Ahmad Sahide

Covid-19 dan Lompatan Peradaban Manusia

Ahmad Sahide, Dosen Hubungan Internasional Program Magister Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Oleh : Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID-Coronavirus 2019 (Covid-19) yang bermula dari kota Wuhan, China, meluluhlantakkan kehidupan ‘normal’ umat manusia. Aktivitas manusia yang begitu cepat dan masif karena dukungan teknologi yang canggih kini berjalan lambat, bahkan stuck, sampai waktu yang belum bisa dipastikan. Perekonomian global pun berjalan lebih lambat,  sebelumnya sudah lambat sebagai dampak dari Perang Dagang antara Amerika Serikat versus China. Dampaknya tentu saja adalah banyak perusahaan yang akan gulung tikar, berkelindan berkelindan dengan meningkatnya tingkat pengangguran dan kemiskinan.

Organisasi Buruh Internasional (ILO) menyebutkan bahwa pembatasan gerak atau perintah isolasi membuat 2,7 miliar orang tidak bisa bekerja. ILO memperkirakan bahwa pada April-Juni 2020 akan terdapat sekitar 165 juta jiwa pekerja penuh waktu akan menjadi pengangguran karena tempat kerja mereka tidak beroperasi. Sementara itu, Oxfam, Lembaga Swadaya Masyarakat asal Inggris, memberikan gambaran bahwa kemerosotan perekonomian karena Covid-19 akan menghasilkan 547 juta orang miskin baru (Kompas, 12/04/2020). Di Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Republik Indonesia, memprediksi jumlah kemiskinan akan bertambah 3,78 juta dan pengangguran bertambah 5,2 juta jiwa (Kompas, 19/04/2020).

Baca juga :  Menugaskan (Mengajar) Menulis

Inilah dampak secara global maupun nasional dari Covid-19 yang membuat aktivitas normal umat manusia selama ini behenti sejenak atau berjalan dengan sangat lambat. Kampus-kampus ‘ditinggalkan oleh mahasiswanya’, perkantoran sepi, perusahaan juga sepi, bahkan ruang beribadah juga ikut sepi dari jamaahnya. Ramadan 1441 H/2020 pun terasa berbeda atau kehilangan kemeriahannya. Orang-orang yang selama ini beraktivitas dengan mobilitas yang sangat tinggi dengan mengunjungi dua atau tiga negara dalam sehari harus stay at home karena takut tertular dengan virus dengan angka kematian globalnya sebanyak 6,73 persen ini.

Pada saat seperti itulah, Covid-19 ini dianggap sebagai malapetaka global. Banyak orang yang stress karena berada di rumah selama berbulan-bulan. Dunia berasa sebagai penjara bagi penghuninya. Situasi yang ‘tidak normal’ dalam hidup kebanyakan orang selama ini. Oleh karena itu, pemerintah, dibantu oleh elemen masyarakat secara luas, berpikir keras untuk mencegah penyebaran virus ini sehingga kita bisa segera kembali hidup normal.

Baca juga :  Menghargai Bangsa Sendiri

 

Lompatan Peradaban

Tentu saja tidak disangkal bahwa Covid-19 membawa malapetaka global; ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Namun juga perlu dilihat dari sisi yang lain bahwa pandemi global di abad ke-21 ini telah memaksa manusia dari seluruh penjuru dunia untuk melakukan lompatan peradaban, dengan kreativitas sebagai ideologi yang baru (Muhadjir M. Darwin, 2020). Covid-19 telah memaksa manusia berpikir keras untuk memindahkan peradaban offline menuju peradaban online. Tanpa menafikan bahwa sebelumnya manusia sudah berpikir dan berjalan ke arah sana, hanya saja berjalan agak lambat karena konservatisme manusia pada umumnya sehingga sulit untuk keluar dari zona ‘normal lama’, sulit untuk beranjak dari dunia offline

Advertisement
ke dunia online. Kini, dengan Covid-19 kita semua dipaksa untuk melakukan lompatan tersebut. Tidak ada pilihan lain.

Kita semua tahu bahwa beberapa tahun sebelum pandemi global abad ke-21 ini muncul, Shopee, tokopedia, dan toko-toko online lainnya sudah mulai mengajari masyarakat Indonesia untuk memindahkan pasar dan mall ke dunia maya sehingga orang bisa berbelanja kapan dan di mana saja. Gojek dan Grab juga sama, memindahkan ojek konvensional ke dunia maya. Di kampus-kampus juga sama, sejak beberapa tahun yang lalu, sudah mulai marak diwacanakan kuliah daring secara nasional. Tetapi sekali lagi, ini semua tidak membuat kita melakukan lompatan yang besar karena sebagian besar masih menikmati kehidupan normal yang lama tersebut.

Hal itu bisa kita lihat bahwa setelah Covid-19 masuk ke Indonesia pada awal Maret 2020 dan kemudian pemerintah mengambil kebijakan Social Distancing dan Pembatasan Sosial Berskala besar (PSBB) di daerah tertentu, ada banyak kegiatan seminar melalui online (Webinar) yang bisa diikuti kapan dan di mana saja. Proses pembelajaran juga sama, Covid-19 membuat para tenaga pendidik dan juga peserta didik di Indonesia akrab dengan aplikasi Zoom, Teams, dan lain-lain. Tentu saja, seadainya tidak ada situasi yang memaksa, maka peradaban kita mungkin belum sampai ke sana. Oleh karena itu, jika kita melihatnya dari sisi yang lain, Covid-19 mengantarkan kita untuk melakukan lompatan peradaban.

 

Penutup

Covid-19 memang berhasil menyebabkan kekagetan peradaban global yang berdampak dengan lambatnya mobilitas barang dan jasa sehingga banyak yang beranggapan bahwa target-target yang sudah ditetapkan sepuluh atau lima belas tahun ke depan mungkin tidak akan tercapai. Tetapi ketika kita berhasil melakukan lompatan peradaban tersebut, maka perlambatan yang kita alami saat ini, terutama dari sektor ekonomi, bukan berarti target-target capaian kita akan sulit didapatkan. Sebaliknya, kita bisa saja akan berada pada posisi yang jauh melampaui dari target yang sudah kita tetapkan seblumnya karena dengan lompatan peradaban tersebutlah, mobilitas orang, barang, dan jasa akan jauh lebih cepat dan masif dengan kehidupan normal yang baru.

Maka dari itu, pemerintah seharusnya tidak hanya berpikir bagaimana mencegah penyebaran virus mematikan ini, tetapi mempersiapkan masyarakat kita untuk melakukan lompatan peradaban.

 

Ahmad Sahide, Dosen Hubungan Internasional Program Magister Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM)

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com