Ahmad Sahide

Duterte

Oleh: Dr. Ahmad Sahide

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID – Tidak bisa dimungkiri bahwa Amerika Serikat (AS) adalah negara super power di dunia saat ini. Tidak heran jika sebagian besar negara sejagat selalu berupaya untuk mendekat serta mendapatkan akses khusus ke White House (Gedung Putih), istana kepresidenan Amerika Serikat yang saat ini didiami oleh Barack Obama, Presiden AS ke-44.

Parameter yang digunakan oleh masyarakat internasional untuk menilai posisi tawar suatu negara di hadapan negara lain adalah sejauh mana kepala negara itu mampu mendapatkan perhatian khusus dari pemimpin-pemimpin AS. Dan jika ada pertemuan dalam forum-forum internasional, maka akan dilihat kepala negara dari bagian mana yang bisa duduk berdekatan atau foto bersama dengan pemimpin AS, Barack Obama kalau saat ini.

Kita pun sering mendengar atau membaca di berita adanya permintaan dari protokoler istana (diplomasi) untuk memberikan tempat duduk bagi Presiden Jokoo Widodo (Jokowi) yang bersebelahan dengan Presiden AS, Barack Obama, dan kepala-kepala negara penting lainnya, seperti Tiongkok (China) dan Rusia. Jika presiden-presiden dari negara lain bisa diapit oleh ketiga pemimpin negara itu dalam sebuah sesi foto bersama, maka hal itu akan menjadi pesan diplomatik bahwa negara tersebut mempunyai posisi tawar politik yang cukup kuat di kancah internasional.

Pemimpin yang Melawan
Meskipun AS muncul sebagai negara adidaya saat ini, yang punya kekuatan untuk mengangkat atau menggulingkan sebuah rezim di negara lain. Nyatanya tidak semua kepala negara di dunia ini melakukan langkah-langkah diplomatik untuk mendekat atau mendapatkan akses ke White House. Selalu saja ada kepala negara yang berani melakukan perlawanan kepada AS, sekalipun dengan berbagai konsekuensi yang harus diterimanya, diembargo atau terisolasi dalam pergaulan politik internasional.

Baca juga :  Status Darurat Militer Diperpanjang

Nama-nama kepala negara yang pernah dan selalu dikenang sebagai pemimpin yang bernyali dengan langkah politiknya yang anti Amerika adalah, seperti, Fidel Castro dari Kuba, Imam Khomeini dari Iran, Saddam Husain (almarhum) dari Irak, Hugo Chaves (almarhum) dari Venezuela, Evo Morales dari Bolibia. Moammar Khadafi juga semasa hidup dan berkuasanya berani bersuara lantang dengan sikap politiknya yang anti AS walaupun pada akhirnya bertekuk lutut dan mengirim ‘surat pertobatan’ kepada Obama ketika kekuasaannya di ujung tanduk.

Pemimpin yang cukup kontroversial dan sangat populer sejagat karena keberaniannya melawan hegemoni politik AS adalah Ahmadinejad, Presiden Iran dua periode sebelumnya. Di bawah Ahmadinejad, Iran muncul sebagai pemimpin kubu politik anti AS di kawasan Timur Tengah. Menghadapi AS, Iran bersikap “angkat kepala”, menentang semua ancaman, begitupun juga dengan menghadapi Israel (sekutu AS), bahkan Iran, di bawah Ahmadinejad, tegas mengancam akan menghapus Israel dari peta dunia (Satrawi, 2007 : 7).

Baca juga :  Kabar Gembira Gerakan Literasi

Kini Ahmadinejad tidak lagi sepopuler dulu seiring dengan berakhirnya masa jabatannya. Nama dan sosoknya yang kontroversial tidak lagi menghiasi berita-berita dari dunia internasional. Hugo Chaves juga telah meninggal, Fidel Castro sudah lama terbaring sakit. Khadafi sudah terbunuh setelah bergejolaknya The Arab Spring 2011 lalu. Praktis AS tidak mempunyai ‘batu sandungan’ yang dapat mengganggu hegemoninya dalam kancah politik internasional.

Di tengah berakhirnya kekuasaan pemimpin-pemimpin yang mengganggu kenyamanan hegemoni AS itulah muncul totoh baru yang cukup mengusik bagi AS. Tokoh itu adalah Rodrigo Duterte, Presiden Filipina saat ini yang belum lama dilantik. Duterte dikecam oleh dunia internasional, termasuk AS, karena kebijakan politiknya yang membasmi para pengguna dan pengedar narkoba di negaranya. Langkah politik yang berani dan kontroversial bagi Duterte itu dipandang oleh dunai internasional sebagai langkah politik yang melanggar hak asasi manusia (HAM). Namun demikian, Duterte tidak peduli dengan apa kata dunia. Ia tetap pada pendiriannnya bahwa pengedar dan pengguna obat-obatan terlarang itu penghancur masa depan bangsanya sehingga ia harus dibasmi.

Obama, sebagai Presiden AS, yang cukup keras mengecam kebijakannya justru dia sambut dengan ungkapan yang cukup mengusik bagi Washington. Duterte pernah mengatakan bahwa Obama layaknya sosok anak perempuan penghibur. Karena terusik dengan umpatannya itu, Obama membatalkan jadwal pertemuan empat matanya dengan Duterte dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN, di Laos, pada awal Oktober lalu. Terakhir Duterte mengatakan kepada Obama, “Silakan pergi ke neraka” (Kompas, 6/10/2016).

Baca juga :  Catatan di Balik Terpilihnya Donald Trump

Itulah sosok Duterte. Pemimpin kontroversial yang muncul mewarisi pemimpin-pemimpin kontroversial anti AS sebelumnya. Dunia tentu membutuhkan sosok pemimpin seperti Duterte saat ini, setidaknya untuk mengcounter hegemoni politik AS. Juga suatu pelajaran bahwa negara-negara di belahan dunia lain janganlah terlalu takluk di hadapan AS. Kita butuh pemimpin penyeimbang seperti Duterte dan semoga muncul pemimpin-pemimpin berikutnya yang kontroversial dan berani mengatakan “No”, tidak, kepada Amerika. Kita dulu pernah punya pemimpin yang dirindukan itu, yaitu Soekarno. Pidato politik provokatif Soekarno adalah “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis, dan Malaysia kita ganyang.”

Presiden Jokowi memang muncul sebagai pemimpin yang cukup fenomenal dan berbeda, tetapi ia belumlah masuk dalam barisan pemimpin yang pernah dilewati oleh Soekarno, Fidel Castro, Hugo Chaves, Ahmadinejad, Evo Morales, dan Duterte kini. Mungkin karena ada Duterte sehingga Jokowi tidak ditakdirkan berada dalam garis politik mereka. Mungkin. Tapi karena Jokowi bukan pewaris mereka maka kekayaan sumber daya alam kita masih menjadi ‘makanan empuk’ bagi AS, Freeport contohnya.

Dr. Ahmad Sahide. Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!