Ahmad Sahide

Islam Indonesia di Mata Kevin Fogg

Oleh: Dr. Ahmad Sahide*
SPEKTRUM, EDUNEWS.ID – Kunjungan Kevin Fogg dari Oxford Center of Islamic Studis di Yogyakarta dimanfaatkan dengan baik oleh Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. FAI membuat forum Seminar on Islamic Studies dengan tema “Indonesian Islamic Organizations In an International Context; What makes Indonesia Exceptional?” Dalam seminar kali ini Kevin Fogg dinobatkan sebagai pembicara tunggal.

Kevin Fogg yang sudah cukup lama meneliti organisasi Islam Indonesia memaparkan bagimana Islam di Indonesia yang unik dan menarik. Fogg melakukan pendekatan struktural dan saat ini sedang mendalami organisasi Islam Indonesia di Lombok, Palu, dan Medan. Dalam kajian orientalisme, kehadiran Fogg (orientalis) memberikan perspektif outsider (orang luar) yang sangat penting untuk didialogkan dengan perspektif insider (orang Islam/Indonesia itu sendiri).

Menurut Fogg, Islam Indonesia tidak banyak berbeda dari Islam di negara-negara lain jika dilihat dari aspek teologinya, “Secara teologi, Islam Indonesia tidak banyak berbeda,” Katanya. Namun secara struktural, Islam (bentuk) Islam Indonesia sangat berbeda dari Islam di Negara-negara lain. Seperti Islam di Malaysia dan juga Islam di negara-negara Timur Tengah.

Baca juga :  Pekerjaan (Penulis) Kliping

Empat Faktor

Ada 4 faktor yang dilihat oleh Kevin Fogg yang membuat Islam Indonesia cukup berbeda dan menarik. Keempat faktor itu adalah; pertama, Indonesian Islamic Organizations are Large and influential. Organisasi Islam Indonesia mempunyai jumlah anggota yang cukup besar dan sangat berpengaruh terhadap pemerintahan. Nahdatul Ulama (NU) disebut-sebut mempunyai anggota kurang lebih 60 juta, sementara Muhammadiyah diperkirakan ada 40 juta jumlah anggotanya. Jumlah anggota yang cukup besar itulah yang membuatnya cukup berpengaruh dan punyai nilai tawar di hadapan pemerintah yang cukup tinggi.

Hal itu dilihat oleh Fogg, misalnya, bahwa ketika ada agenda-agenda penting organisasi (Muktamar misalnya), pihak pemerintah, bahkan Presiden Republik Indonesia, turut hadir. Tidak heran kemudian jika Presiden Joko Widodo hadir membuka secara resmi Muktamar NU yang berlangsung di Jombang dan Muktamar Muhammadiyah di Makassar pada bulan Agustus 2015 lalu.

Baca juga :  Menulis ; Memberi Melalui Teks

Kedua, Indonesian Islamic Organizations are modern and comprehensive. Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) banyak diangkat oleh Fogg dalam melihat faktor yang kedua ini. Misalnya pemilihan pemimpin (kemunculan tokoh-tokoh) kedua ormas ini lebih Karena faktor rasional, bukan karena faktor kharismatik. Bahwa organisasi Islam Indonesia comprehensif itu karena mereka mempunya amal usaha, NU dan Muhammadiyah mempunyai banyak lembaga pendidikan dan juga rumah sakit.

Hal ini, katanya, tidak dia temukan di Inggris, di Jerman, dan di Amerika. Indonesian Islamic organizations, menurut Fogg, tidak hanya bergerak di satu bidang, tetapi pada semua sektor kehidupan; pendidikan, ekonomi, dan juga politik. Indonesian Islamic organizations bisa menjadi negara dalam negara tetapi tidak merusak hubungannya dengan pemerintah, bahkan bersinergi. Dalam sejarahnya pun tercatat bahwa NU dan Muhammadiyah mempunyai peran besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, termasuk keterlibatan tokoh kedua ormas itu dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara.

Baca juga :  Catatan tentang Tulisan

Ketiga, Indonesian Islamic organizations are separate from the government. Artinya bahwa organisasi Islam di Indonesia bersifat independen, sekalipun tidak bisa dinafikan adanya hubungan yang saling memengaruhi di antara keduanya. Sebelumnya sedikit disinggung yang bisa disebut negara dalam negara yang membangun sinergi satu sama lain. Bukan negara dalam negara yang mengganggu kedaulatan NKRI. Dan saat ini Muhammadiyah dan NU menjalin kerja sama dengan pemerintah dalam gerakan deradikalisasi di Indonesia, terutama dalam membendung penyebaran pengaruh dan sayap gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS).

Advertisement

Keempat, Indonesian Islamic Organizations are not opposed to the government. Keberadaan organisasi-organisasi Islam di Indonesia tidak untuk melawan pemerintah, bahkan bisa bekerja sama dan tidak jarang membantu pemerintah dalam hal ide-ide dan gagasan pembangunan. Ikhwanul Muslimin, misalnya yang dilihat oleh Fogg, selalu berhadap-hadapan dengan pemerintah. Bahkan saat ini kembali dijadikan sebagai organisasi yang terlarang. Islam di Malaysia, lanjutnya, juga terlalu diatur oleh pemerintah. Organisasi Islam di Indonesia bersifat independen (separate) tetapi tidak melawan atau juga tidak dilawan serta tidak dianggap berbahaya oleh pemerintah (negara).
Organisasi Islam di Mesir memang besar, terpisah dari pemerintah, bersifat komprehensif jugat, tetapi kehadirannya berhadap-hadapan dengan pemerintah. Maka, kehadirannya selalu menjadi gangguan dalam kehidupan bernegara di Mesir.

Islam Indonesia tidaklah demikian adanya. Islam Indonesia besar dan berpengaruh, terpisah dari pemerintah tetapi tidak melawan atau dilarang oleh pemerintah. Meskipun dalam beberapa periode ada ketegangan hubungan dengan pemerintah. Muhammadiyah dan pemerintah pada periode kedua kepemimpinan Susilo Bambang Yudoyono (SBY) misalnya mempunyai hubungan yang kurang harmonis.

Hal itu karena Muhammadiyah secara terang-terangan mendukung Jusuf Kalla (JK)-Wiranto dalam pemilihan presiden dan wakil presiden 2009, yang dikalahkan oleh SBY. Selain itu, tokoh berpengaruh Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif, sering kali memberikan kritikan pedas kepada pemerintahan SBY-Boediono. SBY pun tidak memberikan jatah Menteri Pendidikan kepada Muhammadiyah yang biasanya pos itu adalah jatah khusus Muhammadiyah sebagaimana kementerian agama adalah jatah yang selalu diberikan kepada NU. Tetapi ketegangan hubungan ini tidaklah masuk dalam kategori opposed to the government yang dapat mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara.

Keempat faktor inilah yang dieksplorasi oleh Fogg selama kurang lebih dua jam dalam Seminar on Islamic Studies yang berlangsung di lantai 1 gedung Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada hari Selasa, 23 Agustus 2016. Kevin Fogg sendiri mengakui bahwa pembacaannya terhadap organisasi Islam di Indonesia ini masih belum matang dan akan terus melakukan kajian secara mendalam. Kita tunggu saja hasil kajian dan pembacaan Fogg terhadap organisasi Islam di Indonesia berikutnya. Dan hasil kajiannya itu penting untuk kita dialogkan dengan hasil pembacaan atau kajian dari kita (orang Islam Indonesia). Di sinilah dialog insider-outsider itu akan terlaksana dan penting untuk memahami Islam lebih baik.

Kedekatan kita sebagai insider dengan Islam membuat kita terkadang fanatik dan ada hal-hal yang luput dari penglihatan dan pengamatan, maka kita membutuhkan kehadiran outsider untuk membantu menunjukkan hal-hal yang luput dari pengamatan itu walaupun tidak menutup kemungkinan pihak outsider mempunyai pengamatan dan pembacaan yang keliru, baik itu karena jarak maupun faktor yang lainnya. Selamat berdialog dengan Islam hasil pembacaan Kevin Fogg!

Dr. Ahmad Sahide. Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Buku terbarunya “Kekuasaan dan Moralitas”.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com