Ahmad Sahide

Donald Trump, Dunia Islam, dan Masa Depan Palestina

Oleh : Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID-Amerika Serikat (AS) dikenal sebagai negara pendukung utama eksistensi Israel di kawasan Timur Tengah. Hal itu tidak terlepas dari kuatnya ‘Lobi Yahudi’ di negeri Paman Sam tersebut melalui American-Israel Public Affairs Committee (AIPAC). Lewat lembaga inilah Israel menjaga politik luar negeri Amerika agar menjaga kepentingan politik Israel di kawasan Timur Tengah. Paul Findley dalam bukunya yang berjudul Mereka Berani Bicara, Menggugat Dominasi Lobi Yahudi mengatakan bahwa mereka yang berani mengkritik Israel, di AS, berarti berada dalam bahaya politik. Bahkan Presiden AS menoleh kepada AIPAC kalau ia mempunyai problem politik yang pelik menyangkut konflik Arab-Israel (Findley, 1990). Ini gambaran singkat bagaimana bangsa Yahudi menjaga kelangsungan negara Israel di tanah Arab yang sejak awal penuh dengan kontroversi.

Baca juga :  Jujur Terhadap Orang Lain

Oleh karena itu, jika kita mengikuti dinamika politik negeri Paman Sam tersebut, sebenarnya beberapa tokoh yang mendiami White House mempunyai keinginan kuat untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina dan mengakui adanya perlakuaan tidak adil terhadap warga Arab Palestina. Jimmy Carter, mantan Presiden AS, termasuk salah satu tokoh yang mempunyai keinginan kuat untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan ini. Hal itu dapat kita baca dalam buku yang ditulisnya dengan judul Palestine Peace Not Apartheid, yang diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia oleh Dian Rakyat. Salah satu bentuk dukungan Carter kepada Palestina adalah ketika memberikan pernyataan publik dengan mengatakan, “Harus ada tanah-air yang disediakan bagi pengungsi-pengungsi Palestina yang telah menderita bertahun-tahun” (Carter, 2010).

Baca juga :  Membedah Sejarah Korupsi dan Pemberantasannya di Indonesia

Barack Obama, Presiden ke-44 AS, juga dikenal pada awalnya sebagai figur yang mempunyai komitmen kuat untuk menyelesaikan konflik Arab-Israel. Di samping itu, Obama juga beberapa kali memberikan pernyataan dan langkah politik yang kurang bersahabat dengan Yahudi dan Israel. Pada bulan Juni 2010, Obama menolak bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, karena insiden penyerbuan pasukan komando Israel atas konvoi kapal pengangkut bantuan kemanusiaan ke jalur Gaza (Kompas, 2/06/2010). Oleh karena itu, Obama kemudian mendapatkan Nobel Award, penghargaan dunia yang sangat bergengsi, setelah satu tahun mendiami White House karena dianggap mempunyai komitmen yang kuat untuk menyelesaikan konflik Arab-Israel. Namun demikian, perdamaian Arab-Israel tak kunjung selesai hingga periode kedua kepemimpinannya selesai pada Januari 2017. Barack Obama digantikan oleh Donald Trump, presiden yang cukup kontroversial.

Baca juga :  Hermeneutika Hans George Gadamer

Trump, Dunia Islam, dan Palestina

Kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton pada pilpres Amerika 8 November 2016 menimbulkan kekhawatiran dunia internasional, terutama dunia Islam karena sejak awal kampanyenya Trump seringkali mengeluarkan pernyataan politik yang akan membatasi imigran dari dunia Islam masuk ke Amerika. Oleh karena itu, respons dunia Islam sangat negatif dalam menyambut kemenangan Trump. Berbeda ketika Obama memenangi pilpres pada 2008 (Sahide, 2017). Kampanye Trump ini dibuktikan ketika sudah resmi mendiami White House

Advertisement
dengan melarang tujuh warga negara untuk masuk ke AS. Ketujuh warga negara yang dilarang itu di antaranya adalah Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman.

Trump yang kurang bersabahat dengan dunia Islam menyebabkan hubungan antara Barat dan dunia Islam akan kembali memanas sebagaimana ketegangan hubungan Barat dan dunia Islam pada era George Walker Bush yang dianggap melakukan konspirasi dengan isu World Trade Center (WTC) untuk menyerang negara-negara Islam. Iraq salah satu contohnya yang kini tak kunjung mencapai stabilitas politiknya. Trump akan kembali menyulutkan bara api kebencian antara Barat dan dunia Islam.

Selanjutnya, di penghujung tahun 2017, Trump kembali mengguncangkan tatanan politik global, terutama dunia Islam, dengan pernyataan resminya yang mengakui Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Pernyataan ini kemudian mendapatkan kecaman dari dunia internasional. Presiden Indonesia, Joko Widodo, juga merespons dengan mengatakan bahwa, “Pengakuan sepihak tersebut telah melanggar berbagai resolusi dewan keamanan PBB dan Majelis Umum PBB,” Presiden Perancis mengatakan bahwa ini sangat “Disesalkan.” Secara umum, pandangan pemimpin-pemimpin politik dunia melihat bahwa pernyataan Trump tersebut mengganggu proses perdamaian antara Israel-Palestina (Kompas, 9/12/2017).

Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang beranggotakan 57 negara merespon dengan melaksanakan Konferensi Tingkat Tinggi di Istanbul, Turki. Hasilnya, negara-negara anggota OKI sepakat untuk tidak ikut dengan Trump mengenai Jerusalem. Kamis, 21 Desember 2017, Majelis Umum PBB menggelar voting yang menyerukan agar AS menarik pengakuannya terhadap Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Hasilnya, 128 negara menyetujui resolusi tersebut, 9 negara menolak, 35 negara abstain, dan 21 negara anggota tidak menggunakan hak suaranya. Hasil sidang Majelis Umum PBB ini menunjukkan bahwa langkah politik Donald Trump sangat tidak populis di kancah politik internasional. Namun demikian, Trump tidak peduli dengan pandangan dan seruan dari pemimpin-pemimpin di dunia. KTT OKI tidak menggetarkannya. Inilah luka pertama yang digoreskan oleh Trump kepada dunia Islam, khususnya terkait dengan Palestina.

Kini, di penghujung periode pertama kepemimpinannya, Trump kembali menggoreskan luka untuk dunia Islam dan rakyat Palestina. Di tengah perjuangan Palestina untuk merdeka dan hidup dengan perdamaian, justru Amerika menjadi aktor utama membelotnya beberapa negara Arab atas perjuangan nasib Bangsa Palestina. Amerikalah yang menjadi tuan rumah ketika Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain menandatangani pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, pada Selasa 15 September 2020 (Kompas, 20/09/2020).

Oleh karena itu, dengan dua peristiwa penting dan bersejarah yang melukai hati dan perjuangan Bangsa Palestina di bawah Trump akan membuat perjuangan Palestina ke depan akan semakin suram. Palestina dalam perjuangannya membutuhkan dukungan moril dari negara-negara Arab dalam menghadapi Israel, namun kini satu persatu mulai membangun hubungan diplomatik dengan Israel. Dan Amerika ada di balik semua ini.

Yogyakarta, 27 September 2020

 

Ahmad Sahide, Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com