Ahmad Sahide

 Nasionalisme dan Film

Ahmad Sahide

Oleh : Ahmad Sahide*

 

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID-Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nasionalisme dimaknai sebagai paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri, bisa juga dimaknai sebagai politik untuk membela pemerintahan sendiri. Anthony D. Smith mengatakan bahwa “Nationalism is anideology that places the nation at the centre of its concerns and seeks to promote its well-being…” intinya adalah bahwa nasionalisme merupakan perasaan cinta terhadap bangsa dan tanah air yang tidak terikat dengan ruang dan waktu.

B.J. Habibie, Presiden Republik Indonesia ke-3, ketika memutuskan untuk kembali ke Indonesia pada tahun 1980-an karena menerima permintaan dari Presiden Soeharto bisa dilihat sebagai salah satu wujud atau ekspresi dari nasionalisme. Meskipun gaji yang diterima oleh B.J. Habibie di German pada saat itu jauh lebih tinggi daripada gaji yang diterimanya ketika harus kembali ke Indonesia dan dikasih jabatan menteri oleh Soeharto. Bukan gaji yang membuat Habibie kembali ke Tanah Air, melainkan spirit nasionalismenya.

Baca juga :  Faktor-Faktor yang Memengaruhi Integritas (9)

Ini salah satu contoh wujud dan ekspresi nasionalisme. Contoh lainnya adalah dari sosok Butet Manurung yang rela mendatangi salah satu kelompok masyarakat di Jambi, yaitu suku Anak Dalam, pada tahun 1999. Butet Manurung yang lahir dan besar di Ibu Kota Jakarta rela meninggalkan kemewahan ibu kota demi mendidik anak-anak suku Anak Dalam untuk membaca dan menulis. Butet tahu bahwa ada kelompok masyarakat yang tidak mendapatkan pendidikan formal dan sering kali ditipu karena ketidaktahuannya itu. Itulah yang menggerakkan Butet untuk datang kepada mereka, hidup bersama mereka, demi tujuan yang mulia; mendidik anak-anak bangsa agar supaya bisa membaca dan menulis. Apa yang menggerakkan Butet dengan semua itu? Hal ini dapat kita lihat sebagai salah satu cara bagi Butet dalam mencintai bangsa dan negaranya (nasionalisme). Meskipun suku Anak Dalam itu berbeda darinya.

Baca juga :  Membaca Hubungan Trump-Putin; Amerika-Rusia Pasca Pertemuan Helsinki

Butet kemudian memerkenalkan “Sokola Rimba”, sekolah alternatif yang khusus mendatangi daerah-daerah pelosok dan film “Sokola Rimba” juga sudah bisa ditonton secara luas yang memotret pengabdian Butet di daerah pedalaman di Jambi. Semua itu dilakukan Butet tanpa memertanyakan gaji dan sertifikasinya. Tapi apa yang telah dilakukan oleh Butet mendapatkan penghargaan dari dunia internasional, berbagai penghargaan bergengsi internasional telah diraihnya, salah satunya adalah Magsasay Award.

Inilah wujud atau ekspresi nasionalisme yang tidak banyak diorasikan di panggung-panggung politik sebagaimana para politisi yang berlomba mendapatkan jabatan publik. Yang mungkin setiap muncul di depan publik selalu mengucapkan kata “nasionalisme” tetapi ketika menjabat lupa dengan rakyat yang kelaparan, rakyat yang hidup di desa-desa dan tidak mendapatkan akses pendidikan yang semestinya. ‘Nasionalisme’ mereka (mungkin) adalah kemampuan mengkalkulasi aset-aset negara untuk dijual ke pihak asing. Semoga saja tidak!

Baca juga :  Kemenduaan Perempuan Bugis
Advertisement

Lewat Film

Lalu bagaimana menumbuhkan nasionalisme yang tidak semu itu? Tentu banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menanamkan atau menumbuhkan spirit nasionalisme kepada anak-anak masa depan bangsa. Salah satunya adalah lewat film. Karena saya, misalnya, adalah seorang pendidik (dosen), maka saya sering kali memutar film-film yang saya anggap bagus di depan para mahasiswa. Salah satu film yang menurut saya bagus jika kita bicara tentang nasionalisme adalah film “Tanah Surga… Katanya.”

Sebuah film yang mengangkat cerita di daerah perbatasan di pulau Kalimantan. Dari film ini, kita dapat mengetahui bahwa banyak warga negara Indonesia di daerah perbatasan tidak mengenal rupiah (mata uang Indonesia), mereka hanya tahu ringgit (mata uang Malaysia). Dan ringgit pulalah yang menjadi alat transaksi sehari-hari bagi masyarakat perbatasan. Tidak sedikit yang telah memutuskan pindah kewarganegaraan (ke Malaysia) karena persoalah kesejahteraan hidup di mana negara tidak hadir untuk mereka.

Tetapi tetap saja ada anak bangsa seperti Salman yang tidak rela melihat bendera Merah Putih jadi kain pembungkus oleh warga masyarakat Jiran. Salman rela menukarkan sarungnya dengan Sang Saka Merah Putih dan membawanya kembali ke Indonesia. Meskipun negara tidak hadir dalam kehidupan mereka. Begitu pula dengan pak Hasim (Kakek Salman) dalam film itu memilih tetap menjadi warga Negara Indonesia meskipun hidupnya dari dari cukup. Dalam salah satu dialog Pak Hasim mengatakan “Aku mengabdi bukan untuk pemerintah, tapi untuk negeri ini. Bangsaku sendiri.”

Lebih detail tentang film ini bisa ditonton sendiri, saya hanya ingin mengatakan bahwa film-film seperti ini penting dan patut mendapatkan pernghargaan dari masyarakat luas karena dengan menonton film tersebut, nasionalisme kita dapat tumbuh.

Film-film lain yang penting dan mengajarkan nasionalisme seperti Nagabonar, juga ada Cahaya dari Timur, dan Tapal Batas. Sayangnya film-film seperti ini tidak mendapatkan apresiasi luas dari masyarakat Indonesia. Masyarakat lebih banyak menggemari film-film yang kurang mendidik, bahkan mungkin mematikan nalar. Padahal film bisa menjadi salah satu alternatif kita dalam belajar, terlebih tingkat baca masyarakat Indonesia masih sangat minim.

 

Ahmad Sahide. Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta & Penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com