Ahmad Sahide

Gerakan Mahasiswa (Pemuda) Dalam Membangun Kultur Politik Berkarakter

Alangkah menyedihkan suatu bangsa yang pikiran sebagian besar warganya tak pernah lebih luas dari lingkaran piring nasi Mahasiswa Indonesia: Amarah Suci

Oleh: Dr. Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID – Melihat judul tulisan di atas, yang terlintas dalam pikiran kita tentunya adalah persentuhan gerakan mahasiswa dengan politik di Indonesia. Gerakan mahasiswa diminta untuk mengambil peran dalam membangun kultur politik Indonesia. Sedikit melirik sejarah, perjalanan bangsa Indonesia tidak lepas dari peranan kaum muda (gerakan mahasiswa). Pada tahun 1908, berdiri Boedi Oetomo yang digerakkan oleh mahasiswa, pada tahun 1928 lahir Sumpah Pemuda yang diprakarsai oleh gerakan mahasiswa, begitu pun juga pada peristiwa-peristiwa bersejarah dalam perjalanan bangsa setelahnya, selalu melibatkan gerakan mahasiwa sebagai titik sentral gerakan. Itu menandakan bahwa gerakan mahasiswa selalu bersentuhan dengan kekuasaan. Sejarah membuktikan hal tersebut.

Untuk mendiskusikan judul di atas, mari kita awali dengan sebuah klaim bahwa kultur politik Indonesia, terkhusus pasca reformasi, tidak memiliki karakter. Politik kita saat ini, dengan mengikuti perkembangan dari hari ke hari, adalah politik yang jauh dari visi keumatan. Visi politik para elite adalah visi memperkaya diri dan kelompok. Elite-elite kita saling sikut demi merebut dan mempertahankan kekuasaan, yang berkuasa menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri. Akhirnya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika politik Indonesia dewasa ini. Bahkan ia akan mengantarkan kita pada pesimisme hidup sebagai anak bangsa.

Baca juga :  Politik; Anomali dan Rekayasa Rasionalitas

Adhie Massardi, dalam bahasa puisinya, menyimbolkan politik Indonesia sebagai negeri para bedebah. …. Di negeri para bedebah/Orang baik dan bersih dianggap salah/Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan/Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah/Karena hanya penguasa yang boleh marah/Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah…. (Sambodja, 2011: 191).

Beberapa tahun terakhir ini, pemberitaan media nasional maupun lokal selalu diwarnai wajah korupsi. Hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang korupsi. Bahkan kita pernah disuguhi berita seorang Wali Kota dilantik di dalam penjara dengan kasus korupsi. Inilah wajah politik Indonesia saat ini.

Melihat kondisi seperti ini, gerakan mahasiswa, sebagai bagian dari elemen bangsa, diminta untuk mengambil peran dalam membangun kultur politik berkarakter tersebut. Pertanyaanya adalah dapatkah gerakan mahasiswa memikul peran tersebut? Serta bagaimana bentuk peran gerakan mahasiswa dalam membangun kultur politik Indonesia bekarakter yang dimaksud?

Baca juga :  Membaca Hubungan Trump-Putin; Amerika-Rusia Pasca Pertemuan Helsinki

Tentu banyak kekhawatiran yang muncul di kalangan banyak pihak bahwa jika gerakan mahasiswa bersentuhan dengan kekuasaan (politik), maka ia akan dipengaruhi atau mengikuti arus politik yang tidak berkarakter tersebut. Dan bukan dengan sebaliknya.

Bukankah hari ini banyak tokoh yang lahir dari gerakan mahasiswa yang kini sedang disorot terkait dengan kasus korupsi? Catatan serius bagi kalangan mahasiswa yang masuk dalam dunia pergerakan.

Reorientasi Gerakan Mahasiswa
Saat ini kita terkadang sulit melihat dengan warna gerakan yang berbeda antara partai politik (Parpol), organisasi sosial kemasyarakatan, dan organisasi pergerakan kemahasiswaan. Hal tersebut karena tujuan akhir (yang nampak) dari semua itu adalah kekuasaan (Sahide, 2010: 112). Dalam banyak contoh organisasi tersebut dijadikan sebagai batu loncatan untuk masuk dalam lingkaran kekuasaan. Dunia pergerakan sepertinya diorientasikan untuk menjadi bagian dari jejaring kekuasaan tersebut. perebutan pimpinan puncak pada suatu organisasi lebih karena perebutan jejaring untuk masuk dalam lingkaran kekuasaan, bukan dengan semangat pengabdian atau kontestasi gagasan. Jika orientasi ini menjangkiti gerakan mahasiswa.

Baca juga :  Tjokroaminoto dan Penista Agama
Advertisement

Sepertinya kita tidak bisa berharap banyak kepadanya untuk mengambil peran dalam membangun kultur politik yang berkarakter bagi masa depan politik Indonesia. Apalagi membangun integrasi nasional. Sepertinya para aktivis hari ini harus khatam dalam membaca sejarah gerakan mahasiswa, mulai dari Boedi Oetomo sampai jatuhnya rezim Orde Baru.

Untuk mencapai tujuan mulia tersebut, orientasi dan kultur dalam dunia pergerakan mahasiswa perlu untuk dilihat kembali atau reorientasi. Seharusnya menjadi kesadaran bersama (bagi anak gerakan) bahwa politik yang berkarakter adalah politik yang dibangun dengan gagasan yang kuat, menjunjung tinggi moralitas, memperjuangkan nilai-nilai (values) atau sistem nilai (values system) yang sifatnya universal seperti keadilan sosial, kebebasan, kemanusiaan, demokrasi, dan solidaritas kepada rakyat yang tertindas (M. Fajroel Rahman).

Oleh karena itu, penguatan intelektual dan penguatan nilai seharusnya menjadi orientasi dari gerakan mahasiswa dewasa ini. Di mana kedua hal ini dipertanyakan oleh publik. Gerakan mahasiswa tidak lagi mampu melahirkan gagasan-gagasan segar dan besar sebagai solusi dari permasalahan kebangsaan. Persentuhan gerakan mahasiswa dengan struktur kekuasaan lebih karena motif jaringan dan bukan karena gagasan. Kisruh yang terjadi dalam arena kongres teman-teman Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang sedang berlangsung di Riau tahun lalu tidak lepas dari perebutan jaringan. Kongres tidak dijadikan sebagai arena kontestasi gagasan yang ditawarkan untuk menjawab persoalan-persoalan kebangsaan. Maka saya yakin, visi dan misi yang disampaikan oleh setiap kandidat nantinya, menjelang pemilihan Ketua Umum, hanya akan membuang-buang waktu. Bukan itu yang mempengaruhi pilihan politik peserta kongres. Akan tetapi mereka dijanjikan apa. Inilah yang menjadi keprihatinan kita semua dan semoga didengar oleh para aktivis di seluruh Indonesia.

Kongres hanyalah ajang kontestasi jaringan dan unjuk kekuatan massa yang dihadirkan. Tidak heran, agenda anak-anak muda ini sarat dengan korupsi, menghabiskan uang rakyat kurang lebih tiga milyar rupiah. Di manakah keberpihakan terhadap kaum mustadafin dan rakyat kecil itu?

Padahal, idealnya politik gerakan mahasiswa adalah politik ide-ide dan gagasan, bukan politik kekuasaan. Sehingga, persentuhannya dengan kekuasaan bukan karena mengincar jabatan atau yang lainnya, melainkan ada ide-ide yang lahir dari gerakan mahasiswa yang itu perlu saluran implementasi lewat struktur kekuasaan. Dengan demikian, gerakan mahasiswa tetap pada jalurnya sebagai gerakan intelektual dan gerakan moral. Dari sanalah kita berharap politik yang berkarakter untuk Indonesia ke depan akan terbangun.

Penulis sering kali mengutip kegelisahan seorang Yudi Latif bahwa bangsa ini digerakkan dengan gagasan serampangan, moral yang rapuh, dan dengan cara main-main. Itulah wujud politik tanpa prinsip, salah satu dari tujuh dosa yang menghancurkan dunia menurut Mahatma Ghandi. Maka, gerakan mahasiswalah yang seharusnya menjawab kegelisahan seorang Yudi Latif di atas. Sayangnya gerakan mahasiswa hari ini miskin gagasan, tetapi kaya akan modal dan jaringan politik.

Semoga ini menjadi catatan reflektif bagi anak-anak muda yang mana kita baru saja merayakan hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober. Peritiwa penting yang mengikat persatuan gerakan mahasiswa yang berasal dari berbagai suku dan golongan sehingga pada akhirnya Indonesia meraih kemerdekaannya pada tahun 1945.

Dr. Ahmad Sahide. Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Pegiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com