Ahmad Sahide

Hillary Clinton

Oleh: Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID – Hillary Rodham Clinton, jika tidak ada aral melintang, akan menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke-45, meneruskan kepemimpinan Barack Obama, yang juga dari partai Demokrat. Hal ini berangkat dari jajak pendapat yang ada di mana selalu mengunggulkan Hillary dari Donald Trump, kandidat yang diusung dari partai Republik. Jajak pendapat terakhir mengunggulkan Hillary antara 6-7 digit. Hillary juga selalu unggul dari semua debat capres yang telah diselenggarakan. Pertanyaan yang muncul tentunya adalah apa yang membuat Hillary mengungguli Donald Trump? Mari kita mulai dengan sedikit mengulas perjalanan Hillary menuju Gedung Putih (White House).

Perjalanan Hillary

Hillary Clinton bukanlah tokoh yang baru muncul dalam kancah politik Amerika, bahkan dunia. Berbeda dengan Barack Obama yang muncul 2008 lalu. Pada saat itu, Obama muncul sebagai tokoh yang baru dan muda. Sejak tahun 1990-an, nama Hillary sudah dikenal luas di Amerika dan dunia. Terhitung sejak 1992-2000, ia menjadi first lady di Amerika, menjadi istri Presiden Bill Clinton, presiden ke-42 AS. Hanya saja, popularitas sosok dari Hillary saat itu tidak terlepas dari sosok suami yang didampinginya. Sebagai catatan, Bill Clinton termasuk salah satu Presiden AS yang cukup populer dan kharismatik, walaupun karir politiknya sedikit ternodai dengan perselingkuhannya bersama Monica Lewinski, perempuan cantik dan cerdas yang magang di kantor presiden. Kehadiran perempuan itu jugalah yang sering kali dijadikan oleh Donald Trump untuk menyerang Hillary.

Setelah masa jabatan Bill Clinton selesai tahun 2000, tentu saja Hillary juga mulai tenggelam dari pemberitaan media. Kalaupun muncul di media, hanya sesekali. Berbeda ketika masih mendiami Gedung Putih mendampingi suaminya yang hampir setiap hari menjadi incaran media. Perempuan yang muncul dan sangat populer setelah kepergian Hillary adalah Laura Bush, istri dari Presiden AS ke-43, George Walker Bush.

Baca juga :  Andai Bukan Hillary

Rupanya Hillary tidak benar-benar pergi, ia menunggu momentum untuk kembali. Dan momentum itu adalah ketika periode kepemimpinan Bush akan berakhir 2008 silam. Bermodalkan popularitas dan jaringan politik suaminya, Hillary ikut konvensi untuk nominasi calon presiden dari partai Demokrat.

Hillary belum beruntung, ia kalah bersaing dari sosok baru dan muda di partainya, yaitu Barack Obama. Kehadiran Obama yang sangat fenomenal tidak mampu dibendung oleh Hillary sekalipun bermodalakan pengalaman dan jaringan politik yang dimiliki oleh keluarganya, terutama suaminya. Pada saat itu, Obama menang konvensi partai Demokrat dan berhak untuk maju sebagai calon presiden Amerika dari partai Demokrat. Menuju Gedung Putih, Obama menantang tokoh senior dari partai Republik, John McCain.

Jauh sebelum pemilihan presiden berlangsung, yang diselenggarakan pada tanggal 4 November 2008, Obama sudah diprediksi akan menang mudah melawan tokoh veteran dari Republik tersebut. Hasilnya memang demikian, hasil pemilihan mengunggulkan Obama dengan perolehan suara electoral vote 349, sementara McCain hanya mendapat 173 (Sahide, 2013: 125-126).

Setelah Obama terpilih dan dilantik, pertarungannya yang seru, panas penuh intrik dalam konvensi internal partainya tidaklah membuat kerja sama Obama dengan Hillary berakhir. Obama mengangkat Hillary sebagai Menteri Luar Negerinya (Menlu). Sebagai catatan tambahan, Menlu AS diyakini memiliki kekuasaan politik nomor dua setelah presiden. Itu karena AS adalah pemimpin dunia dan banyak terlibat dengan urusan dalam negeri negara lain di dunia. Dan itu di bawah kekuasaan Menlu.

Baca juga :  Islam dan Teologi Moral

Posisinya sebagai Menlu membuat Hillary kembali menjadi incaran media ke manapun ia pergi. Sosoknya kembali menjadi salah satu perempuan berpengaruh dan kuat di dunia. Namun demikian, setelah periode pertama kepemimpinan Obama berakhir 2012 lalu, Hillary tidak lagi menduduki pos penting itu. Dirinya tidak lagi masuk dalam jajaran kabinet Obama peiode 2012-2016.  Setelah itu, dirinya kembali hanya muncul sesekali di media, baik nasional maupun internasional.

Satu tahun menjelang berakhirnya periode kedua kepemimpinan Obama, Hillary mendeklarasikan dirinya untuk maju dan ikut konvensi dari partai Demokrat. Obama, yang menjadi saingan berat dan mengalahkannya 2008 lalu, kini menjadi pendukungnya. Hillary pun diprediksi bakal memenangi konvensi dan hasilnya memang demikian. Sosoknya kembali menjadi menarik dan selalu diincar media. Maka praktis, jika dihitung sejak tahun 1992 sampai 2016 ini, Hillary sudah muncul di panggung politik Amerika selama 24 tahun. Tidak heran, sosoknya sangat populer di mata masyarakat Amerika dan dunia.

Itulah modal politik penting bagi Hillary yang tidak semata mengandalkan kekuatan uang dan penguasaan media seperti lawan politiknya kini, Donald Trump. Hillary mengandalkan rekam jejak perjalanan politik selama dua dekade lebih terakhir. Tidak heran, dalam tiga kali debat capres yang diselenggarakan, Hillary selalu unggul dan jauh lebih menguasai persoalan daripada Donald Trump yang selama berpuluh-puluh tahun hanya malang-melintang dalam dunia bisnis, termasuk menguasai banyak stasiun televisi. Sosoknya memang terkenal di Amerika, tapi di dunia internasional ia baru muncul. Trump juga tidak banyak menguasai persoalan politik, baik domestik dan terlebih politik global.

Baca juga :  Ricuh Aksi Depan Istana, Ada Upaya Sistematis Diskreditkan HMI

Sejarah dan kesempurnaan demokrasi

Amerika dikenal sebagai negara kampiun demokrasi, negara yang menjunjung tinggi kesetaraan hak laki-laki dan perempuan. Tapi, dalam sejarahnya Amerika belum pernah dipimpin oleh presiden perempuan, dalam hal ini Indonesia melangkah lebih maju karena pernah memiliki presiden perempuan, yaitu Megawati Soekarno-Putri. Oleh karena itu, jika Hillary menang pemili 6 November nanti, maka sempurnalah perjalanan demokrasi Amerika. Hillary akan dicatat sejarah sebagai perempuan pertama yang berhasil mendiami Gedung Putih sebagai presiden, bukan sebagai First Lady. Hillary juga akan menorehkan sejarah baru di mana sepasang suami-istri berhasil menjadi Presiden AS. Ini juga belum pernah terjadi di Amerika dan mungkin di belahan dunia lain yang menganut sistem demokrasi.

Inilah yang kita nanti dari daur ulang demokrasi Amerika 6 November nanti. Terciptanya sejarah, dan ingat hanya pemimpin yang mencipta sejarahlah yang akan selalu dikenang. Obama 2008 lalu menciptakan sejarah sebagai Presiden AS pertama dari kulit hitam. Kini Hillary sedang berjalan menuju panggung sejarah politik AS sebagai perempuan pertama dan sepasang suami-istri pertama yang menjadi presiden AS. Jika Hillary menang 6 November nanti dan setelah periode kepemimpinannya berakhir, ia tidak lagi hilang tapi akan selalu dikenang dengan sejarah yang ditorehkannya. Wait and see!

Yogyakarta, 23 Oktober 2016

Dr. Ahmad SahideDosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!