Ahmad Sahide

Di Tengah Perang, ‘Ada Salju di Aleppo’

Ahmad Sahide

 

 

Oleh : Dr Ahmad Sahide*

OPINI, EDUNEWS.ID – Suriah atau Syam adalah negara yang namanya selalu tercatat dalam sejarah peradaban Islam. Syam tercatat sebagai salah satu kota di mana sempat menjadi pusat peradaban Islam, pusat pemerintahan dalam Islam (Umayyah). Damaskus, ibu kota Suriah, adalah nama yang sangat populer dalam sejarah Islam. Namun kini, negara itu luluhlantak disebabkan konflik dan perang perebutan pengaruh kekuasaan sejak bergulirnya Musim Semi Arab (the Arab Spring) 2011 lalu, yang tak kunjung berakhir.

Perang yang dimulai dari Arab Spring 2011 lalu telah merenggut lebih 312.000 nyawa rakyat Suriah (Kompas, 2017). Suriah juga kehilangan generasinya. Tercatat sebanyak 652 anak-anak masa depan Suriah yang terbunuh di tahun 2016, dan lebih dari 1,7 juta anak yang meninggalkan sekolahnya (Kompas, 2017). Di tahun 2017, konflik Suriah sudah memasuki tahun ketujuh, Konvensi Genewa sudah empat kali diselenggarakan, namun tidak ada titik terang kapan semua ini akan berakhir. Mengapa demikian?

Aliansi Politik Suriah

Konflik politik atau yang biasa juga disebut sebagai perang saudara yang masih berlangsung di Suriah tidak terlepas dari aliansi politiknya dalam kancah politik Timur Tengah. Suriah, sejak era Hafez al-Assad hingga Bashar al-Assad (sekarang), termasuk negara yang berada pada poros politik yang di luar poros politik yang dibangun oleh Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah.

Kebangkitan politik Syi’ah pascarevolusi Islam Iran pada tahun 1979 membawa Timur Tengah ke dalam dua kubu atau poros politik tersebut. Dua kubu inilah yang mewarnai peta, konflik, dan dinamika politik Timur Tengah dewasa ini (Sahide, 2013: 103), termasuk setelah bergejolaknya the Arab Spring.

Kubu pertama, yaitu kubu Amerika Serikat dengan sekutunya yang mengusung proyek Timur Tengah Raya dengan isu demokratisasi sebagai andalannya. Kelompok yang tergabung dalam kubu AS ini antara lain Mesir, Jordania, dan enam negara Arab Teluk yang terdiri dari Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Bahrain, Kesultanan Oman, dan Uni Emirat Arab (Sahide, 2013: 103). Liga Arab dan Turki belakangan semakin jelas posisinya berada pada barisan ini, terutama dalam konflik Suriah.

Sementara kubu yang kedua adalah Iran dan sekutunya dengan membawa misi Timur Tengah yang independen, bernapaskan Islam, dan bebas dari pengaruh asing. Dua kubu tersebut saling berebut pengaruh dan membangun sistem patron-klien di berbagai wilayah atau negara di kawasan Timur Tengah. Kelompok anti AS (asing) ini terdiri dari Iran, Suriah, Gerakan Hezbollah, Gerakan Hamas, kelompok perlawanan Sunni dan Syi’ah di Irak, dan Ikhwanul Muslimin di beberapa negara Arab, serta Tanzim al-Qaeda (Rahman, 2007: 6). Dalam konflik Suriah, ada Rusia yang memberikan dukungan penuh kepada rezim Bashar al-Assad.

Oleh karena itu, dalam konflik Suriah, Amerika Serikat dan Rusia berada pada aliansi politik yang berseberangan. Amerika mendukung kelompok oposisi yang hendak menggulingkan Rezim Assad, sementara Rusia memberikan dukungan penuh kepada Assad. Maka, salah satu faktor mengapa konflik ini berkepanjangan karena ada dua negara adi daya yang bermain di belakangnya. Negosiasi politik yang melibatkan kedua negara besar dan berpengaruh itu tidak pernah menemui titik temu.

Ada Salju di Aleppo

Dina Y Sulaeman (DYS), salah satu penulis produktif yang konsen mengenai Timur Tengah, merespons gejolak yang berlangsung di Suriah tersebut dengan menuliskan sebuah buku yang berjudul Salju di Aleppo, edisi Maret 2017. Ini bukanlah buku pertama mengenai Suriah, pada tahun 2013, perempuan kelahiran Semarang ini menulis buku dengan judul Prahara Suriah, Membongkar Persekongkolan Multinasional. Jika berangkat dari peta politik di atas, dapat dikatakan bahwa buku Dina Y. Sulaeman melakukan perlawanan (counter) terhadap peran Amerika dan sekutunya dalam upaya menggulingkan rezim Assad, terutama peran Amerika dalam memainkan media-media mainstream (arus utama); seperti CNN, BBC, Al-Jazeera, Fox News, Reuters, AFP, The Independent, The Telegraph (Sulaeman, 2017: 63).

Bahasa perlawanan ini juga diakui oleh penulis buku Obama Revealed, Realitas di Balik Pencitraan (2010) ini dalam buku terbarunya itu pada halaman 53, “Ada sesuatu dalam diri saya yang menghalangi saya untuk berhenti, yaitu keinginan untuk melawan ‘penjajahan informasi’ yang begitu masif mencengkeram ruang publik….” Selain itu, Dina Y Sulaeman berangkat dari Robert Fisk yang meragukan pemberitaan-pemberitaan dari Aleppo karena tidak melaporkannya dari tangan pertama (Hal. 48).

‘Penjajahan informasi’ dan keraguan Robert Fisk itulah yang hendak dibuktikan oleh Dina Y Sulaeman dari bukunya yang berjudul Salju di Aleppo ini. Hasilnya? Saya kira Dina Y Sulaeman berhasil membongkar peran dan permainan media yang didukung oleh Amerika dan sekutunya dalam upaya penggulingan Bashar al-Assad. Buku setebal 258 ini mampu membuktikan beberapa kejanggalan dan ketidakkonsistenan media-media arus utama (yang pro Barat) dalam pemberitaan soal Suriah, khususnya Aleppo yang merupakan salah satu kontak penting di Suriah.

Misalnya, pada halaman 94, ada gambar anak kecil yang berlari di kuburan massal dan disebut sebagai korban pembunuhan massal di Suriah pada tahun 2012. Ternyata, setelah ditelusuri, gambar itu adalah gambar tahun 2003 dan merupakan korban pembantaian massal di Irak, bukan di Suriah.

Ada banyak hal yang behasil dibongkar dari skandal pemberitaan media di Suriah oleh Dina Y Sulaeman. Salah satu kelebihan Dina Y. Sulaeman dalam penulisan buku ini karena ia mempunyai tingkat ‘curiosity’ (semangat keingintahuan) yang tinggi dan kejelian dalam menelusuri kasus-kasus atau berita-berita yang dilihatnya ‘janggal’. Dan dari semua penelurusan itu, ia menemukan titik muara bahwa semua ini hanyalah konspirasi dalam upaya penggulingan Assad serta ada Amerika dan sekutunya di balik semua ini.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Matthew Kieran bahwa berita tidaklah dibentuk dalam ruang hampa. Berita diproduksi dari ideologi yang dominan. Ibu Dina Y. Sulaeman membuktikan kepada kita semua (pembaca) bagaimana dominannya ideologi (Barat) dalam pemberitaan-pemberitaan mengenai konflik Suriah yang sudah berlangsung lebih dari enam tahun. Membaca buku ini membuat kita semakin tahu bagaimana peta ideologi itu menggambarkan dan meletakkan peristiwa yang terjadi dari hari ke hari di Aleppo.

Dina Y Sulaeman sudah mengutip Robert Fisk yang sejak awal meragukan pemberitaan-pemberitaan dari Aleppo. Tentu saja keraguan Robert Fisk karena ada ideologi yang sangat dominan dalam pemberitaan tersebut dan melakukan penjajahan informasi.

Catatan Kritis untuk Buku DYS

Buku ini sangat penting untuk dibaca dalam memerluas wawasan dan pengetahuan kita semua mengenai situasi terkini di Suriah. Membaca buku ini pula dapat mengantarkan kita semua menjadi pembaca yang kritis, tidak serta-merta menelan mentah-mentah berita hoax yang dibungkus dengan ideologi yang dominan itu.

Buku ini sangat kaya dengan data untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan informasi tersebut. Namun demikian, ada beberapa yang bisa disebut sebagai salah satu kelemahan dari buku ini, selain dari kesalahan-kesalahan teknis; seperti kesalahan redaksi penulisan. Betul bahwa penulisnya sejak awal mengatakan bahwa ia hendak melakukan perlawanan terhadap penjajahan informasi yang masif dan itu dilakukan oleh Amerika dan sekutunya dalam upaya penggulingan Bashar al-Assad. Namun demikian, bagi yang membaca buku ini akan terkesan melihat rezim Assad sebagai rezim yang bersih dan dizalimi.

Hampir tidak ada kritik atau catatan pelanggaran dari rezim Assad dalam buku ini selama kurang lebih enam tahun terakhir. Sepertinya akan lebih baik dan bijak jika buku ini juga mencoba membongkar kasus-kasus atau pelanggaran selama perang di Suriah dari rezim Assad. Assad dalam upaya memertahankan posisinya tentu tidaklah diam, ia akan melakukan sesuatu untuk bertahan pada posisinya sebagai presiden. Termasuk dalam menjaga aliansi politiknya dengan Iran dan Rusia. Tapi mengenai keterlibatan Iran dan Rusia yang juga memberikan bantuan persenjataan tidak banyak diulas oleh buku ini.

Oleh karena itu, pembaca buku ini bisa saja berpikiran, jangan-jangan penulisnya (DYS) juga terjebak dalam peta ideologi yang dimaksudkan oleh Matthew Kieran di atas.
Semoga saja tidak karena buku (tulisan) adalah artefak peradaban dan itu hanya jika ditulis dengan maksud menyampaikan kebenaran (melawan ketidakadilan), bukan sebagai kepanjangan ideologi. Selamat membaca buku ini. Sekali lagi, buku ini sangat penting untuk dibaca, baik bagi akademisi, mahasiswa, dan pemerhati Timur Tengah.

Ahmad Sahide, Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close