Ahmad Sahide

Covid-19 dan Konspirasi Trump

Ahmad Sahide, Dosen Hubungan Internasional Program Magister Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Oleh : Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID-Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, kembali menghadirkan kontroversi dan konspirasi saat masyarakat global masih dihantui oleh Coronaviruses Desease 2019 (Covid-19). Ketika sebagian besar negara di dunia sedang berpikir dan bekerja keras untuk mengurangi penyebaran virus yang bermula dari Wuhan, China, serta para ilmuwan sedang menghabiskan waktunya di laboratorium berupaya menemukan vaksin untuk ‘menjinakkan’ virus ini, Trump justru membangun opini global bahwa virus ini adalah hasil dari rekayasa manusia. Trump menaruh kecurigaan bahwa awal penyebaran virus ini bukan dari pasar hewan, melainkan dari laboratorium bilogis berteknologi tinggi, yaitu dari Institute Virologi Wuhan (WIV).

Jika kita membaca lebih jauh, Covid-19 tidak menutup kemungkinan sebagai konsekuensi dari realisme politik yang mendominasi kancah politik global saat ini. Ini bisa menjadi bagian dari upaya China untuk menjadi ‘survival of the fittest’. Amerika di bawah Trump sudah mencium indikasi itu dengan meminta World Trade Organization (WHO) untuk melakukan penyelidikan bahwa ini bagian dari upaya China untuk mengembangkan senjata kimia dan mengukuhkan dirinya kelak sebagai negara superpower.

China menuju superpower

Noam Chomsky sudah menuliskan dalam bukunya yang berjudul Who Rules the World (2016) bahwa tanda-tanda kemerosotan Amerika sudah mulai terlihat pada tahun 1970-an karena dunia industri merekonstruksi diri sendiri dan dekolonisasi terus menempuh jalan yang pedih. Pada tahun 1970 kepemilikian AS dalam kekayaan turun hingga 25%. Dunia industri menjadi tripolar dengan pusat utama berada di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia (Chosmky, 2016).

Pada sisi yang lain, China sedang menunjukkan kebangkitannya dan membangun kekuatan tandingan dalam melawan hegemoni Amerika yang digagasnya bersama dengan negara-negara new emerging foreces seperti Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, yang secara luas dikenal dengan BRICS (Heywood, 2017). China adalah negara dengan populasi penduduk terbesar di dunia, kurang lebih 1,4 miliar sehingga China menjadi salah satu negara yang punya potensi besar menjadi negara superpower di dunia. Dan dalam dua puluh tahun terakhir, ekonomi China tumbuh sangat pesat melampaui negara-negara di dunia, termasuk Amerika. Bahkan pada tahun 2007, ekonomi China tumbuh 14,2% (Paul, 2016).

Baca juga :   Nasionalisme dan Film

Kemudian pada 2015 China secara resmi mengumumkan rencana aksi One Belt One Road (OBOR). Proyek ekonomi prestisius ini didukung kekuatan dana tidak kurang dari 40 miliar dolar Amerika sehingga menarik minat lebih dari 60 negara di dunia. Bahkan beberapa negara Uni Eropa ikut bergabung, seperti Italia. Di samping itu, China melakukan investasi di luar negeri sebagai bentuk partisipasinya pada perekonomian global tetapi ini juga sekaligus sebagai bagian dari strategi untuk menguasai perekonomian global. Amerika memang masih menjadi kekuatan ekonomi nomor satu di dunia, tetapi diprediksi bahwa pada 2030 China akan menggeser posisi Amerika sebagai negara dengan kekuatan ekonomi nomor satu di dunia (Cipto, 2018).

Maka dari itu, jika kelak China berhasil menjadi negara dengan kekuatan ekonomi nomor satu di dunia, China, dengan pandangannya yang realis, belum bisa menjadi negara superpower karena masih kalah dari Amerika dalam hal kekuatan militer. China belum bisa menjadi negara yang terkuat di antara negara-negara lainnya di dunia. Pandangan realis meyakini bahwa jika ingin berdamai, maka bersiaplah untuk berperang. China, di hadapan Amerika, belum siap untuk berperang atau merasa belum damai karena dari segi kekuatan militer, China masih berada di belakang Amerika dan juga Rusia. Amerika adalah negara dengan kekuatan militer nomor satu di dunia, disusul Rusia, dan kemudian China.

Begitu pula, jika dilihat dari segi kepemilikan nuklirnya, China kalah jauh dari Rusia yang memiliki 6850 senjata nuklir, Amerika Serikat sebanyak 6450, China yang berada di ututan keempat, di bawah Perancis, hanya  memiliki 280 (Saputra, 2019). China, dengan kekuatan ekonominya, tentu bisa mengembangkan senjata nuklir untuk menyaingi Rusia dan Amerika, tetapi terikat dengan perjanjian non-proliferasi nuklir/Non-Proliferation Treaty (NPT) yang pertama kali dilakukan pada 1 Juli 1968 dan meluas tanpa batas pada 1995.

Oleh karena itu, dominannya realisme dalam kancah politik global akan memertontonkan perlombaan negara-negara di dunia dalam memerkuat persenjataannya. Maka, China sebenarnya sudah melakukan  struggle for power dengan menjalankan prinsip Darwinisme, ‘survival of the fittest’. Opini global yang coba dibangun oleh Trump dengan menyudutkan China tentu sangat dipengaruhi oleh pandangan politik yang bersifat realis tersebut. China boleh jadi sedang mencari ‘cara lain’ untuk memiliki senjata mematikan yang tidak kalah dari nuklir, yaitu senjata biologis. Bisa dibayangkan, apabila Coronaviruses ini berhasil dikonversi menjadi senjata kimia, betapa menakutkannya bagi seluruh negara di dunia. Jika itu berhasil, maka China akan merasa ‘damai’ dan siap untuk merebut tahta supremasi politik global dari Amerika.

Baca juga :  Rezim dan Reproduksi Bahasa

Perlu dicatat bahwa untuk menjadi negara superpower, memerlukan dominasi ekonomi dan militer (persenjataan). Kekuatan ekonomi akan membuat negara lain di dunia tergantung dan tunduk, sementara dengan kekuatan militer akan menjadi alat untuk ‘memukul’ negara yang berani melawan atau mengambil langkah berbeda. Itulah yang dilakukan oleh Amerika saat ini dengan statusnya sebagai negara pemegang supremasi politik global.

Dari sektor ekonomi, China sedang membangun kekuatan dan dominasinya dengan membuat kekuatan ekonomi, yaitu BRICS. Selain itu, pada 2015, China meluncurkan proyek besarnya untuk menggeser posisi Amerika dalam ekonomi dengan One Belt One Road Initiative (OBOR) yang mana berhasil meyakinkan lebih dari 60 negara di dunia untuk bergabung, termasuk beberapa negara Eropa (Cipto, 2017). Oleh karena itu, tidak diragukan lagi jika banyak pengamat yang memprediksi China akan menggeser posisi Amerika beberapa tahun mendatang sebagai negara dengan kekuatan ekonomi nomor satu di dunia.

Tapi itu belumlah cukup untuk menjadi modal sebagai negara superpower, negara pemegang supremasi politik global, karena China belum mempunyai alat untuk memukul negara yang tidak patuh dengannya. Dengan mengonversi Coronaviruses sebagai senjata biologis mematikan, maka China akan mempunyai kekuatan persenjataan yang tidak kalah berbahaya dari senjata nuklir yang banyak dimiliki oleh Amerika dan Rusia. Maka China akan mempunyai ‘senjata dan palu’ untuk memukul negara lain yang tidak patuh ketika kelak mampu berada pada puncak kejayaannya sebagai pemegang supremasi politik global, menggantikan Amerika. Pada saat itulah, syarat yang dibutuhkan oleh China untuk menjadi negara superpower terpenuhi; kekuatan ekonomi, militer, dan dominasi budaya.

Baca juga :  Pilpres, Hitung Cepat, dan Pasar

Faktor kecurigaan Trump

Kecurigaan Donald Trump bahwa Corona Virus bukan dari pasar hewan, melainkan dari laboratorium biologis di Wuhan (Waton, 2020) disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, Trump dan Amerika menganut pandangan politik realis serta juga melihat China menganut pandangan tersebut sehingga keduanya sedang berebut untuk ‘survival of the fittest’. Kedua, Amerika memang sudah lama melihat China sebagai ancaman supremasi politik globalnya, mulai dari kebangkitan ekonominya, inisiatifnya membangun kekuatan tandingan bernama BRICS, serta dengan meluncurkan OBOR 2015 lalu.

Ketiga, virus ini bermula dari Wuhan, China, sehingga dilihat ada saling keterkaitan antara kebangkitan ekonomi China, ambisinya untuk menjadi negara superpower, laboratorium biologis, dan virus Corona yang mematikan. Keempat, virus ini menyebar setelah satu tahun Institute Virologi Wuhan (WIV) secara resmi dibuka, 2018. Pembelaan China bahwa virus ini berasal dari pasar hewan di kota Wuhan yang kemudian berpindah ke manusia juga lemah dan mencurigakan sebab pasar tersebut sudah lama berdiri sebelum adanya WIV. Inilah yang memperkuat tuduhan Trump dan kemudian menyudutkan China dari kasus Covid-19 ini.

Penutup

Membuktikan tuduhan Trump terhadap asal mula penyebaran virus ini memang bukan hal yang mudah karena China sudah pasti akan melakukan (jika memang demikian adanya) berbagai macam cara untuk melindungi proyek besarnya untuk ambisinya menjadi negara superpower. Oleh karena itu, ini akan menjadi salah satu sejarah dari konspirasi politik global. Bukankah Fidelis Regi Waton dalam artikelnya pada 28 April 2020 di kolom opini Kompas sudah menuliskan bahwa teori konspirasi sudah lazim dalam panorama sejarah? Dalam studi hubungan internasional ada teori permainan yang dikenal dengan prisoner’s dillema game. Dengan menggunakan kacamata ini dalam memandang politik internasional yang realis, maka sejarah politik global akan sangat sulit terhindar dari teori konspirasi. Saya kira inilah salah satu yang akan dicatat dalam sejarah dari Covid-19 ini dan Donald Trump adalah aktor utamanya.

 

Ahmad Sahide, Dosen Hubungan Internasional Program Magister Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

 

 

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com