Ahmad Sahide

Covid-19, Webinar, dan Ketidakadilan Sosial

Ahmad Sahide

Oleh : Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID-Covid-19 memaksa kita semua untuk melakukan lompatan peradaban, memindahkan sebagian besar aktivitas offline ke aktivitas online. Seperti rapat-rapat perkantoran, proses belajar-mengajar, seminar, konferensi, transaksi jual-beli, dan beragam aktivitas lainnya. Inilah salah satu dunia baru (new world) yang kita hadapi setelah melakukan lompatan peradaban karena covid-19 tersebut.

Salah satu yang banyak mewarnai aktivitas kita setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan untuk melakukan aktivitas dari rumah (work from home) pada awal Maret 2020 adalah seminar-seminar (Webinar) atau diskusi-diskusi, rapat-rapat yang dilakukan secara online dengan aplikasi zoom, teams, dan media lainnya. Covid-19 membuat jutaan warga Indonesia akrab dengan aplikasi tersebut. Oleh karena itu, banyak aktivitas yang bisa tetap berjalan selama pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk bekerja dari rumah yang kemudian ditingkatkan menjadi Pembatasan Sosial Berskala Besar/PSBB (di beberapa daerah).

Webinar

Salah satu aktivitas yang banyak dilakukan selama pandemi ini adalah seminar online (Webinar). Undangan untuk mengikuti webinar sangat mudah kita dapatkan dan ikuti. Penyelenggara cukup menghubungi narasumber kemudian membuat jadwal agenda via zoom atau teams. Setelah itu membagi ID meeting dan paswordnya ke sebanyak mungki orang. Maka agenda seminar pun terselenggara. Tentu berbeda dengan seminar offline di mana penyelenggara harus menyediakan tempat, menyediakan tiket (jika pembiaca dari luar kota atau luar negeri), menyediakan hotel, konsumsi, dan lain sebagainya. Inilah yang membuat seminar offline tidak mudah untuk dilakukan. Selain karena membutuhkan biaya yang relatif besar juga membutuhkan tim yang banyak, dan tentu saja menguras waktu dan energi.

Baca juga :  Kala Teori Evolusi Darwin Dikritisi

Berbeda halnya ketika kita sudah mulai akrab dengan aplikasi seperti zoom dan teams di mana kita bisa melakukan seminar atau agenda lainya secara online di mana penyelenggara tidak perlu mengeluarkan anggaran untuk sewa tempat dan cleaning service, tidak perlu merogoh kocek untuk transportasi narasumber, juga tidak perlu banyak tim. Dengan seminar online, modalnya cukup dengan menjadi host (membuat ID meeting dan pasword) lalu mempunyai koneksi ke narasumber. Maka seminar pun dapat terselenggara. Tidak heran jika undangan untuk mengikuti seminar online berseliweran di grup-grup WhatsApp (WA). Narasumber juga sama, bisa menjadi pembicara di berbagai agenda dalam sehari dengan hanya berdiam diri di rumah (stay at home).

Demikian halnya dengan peserta, bisa mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh lembaga di manapun itu dengan modal ID meeting dan password. Maka transformasi ilmu pengetahuan telah berhasil menembus ruang dan waktu. Yasraf Amir Pilliang membahasakannya dengan dunia yang dilipat. Inilah lompatan peradaban yang kita saksikan dan di mana kita berada saat ini.

Baca juga :  Vladimir Putin

Ketidakadilan Sosial

1 Juni 2020 kemarin diperingati hari kelahiran Pancasila, di tengah pandemi Covid-19, melalui virtual (telekonferensi). Semoga saja perayaan di tengah pandemi ini semakin menyadarkan kita bahwa sila kelima dari Pancasila belum terwujud. Bahwa cerita manis terkait dengan webinar di atas itu hanya bisa dinikmati oleh masyarakat di mana pembangunan infrastrukturnya bagus. Hanya bagi warga kota yang akses internetnya tercukupi. Tidak untuk daerah-daerah, terutama desa-desa, yang akses internetnya terbatas atau bahkan tidak ada.

Oleh karena itu, cerita dan sisi lain dari forum-forum virtual adalah banyaknya peserta atau bahkan narasumber yang sewaktu-waktu keluar dan kemudian masuk forum online tersebut. Juga seringkali suara terputus-putus karena jaringan internet yang kurang bagus. Dampaknya adalah transformasi ilmu pengetahuan melaui webinar tersebut terhambat bagi mereka. Inilah tantangan kita ke depan untuk melakukan lompatan peradaban. Ketidakadilan dalam hal pembangunan infrastruktur, terutama akses internet yang hanya bisa dinikmati oleh masyarakat perkotaan, sehingga hanya masyarakat kota yang bersiap untuk melakukan lompatan peradaban tersebut.

Baca juga :  Gerakan Mahasiswa (Pemuda) Dalam Membangun Kultur Politik Berkarakter

Seandainya pembanguan infrastruktur (jalan, akses kesehatan, dan juga akses internet) tidak hanya terfokus pada daerah-daerah perkotaan, maka pandemi Covid-19 tidak akan menyisakan cerita di mana ada peserta didik yang meninggal dunia hanya karena memanjat pohon demi mendapatkan signal untuk bisa mengikuti proses pembelajaran online. Juga tidak akan ada cerita di mana peserta didik harus naik turun perbukitan untuk mengikuti proses pembelajaran online.

Cerita sedih di tengah pandemi ini hadir sebagai dampak dari belum meratanya pembangunan infrastruktur di Indonesia, belum terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Buya Syafi’i Maarif sering mengatakan di berbagai forum bahwa sila kelima dari Pancasila adalah sila yang ‘paling sial.’ Pandemi covid-19 ini semakin mempertegas bahwa kesialan dari sila kelima ini juga berdampak dengan sialnya nasib warga Indonesia yang belum bisa menikmati fasilitas negara sebagaimana di daerah-daerah lainnya, terutama di kota-kota besar.

Yogyakarta, 5 Juni 2020

Ahmad Sahide, Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com