Ahmad Sahide

Dari ISIS Hingga Teror Bom di Tanah Air

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID – Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) menjadi isu yang hangat dalam kancah politik internasional akhir-akhir ini. ISIS merupakan negara baru yang dideklarasikan oleh Abu Bakar al-Baghdady pada tanggal 29 Juni 2014, menyusul terjadinya perang saudara di Irak dan Suriah.

Berdasarkan data yang dialansir CNN dan Pew Research Center, sekitar 11.000 lebih orang dari 25 negara di dunia telah datang ke Suriah untuk berperang melawan rezim  Presiden Suriah, Bashar al-Assad, yang kemudian bergabung dengan ISIS (Reno Muhammad, 2014: 57). Adalah Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, yang tampil ke depan menyerukan untuk menyerang kelompok perlawanan baru ini. Barat, terutama Amerika Serikat (AS), sangat gencar melakukan berbagai hal untuk melumpuhkan kekuatan gerakan Islam radikal ini.

Diperkirakan, ada sekitar 700 warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS. Dan seturut Prof. Dr. Bilver Singh, dosen National University of Singapore, di Indonesia sudah ada Khatibah Nusantara yang merupakan kaki tangan dari gerakan baru ini yang sewaktu-waktu dapat ‘meneror’ masyarakat Indonesia. Kamis, 14 Januari 2016, beberapa bulan lalu, Jakarta diteror oleh kelompok yang dikaitkan dengan gerakan ISIS tersebut dengan ledakan di jalan MH. Thamrin.

Indonesia sebagai negara yang mayoritas Islam bukan berarti tidak merespons masuknya pengaruh ISIS ke Tanah Air. Pada awal tahun 2015 lalu, pemerintah Indonesia merespons isu tersebut dengan memblokir situs-situs yang berbau radikal (Islam). Namun, aparatur negara kembali kecolongan. Pertanyaan yang muncul tentunya adalah bagaimana kita membaca fenomena gerakan Islam radikal baru ini yang berdampak ke Tanah Air?

Baca juga :  Menugaskan (Mengajar) Menulis

Bagian dari kelanjutan sejarah

Meskipun ISIS baru dideklarasikan pada tanggal 29 Juni 2014, saya tidak melihat fenomena ini sebagai sesuatu hal yang baru. Hemat saya, fenomena ISIS merupakan bagian dari kelanjutan sejarah antara Islam dengan Barat. Sudah cukup lama Bernard Lewis melemparkan teori bahwa pertemuan antara Islam dengan Barat, dalam catatan sejarah, terjadi dan berlangsung dalam tiga hal; yaitu diplomasi, perdagangan, perang (isu terorisme).

Pertemuan (encounter) antara Islam dan Barat tersebut berlangsung dalam tiga fase yang berbeda yang mana Islam pernah memimpin peradaban (pada zaman klasik Islam) 650-1250/8 M). Pada saat itu berkembang pemikiran rasional atau era kebangkitan Islam yang diwarnai dengan penaklukan beberapa kota di Eropa. Spanyol, misalnya, yang kini terkenal dengan klub sepak bolanya (Barcelona dan Real Madrid) menyisakan sejarah kejayaan Islam di sana.

Pada abad ketiga belas, zaman klasik Islam berakhir dan masuklah zaman pertengahan Islam (1250-1800/1798 M). Fase kedua ini dimulai ketika Baghdad (Irak) diserbu oleh pasukan Mongol yang mana pusat peradabannya (perpustakaan) dihancurkan. Itulah yang menjadi penanda awal berkembangnya pemikiran tradisional di dunia Islam, awal kemunduran Islam, dan awal kebangkitan Eropa.  Kemudian fase modern Islam dimulai saat Napoleon Bonaparte memimpin penyerbuan Perancis ke Mesir (1798-sekarang). Fase modern Islam ini ditandai dengan kemajuan Eropa dalam hal sains dan teknologi, semakin jelas keterbelakangan dunia Islam, dan kolonialisme pun tidak terhindarkan di dunia Islam (Nasution, 1996).

Baca juga :  Politik; Anomali dan Rekayasa Rasionalitas

Dari fase perkembangan sejarah ini memerlihatkan bahwa Islam pernah memimpin peradaban dunia, kemudian mengalami kemunduran, dan akhirnya menerima realitas kehadiran Barat yang melakukan kolonialisasi. Tidak dapat dimungkiri bahwa konflik-kinflik yang berkepanjangan di Timur Tengah akhir-akhir ini, terutama setelah The Arab Spring bergejolak, tidak lepas dari campur tangan asing, ada AS, Eropa, Rusia dan Tiongkok.

Fakta bahwa dunia Islam terbelakang dan dikolonialisasi inilah yang tidak dapat diterima oleh sebagian kelompok dari dunia Islam sehingga meresponsnya dengan gerakan-gerakan radikal, Barat mencapnya terorisme. Fenomena terbaru dan hangat hari ini adalah kemunculan ISIS yang dinilai jauh lebih kejam dan tidak manusiawi. ISIS dan kelompok radikal lainnya mempunyai kesamaan persepsi. Mereka hendak mengembalikan kejayaan Islam yang pernah memimpin peradaban dunia.

Perlawanan dengan institutionalization of terrorism itulah yang ditempuh oleh kelompok-kelompok tersebut untuk mengembalikan kejayaan Islam yang pernah memimpin peradaban dunia, dan kini menerima kenyataan terbelakang dan terjajah. Pada awal tahun 2016 ini, masyarakat Indonesia, terutama di Ibu Kota dihantui dengan gerakan teror tersebut. Dan kembali memakan korban, baik pelaku maupun masyarakat sipil yang tidak tahu-menahu.

Belajar dari Barat

Semangat untuk mengembalikan kejayaan Islam dari kelompok-kelompok yang dicap teroris tersebut tidaklah dapat dipersalahkan sama sekali. Hanya saja, cara yang ditempuhnya itulah, dengan institutionalization of terrorism, yang tidak dapat dibenarkan serta jauh keluar dari nilai-nilai Islam itu sendiri, apalagi membunuh dengan cara-cara yang sangat kejam. Kita semestinya dapat belajar dari Barat yang mengejar ketertinggalannya setelah menyadari telah jauh tertinggal dari Islam.

Baca juga :  TNI-Polri Diimbau Waspada, ISIS Ancam Serang Indonesia

Barat tidak merespons keterbelakangannya dengan institutionalization of terrorism, tetapi dengan institutionalization of doubt (dalam bahasa Amien Abdullah). Barat merespons kemajuan dunia Islam (pada zaman Islam klasik) dengan mengembangkan semangat keilmuan, bahkan mencuri budaya ilmu yang dimiliki oleh Islam dengan menghancurkan perpustakaan di Baghdad serta banyak buku-bukunya yang dibawa ke Eropa.

Seperti itulah cara yang ditempuh oleh Barat untuk menandingi, bahkan melampaui, peradaban Islam hingga hari ini Barat (AS) muncul sebagai pemimpin peradaban dunia yang hadir di negara-negara Islam (terutama di Timur Tengah) untuk mengajari. Kampus-kampus di AS selalu muncul sebagai kampus terbaik di dunia. Buku-buku yang ditulis oleh para Guru Besar di kampus-kampus terbaik AS, seperti Harvard University dan Ohio University, selalu menjadi rujukan dalam dunia akademik di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Oleh karena itu, berangkat dari pengalaman Barat, dunia Islam semestinya mengejar ketertinggalannya dengan membangun budaya ilmua yang kuat, yang lebih kuat dari budaya ilmu Barat. Hanya dengan cara demikianlah Islam dapat mengejar ketertinggalannya, dan sekali lagi solusinya bukanlah dengan memerkuat institutionalization of terrorism. Maka dari itu, ISIS dan kelompok radikal lainnya bukanlah jawaban yang tepat untuk merespons ketertinggalan dunia Islam dari Barat. Jawabannya adalah memerkuat budaya keilmuan. Itulah tugas kita bersama hari ini, mulai dari masyarakat kecil, akademisi, dan juga pengambil kebijakan.

Ahmad Sahide, Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Pegiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!