asia tenggara dengan 130 juta akun.

Baca juga :  Sekolah Alam-Alaman, Perjuangan Mencapai Diferensiasi

Dari data tersebut maka FB merupakan arena yang semarak untuk mengadu argumentasi di tengah ramainya perbincangan pilpres.

Perseteruan politik ini begitu tajam menjulang di jendela media sosial. Sehingga tak bisa dipungkiri bahwa kita benar-benar terserap ke dalam jaringan (daring) dibanding aktif pada dunia luar jaringan (luring).

Perdebatan di media sosial jauh lebih panjang karena mereka masing-masing punya waktu mencari informasi mengenai sisi tertentu yang akan dijadikan argumentasi menyerang lawan kandidatnya.

Gejolak Cebong vs Kampret
Populernya istilah cebong dan kampret yang melekat pada pendukung capres menambah pola perdebatan di ruang publik, khususnya di media sosial. Akhinya media sosial pun menjadi saksi terbentuknya loyalitas in-group dan out-group pada kedua lebel tersebut pada masing-masing pendukung.

Kita cenderung terbelah menjadi dua sisi semata yakni pengguna medsos cebong atau kampret. Seolah tak ada pilihan lain selain berada di antara salah-satu kubu tersebut. Kalau tidak jadi kapmpret, otomatis jadi cebong. Lucunya, jika anda sudah menjelma jadi kampret maka anda akan mendukung mati-matian capres 02 dan sebaliknya jika anda sudah berubah jadi cebong hal sama anda akan sepenuh hati meninggihkan capres 01.

Baca juga :  Ekofeminisme Balik Kampung

Bagi si kampret akan melihat Prabowo sebagai sosok yang sempurna, sebaliknya bagi si cebong akan menilai Jokowi pemimpin sempurna pula. Begitu sulit mereka untuk bisa berkompromi atas kelebihan lawan kandidatnya.

Kematian Sosial dalam Media Sosial
Pola ini betul-betul merusak keakraban pada dunia dalam jaringan. Mengapa? Karena keduanya aktif mencari kelemahan masing kandidat terus di-share sebanyak-banyaknya untuk mendapat simpati.

Inilah yang penulis maknai sebagai panorama kematian sosial dalam media sosial atau pengguna asosial dalam media sosial. Para pengguna FB/media sosial mungkin lupa bahwa kekuatan besar negara kita ada pada kesatuan dan keramahan pada sesama. Kita mesti sadar dan menyikapi situasi semacam ini perlu ketenangan karena meskipun kita berbeda-beda namun kita tetap satu.

Tristan Harris seorang googler, filsuf tekonologi menyarankan agar manusia sebisa mungkin menghabiskan waktu di media sosial dengan baik. Mengkonsumsi informasi di internet khususnya medsos ibarat ngemil bukan makanan berat. Artinya ia memberikan informasi namun belum tentu memberikan pencerahan.

Kita bisa analogikan bahwa jika berlebihan maka tentu efeknya bisa obesitas ataupun gatal-gatal. Ya, sikap yang terlalu melebih-lebihkan kandidatnya adalah semacam obesitas dan menggaruk kelemahan lawan kandidatnya tentu penulis anggap efek gatalnya.

Baca juga :  Makna Pertemuan Jokowi-Prabowo

Selain itu, ngemil memberikan efeknya ketagihan namun kurang baik untuk kesehatan (cara berpikir). Kecenderungan inilah yang terpola dalam model partisipasi dalam komunikasi daring soalan pilpres saat ini.

Media sosial benar-benar sedang dirundung masalah, ia tak lagi sebagaimana awal kehadirannya. Penduduk maya mulai tidak memiliki kendali dalam memenuhi ruang publik abad 21 ini.

Perseteruan publik di media sosial mengancam akar keakraban dalam kehidupan bermasyarakat. Media sosial dikepung dengan perbincangan yang memantik perpecahan dan keterbelahan. Hal ini memang kategori temeh yang tak boleh dianggap remeh. Ketegangan dalam media sosial sepertinya mulai melompat pada dunia luring (luar jaringan).

Irisan tema yang diperdebatkan pada media sosial ternyata ikut dipertegang kembali pada kehidupan sehari-hari.

KPU tidak boleh absen pada soalan ini, setidak-tidaknya penyelenggara hadir minimal memberikan himbauan pada masyarakat agar tetap menjaga kehangatan dalam kehidupan sehari-hari meskipun berbeda pandangan dalam pilihan politik.

Sekiranya penyelenggara memanfaatkan semua media dan strukturnya agar sosialisasi pemilu damai tetap dikumandangkan demi menjaga keakraban dan stabilitas sosial. Toh kualitas demokrasi terletak pada sikap kita menjaga prosesnya.

Sopian Tamrin, S.Pd., M.Pd., Staf Pengajar FIS UNM, Direktur Eksekutif Education Corner.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!