Ahmad Sahide

Hermeneutika Hans George Gadamer

Oleh: Dr. Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS. ID – Gadamer mulai menguji pengalaman hermeneutisnya dengan mengkritisi konsep pengalaman, di mana dia menemukan konsep pengalaman yang ada terlalu berorientasi ke arah pengetahuan sebagai bentuk perasaan dan pengetahuan sebagai jasad data konseptual. Dengan kata lain, kita saat ini cenderung mendefenisikan pengalaman dalam bentuk yang sepenuhnya berorientasi ke arah pengetahuan sains dan tidak mengindahkan historisitas pengalaman dalam. Jika demikian halnya, kita secara tidak sadar memenuhi tujuan ilmu, yaitu mengobyektifkan pengalaman yang meniadakan ragam peristiwa historis terhadapnya. Melalui kekakuan metodis, eksperimentasi sains menjadikan obyek keluar dari peristiwa historisnya dan merestrukturisasikannya untuk sesuai dengan metode. Tujuan analogisnya, kilah Gadamer, dipakai dalam teologi dan filologi dengan metode kritis historis, yang dalam beberapa bagian merefleksikan kebiasaan sains untuk membuat sesuatu menjadi obyektif dan jelas (bersifat verifikasi). Sejauh spirit ini berlaku, apa yang nampak (dapat diverifikasi) adalah nyata; tidak ada suatu ruang pun yang lepas dari sisi pengalaman non-obyektif dan historis. Walhasil, defenisi pengalaman merujuk pada data ilmu ini (Palmer: 194).

Perdebatan-perdebatan yang lahir dalam hermeneutik akhirnya mengantarkan kita pada kritik Hans George Gadamer terhadap estetika modern dan kesadaran sejarah (dalam hermeneutika). Gadamer melahirkan karya Truth and Method. Karya Gadamer ini menjadikan teori hermeneutika memasuki suatu fase baru yang penting. Rekonsepsi pemahaman radikal Heidegger sekarang dalam pemikiran Gadamer digiring ke dalam ekspresi yang sangat sistematis, dan implikasinya menuju hal yang historis dan estetis dapat dipahami mulai mencuat. Konsepsi hermeneutika yang lama sebagai basis metodologis, khususnya bagi ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften), telah ditinggalkan, karena karya Gadamer mengulasnya sebagai suatu ironi: metode bukanlah cara menuju kebenaran. Sebaliknya, kebenaran menegasikan manusia yang metodis. Pemahaman tidaklah dipahami sebagai proses subyektif manusia yang berlawanan dengan obyek, namun merupakan cara keberadaan manusia itu sendiri; hermeneutika tidaklah dimaknai sebagai suatu disiplin pembantu yang bersifat umum bagi kemanusiaan tetapi sebagai upaya filosofis untuk memandang pemahaman sebagai sebuah proses ontologis dalam diri manusia. Hasil dari interpretasi ini merupakan suatu jenis teori hermeneutis yang berbeda, hermeneutika filosofis Gadamer (Palmer: 162-163).

Baca juga :  Tjokro Menyulap Salim, dari Mata-Mata ke Pejuang

Sekilas, penting untuk memahami distingsi (perbedaan) antara hermeneutika filosofis Gadamer dan bentuk hermeneutika yang berorientasi pada metode dan metodologi. Gadamer tidaklah secara langsung fokus dengan problem-problem praktis di dalam memformulasikan prinsip-prinsip yang benar bagi interpretasi; lebih dari itu, ia berkeinginan untuk menggiring fenomena pemahaman itu sendiri untuk dicuatkan. Ini tidaklah berarti bahwa ia mengingkari pentingnya memformulasikan prinsip-prinsip tertentu; sebaliknya prinsip-prinsip tertentu dipandangnya juga penting dalam disiplin interpretasi (Palmer:163). Pendekatan Gadamer lebih dekat pada dialektika Socrates daripada pemikiran manipulatif dan teknologis modern. Kebenaran tidaklah dicapai secara metodis, tetapi secara dialektis; pendekatan dialektis menuju kebenaran dipandang sebagai antitesa metode, yang tentunya merupakan suatu wahana mengatasi kecenderungan metode terhadap pra-strukturasi cara pandang individual (Palmer: 165).

Baca juga :  Ricuh Aksi Depan Istana, Ada Upaya Sistematis Diskreditkan HMI

Dengan begitu, dalam dialog hermeneutis subyek umum di mana seseorang meleburkan dirinya baik interpreter maupun teks itu sendiri merupakan tradisi, warisan budaya. Bagaimanapun, partner seseorang dalam dialog adalah teks, sudah ada dalam fiksasi bentuk tertulis. Dengan demikian, terdapat suatu kebutuhan untuk menemukan suatu cara bagi dialog give-and-take. Inilah tugas hermeneutika. Bagimanapun juga, formulasi yang sudah disesuaikan harus diletakkan balik dalam gerakan percakapan, suatu gerakan di mana teks mempertanyakan penafsir dan penafsir mempertanyakan teks tersebut. Tugas hermeneutika adalah membawa teks keluar dari alienasi di mana ia mendapatkan dirinya (sebagai bentuk tertulis) kembali ke dalam suasana kekinian dialog yang hidup, di mana pemenuhan primordialnya adalah dengan pertanyaan dan jawaban (Palmer: 199-200).

Baca juga :  Pilpres, Hitung Cepat, dan Pasar

Kritik Gadamer atas Pemahaman Sejarah
Wilhelm Dilthey telah menghabiskan usianya untuk mencoba menetapkan suatu metode non-naturalistik bagi pemahaman sejarah dan dalam fase-fase berikutnya mencoba untuk memberikan landasan studi kemanusiaan ke dalam suatu bentuk historis dan hermeneutis, bukan naturalistik yang menetapkan gagasan-gagasan dan prosedur. Pengalaman dan hidup itu sendiri merupakan tema baru. Ketika ia dipandang sebagai bagian makna pengalaman menjadi pengetahuan, dan dengan begitu maka pengalaman ada di dalam hidup itu sendiri, suatu refleksi imanen. (Palmer: 177-178).

Tujuan Dilthey adalah untuk mengembangkan metode memperoleh interpretasi obyektivitas yang valid dari ekspresi kehidupan-batin. Dilthey benar-benar menerima inkonsistensi epistemologis klaim mazhab historis Jerman atas persoalan obyektivitas sebagai sesuatu gabungan yang tidak kritis terhadap perspektif idealis dan realis. Pengalaman konkret, historis, dan hidup harus menjadi titik awal dan titik akhir bagi geisteswissenschaften (Palmer: 98-99). Kehidupan, bagi Dilthey, tidaklah berarti kembali kepada landasan atau sumber mistis keseluruhan hidup baik manusia atau non-manusia, atau ke beberapa bentuk energi fisik fondasional. Lebih dari itu, kehidupan dilihat dalam terminologi makna; kehidupan adalah pengalaman manusia yang dikenal dari dalam (Palmer: 104-105).

Advertisement

Pendekatan historisitas inilah, yang dikembangkan oleh Dilthey, yang dikritik oleh Gadamer. Hermeneutika Gadamer dan kritiknya atas kesadaran sejarah menegaskan bahwa masa lalu tidak seperti sebuah tumpukan kenyataan yang dapat dijadikan sebuah obyek kesadaran, namun lebih sebagai sebuah arus di mana kita bergerak dan berpartisipasi dalam setiap tindakan pemahaman. Dengan begitu, tradisi bukanlah sesuatu yang berlawanan dengan kita, namun merupakan sesuatu di mana kita berdiam diri dan sepanjang mana kita eksis; dalam kiasan yang sangat terkenal ia bersifat sangat transparan sebagai sebuah mediasi yang seolah-olah tidak terlihat pada kita sebagaimana tidak terlihatnya air bagi ikan (Palmer: 176-177). Di sini Gadamer melihat sejarah sebagai bagian dari fenomena yang harus didekati dalam hermeneutika.

Gadamer, juga sependapat dengan Heidegger, bahwa bahasa merupakan gudang dan media komunikasi tradisi; tradisi menyembunyikan dirinya sendiri dalam bahasa dan bahasa merupakan sebuah media seperti halnya air. Bagi Heidegger dan Gadamer, bahasa, sejarah, dan keberadaan, semuanya tidak hanya saling berhubungan namun juga saling menyatu, untuk itulah maka linguistikalisasi keberadaan sekaligus merupakan ontologinya menjadi beradanya dan merupakan media historisitasnya. Menjadi berada merupakan suatu peristiwa di dalam sejarah dan ia dipengaruhi oleh dinamika historikalitas; ia merupakan peristiwa bahasa (Palmer: 177). Bagi Gadamer, keseluruhan interpretasi ada dalam kebenaran spekulatif. Untuk itu, hermeneutika harus melihat keseluruhan keyakinan dogmatis dalam makna yang tidak terbatas dalam dirinya sendiri, sebagaimana filsafat kritis telah melihat dogmatisme pengalaman. Dengan demikian, interpretasi teks bukanlah keterbukaan pasif tetapi merupakan interaksi dialektis dengan teks; ia bukanlah perolehan yang hampa tetapi merupakan suatu kreasi baru, sebuah peristiwa baru dalam pemahaman (Palmer: 211-212).

Sebenarnya masa sekarang tidak dapat ditinggalkan begitu saja untuk masuk pada masa lalu; makna dari sebuah karya masa lalu tidak dapat dilihat secara menyendiri dalam term dirinya sendiri. Sebaliknya, makna karya masa lalu didefinisikan dalam term pertanyaan-pertanyaan yang diarahkan padanya dari masa sekarang (Palmer: 182). Bagi Gadamer, ketegangan antara masa kini dan masa lalu dengan sendirinya, bahkan dalam beberapa kebermanfaatan cara merupakan faktor penting dalam hermeneutika: Suatu posisi antara hal yang asing dan familiar berada di antara tujuan yang berlaku secara historis, merenggangkan obyektivitas warisan budaya dan rasa kepemilikan kita akan sebuah tradisi. Dalam hal keberantaraan inilah posisi sebenarnya hermeneutika. Dengan begitu, mediasi hermeneutika melibatkan baik mana yang secara historis dimaksudkan maupun yang secara historis merupakan tradisi, namun ini tidaklah bermakna bahwa tugas hermeneutika adalah untuk mengembangkan suatu prosedur metodis pemahaman, melainkan untuk mengklarifikasi persyaratan-persyaratan di mana pemahaman dapat terjadi (Palmer: 184). Dari sini, maka dialektika hermeneutik yang digagas oleh Gadamer akan terjadi.

Kesadaran Historis Otentik
Terhadap bentuk kesadaran historis yang dikritiknya, Gadamer berusaha menggambarkan suatu bentuk kesadaran otentik di mana sejarah konstan dapat berfungsi. Gadamer menjelaskan bahwa kesadaran historis otentik bukanlah kesadaran historis Hegelian yang menempatkan kesadaran dalam atmosfir refleksivitas dan menjadikannya sebagai mediasi sejarah dan masa kekinian. Kesadaran historis otentik ini merupakan suatu kesadaran spekulatif dan dialektis, namun makna dialektis bukanlah mediasi-diri terhadap nalar tetapi merupakan struktur pengalaman itu sendiri (Palmer: 191).

Gadamer menggunakan tipologi tiga bentuk hubungan Saya-kamu (I-thou) jangan disamakan dengan hubungan Saya-kamu (I-thou) Martin Buber. Untuk membantu mengkondisikan dan mengklarifikasi hakikat kesadaran operatif historis: (1) kamu (thou) sebagai obyek dalam sebuah bidang, (2) kamu sebagai proyeksi refleksif, dan (3) kamu sebagai pengucapan tradisi. Hanya tipologi ketigalah yang dimaksudkan Gadamer sebagai kesadaran historis otentik yang merupakan hubungan hermeneutis (Palmer: 191-192)

Hubungan I-thou, bentuk ketiga, dicirikan oleh keterbukaan murni terhadap kamu (thou). Inilah hubungan yang tidak memproyeksikan makna dari saya (I), namun justru memiliki sebuah keterbukaan murni yang membiarkan sesuatu untuk dikatakan. Hubungan ini merupakan bentuk keterbukaan yang berkeinginan untuk mendengarkan daripada menguasai, berkeinginan dimodifikasi oleh yang lain. Hubungan ini merupakan kesadaran operatif historis, the wirkungsgeschichtlich Bewusstsein (Palmer: 193). Kesadaran ini mencakup suatu hubungan dengan sejarah di mana teks tidak pernah sepenuhnya dan secara obyektif merupakan hal lain, karena pemahaman bukanlah rekognisi pasif dari keberlainan masa lalu namun lebih dari itu merupakan suatu penempatan dari seseorang sehingga dimungkinkan klaim oleh yang lain. Ketika sebuah teks historis dibaca semata historis, maka suasana kekinian telah menjadi dogmatis dan ditempatkan di luar pertanyaan dan persoalan yang akan diajukan (Palmer: 193).

Dr. Ahmad Sahide. Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com