Ahmad Sahide

Andai Bukan Hillary

Kebencian melumpuhkan hidup; cinta membebaskannya. Kebencian mengacaukan hidup; cinta menyelaraskannya. Kebencian menggelapkan hidup; cinta meneranginya – Martin Luther King

Oleh: Dr. Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID – Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) selalu menjadi perhatian dunia internasional. Hal itu karena AS muncul sebagai negara super power di dunia. Negara yang menjadi pemimpin peradaban dunia saat ini, baik itu dalam aspek politik, ekonomi, budaya, dan pendidikan. Maka dari itu, pemilihan orang nomor satu di Negara Paman Sam tersebut seolah adalah ajang pemilihan president of the world. Siapa yang terpilih sebagai penghuni White House empat tahun ke depan akan berpengaruh terhadap dinamika politik global.

Itulah mengapa daur ulang demokrasi negara kampiun demokrasi tersebut selalu dinanti serta menjadi perhatian masyarakat dunia internasional. Rakyat Amerika seolah sebagai anggota perwakilan (DPR) dari dunia internasional untuk memilih dan menjadi penentu masa depan dunia. Itulah gambaran betapa sentral dan kuatnya posisi AS dalam kancah politik global kontemporer. Amerika, secara geobudaya dan geopolitik, berada dalam episentrum peradaban global. Meskipun saat ini ada Tiongkok (China) dan Rusia yang berupaya menandingi dan melawan hegemoninya, posisi AS masih tetaplah berada pada titik jantung peradaban dunia. Belum tergantikan.

Kini, rakyat AS kembali diperhadapkan pada momentum untuk menentukan masa depan dunia dalam pemilihan presiden 8 November 2016 ini. Politik negeri Paman Sam itu pun semakin disorot milyaran mata di dunia, terlebih munculnya tokoh kontroversial, Donald Trump, dalam kontestasi untuk menghuni White House empat tahun ke depan. Kemunculan Donald Trump pun tidak kalah hebohnya dengan munculnya Barack Obama delapan tahun silam.

Baca juga :  SBY Sebut Perppu Ormas Berbahaya Jika Tidak Direvisi

Bedanya, Obama muncul sebagai sosok fenomenal dan menghadirkan harapan. Obama waktu itu adalah candidate of hope. Sementara Donald Trump muncul dengan sosoknya yang kontroversial dan seolah membelah rakyat AS, dan dunia, antara like-dislike. Trump adalah candidate of fear. Bahkan di internal Partai Republik sekalipun ikut terbelah karena sosok Donald Trump yang konstroversial itu. Menjelang 8 November nanti, Donald Trump akan menghadapi Hillary Clinton menuju White House (Gedung Putih). Akankah Donald Trump mengalahkan Hillary Clinton? Dan apa yang akan terjadi jika Donald Trump yang memenangi suara rakyat menuju Gedung Putih empat tahun mendatang?

Apa yang akan terjadi?
Prediksi terkait siapa yang bakal memenangi kontestasi politik AS sudah diulas oleh banyak media, kaum terpelajar, dan juga banyak lembaga survei. Umumnya mereka mengunggulkan Hillary Clinton. Juga terdapat banyak tulisan-tulisan (opini) yang terkesan menyudutkan Donald Trump. Rizal Mallarangeng, misalnya, menulis di harian Kompas, 8 Oktober 2016, dengan judul Hillary, Tokoh Sejarah di Jalan Berliku.

Dari tulisannya, pengamat politik dan pendiri Freedom Institute itu secara tegas menunjukkan keberpihakannya kepada mantan first lady Amerika tersebut. Rizal Mallarangeng menuliskan, “…Mungkin agak berlebihan jika berkata bahwa Hillary adalah benteng pertahanan terakhir melawan kegelapan.” William Liddle, Professor Emeritus Ohio State University, juga menulis di harian Kompas belum lama ini, Sabtu 15 Oktober 2016. William Liddle menggambarkan Trump sebagai Orang Kuat yang Mengerikan, demikian judul artikelnnya. Dan menurut Liddle, meskipun saat ini Hillary Clinton unggul dari beberapa survei, Trump masih mempunyai kans untuk menang.

Baca juga :  Gerakan Indonesia (Pemuda) Berkarya

Rizal Mallarangeng dan William Liddle seolah melakukan ‘kampanye’ untuk membantu kemenangan Hillary Clinton. Hal itu karena ada ketakutan munculnya ketegangan politik yang cukup tinggi dalam kancah politik global jika Donald Trump yang memenangi pemilihan Presiden AS 8 November mendatang.

Ketegangan politik yang akan muncul itu, jika Trump menang, adalah ketegangan hubungan antara Barat (AS) dengan Timur (dunia Islam) sebagaimana rencananya melarang masuk orang Muslim di wilayah AS untuk mewaspadai terorisme. Jika Trump menang dan memberlakukan apa yang telah dikatakannya itu, maka hubungan antara Barat dan dunia Islam akan kembali memanas sebagaimana ketegangan hubungan Barat dan dunia Islam pada era George Walker Bush yang dianggap melakukan konspirasi dengan isu World Trade Center (WTC) untuk menyerang negara-negara Islam, Iraq salah satu contohnya yang kini tak kunjung mencapai stabilitas politiknya. Trump akan kembali menyulutkan bara apai kebencian antara Barat dan dunia Islam.

Oleh karena itu, jika Trump terpilih, maka upaya yang telah dilakukan oleh Barack Obama selama delapan tahun untuk menengahi ketegangan hubungan antara Barat, terutama AS, dengan dunia Islam akan berakhir sia-sia seiring dengan berakhirnya masa jabatannya. Ketegangan hubungan nampaknya akan jauh lebih panas ketimbang ketegangan yang terjadi pada era George Walker Bush. Api kebencian akan kembali membara. Bahkan akan jauh lebih berbahaya mengingat sosok Trump yang kontroversial dan pernyataan-pernyataan politiknya sering kali tidak terkontrol. Sudah pasti, jika Trump mengalahkan Hillary, dunia internasional akan selalu dihebohkan dengan pernyataan-pernyataan kontroversial darinya.

Baca juga :  Arah Politik Demokrat Bisa Berubah Jika Jokowi tak Akomodasi AHY

Hal itu berbeda jika Hillary keluar sebagai pemenang. Kita memang tidak bisa berharap banyak dari Hillary, terutama dalam menyelesaikan konflik di kawasan Timur Tengah. Tapi setidaknya, Hillary tidak menyulutkan api kebencian antara Barat dan dunia Islam. Kancah politik global akan jauh lebih tenang, jauh dari kehebohan. Itu karena Hillary Clinton adalah tokoh yang sudah malang melintang (berpengalaman) dalam pergaulan politik global, baik itu sebagai first lady maupun sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu) periode pertama kepemimpinan Obama.

So, Trump atau Hillary? Rakyat Amerikalah yang menentukan nasib dunia empat tahun ke depan. Tegang atau harmonis, tenang atau heboh, cinta atau benci. Mari kita tunggu ‘suara Tuhan’ melalui suara rakyat 6 November mendatang. Semoga hasil pemilihan presiden 6 November nanti tidak menyulutkan api kebencian karena kebencian, kata Martin Luther King, melumpuhkan, mengacaukan, serta menggelapkan hidup.

Dr. Ahmad Sahide. Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!