Ahmad Sahide

Istanbul dan Sejarah Kebesaran Islam

 

 

Oleh : Dr Ahmad Sahide*

OPINI, EDUNEWS.ID – Istanbul adalah kota yang sudah lama saya kenal dari membaca buku-buku sejarah. Hal itu karena Istanbul adalah bagian penting dari sejarah peradaban Islam. Kota ini menjadi saksi terakhir kejayaan Dinasti Islam, yaitu Usmani.

Dinasti yang mulai eksis ketika Abbasiyah dihancurkan oleh Bangsa Mongol (1258) yang mana pusat kekuasaannya berada di Baghdad, Irak. Satu lagi yang menjadi pusat dari kejayaan Islam masa lalu adalah Damaskus, kota yang kini juga masih bergejolak pasca The Arab Spring 2011 lalu.

Tercatat, Dinasti Usmani berakhir pada tahun 1924 ketika Mustafa Kemal Attaturk mendirikan Republik Turki yang sekuler; memisahkan agama dan politik. Attaturk percaya bahwa untuk membangun Turki dan dapat bersaing dengan negara-negara Eropa dan barat lainnya, maka agama dan politik haruslah dipisahkan.

Inilah ideologi Attaturk dalam membangun Turki yang modern. Makanya namanya pun tidak bisa hilang dari ingatan masyarakat Turki sebagai peletak awal berdirinya Negara Republik Turki yang modern.

Di Istanbul, namanya diabadikan dengan memberi nama bandara internasional dengan namanya, Ataturk Havalimani-Airport. Oleh karena itu, setiap orang datang dan pergi melalui udara, pasti akan melihat nama Ataturk yang abadi tersebut.

Tulisan sederhana ini hanyalah sekadar mengabadikan kunjungan saya ke Istanbul; kota yang menyimpan sejarah kebesaran Dinasti Usmani. Kota yang menjadi pertemuan dua kultur yang berbeda, Barat (Eropa) dan Timur.

Maka dari itu, dengan berada di kota ini kita akan melihat pertemuan itu dari berbagai hal. Dengan mudahnya kita akan melihat orang-orang dengan fisik Eropa tetapi berjilbab (Islam), tetapi juga banyak yang tidak berjilab. Entah agamanya Islam atau bukan. Itulah salah satu ciri khas Istanbul; kota yang menjadi titik temu dua peradaban.

Mengunjungi Aya Sofya

Salah satu bagian dari sejarah Istanbul yang dikenal luas oleh umat Islam adalah Aya Sofya. Ini bagian dari sejarah yang mengangkat harkat umat Islam ketika Sultan Mehmet II menaklukkan tempat ini pada 29 Mei 1453. Dengan penuh kemenangan, Sultan Mehmet II melawati Gerbang Adrianopolis, yang
kini dikenal Adirne Kapi pada Selasa Sore di tahun itu (Freely, 2012: 227).

Bangsa Turki memberi julukan kepada Sultan Mehmet sebagai Fatih, yaitu sang penakluk. Al-Fatihlah yang berhasil menaklukkan Gereja Besar Aya Sofya. Setelah menaklukkan Gereja Besar itu, Al-Fatih memerintahkan agar gereja tersebut dialihkan menjadi sebuah masjid dengan nama Aya Sofya Camii Kabir, Masjid Besar Aya Sofya (Freely: 228).

Terkait dengan sejarah Al-Fatih, juga sudah ada film dengan judul yang sama yang menceritakan kepada kita semua bagaimana perjuangan Al-Fatih menaklukkan tempat tersebut yang kini masih ada dan telah menjadi musium. Satu hal yang perlu dicatat, ketika menaklukkan gereja ini, Al-Fatih tidak membantai umat kristiani yang berada di dalam gereja tersebut.

Dari filmnya, kita dapat melihat Al-Fatih mendatangi para umat kristiani, yang sedang ketakutan, dan membebaskan mereka untuk memeluk agamanya. Al-Fatih berhasil menaklukkan keegoan benteng pertahanan gereja, tetapi ia tidak menaklukkan keimanan mereka.

Suatu pelajaran penting dari Al-Fatih, Sang Penakluk. Sabtu, 21 April 2018, saya mempunyai kesempatan untuk mengunjungi dan melihat langsung bangunan bersejarah ini dari dekat. Saya ditemani oleh beberapa mahasiswa Turki asal Indonesia. Saya kemudian menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat langsung saksi sejarah penaklukan Sultan Al-Fatih pada abad ke-15 tersebut.

Persis di depan masjid Aya Sofya, berdiri kokoh masjid enam menara, orang-orang mengenalnya dengan sebutan Masjid Biru (Blue Mosque). Masjid yang didirikan atas perintah Sultan Ahmed I, dari tahun 1609-1616. Pada awal beridirinya, masjid ini menimbulkan kontroversi karena memiliki menara yang menyaingi masjid di Mekah.

Kini Aya Sofya dan Blue Mosque menjadi tempat wisata bagi para wisatawan asing yang datang dari berbagai negara. Aya Sofya, sekalipun telah menjadi musium, kita masih mendengarkan suara adzan setiap waktu sholat tiba. Meskipun, tempat ini tidak lagi dimanfaatkan untuk sholat (beribadah), suara adzan masih terus berkumandang untuk mengenang kehebatan Al-Fatih sewaktu menaklukkan tempat ini pada abad ke-15 yang lalu.

Kehebatan yang sebenarnya ingin disaingi oleh Sultan Ahmed I dengan mendirikan Masjid Biru pas di hadapannya. Sepertinya pembangunan Masjid Biru agak politis oleh Sultan Ahmed I. Yaitu untuk menyaingi eksistensi dan sejarah yang ditorehkan oleh Al-Fatih.

Tapi terlepas dari itu semua, salah satu daya tarik dari Istanbul adalah Aya Sofya dan Blue Mosque. Rasanya tidak sah mengunjungi Istanbul tanpa mengunjungi tempat ini. Istanbul adalah kota yang menjadi saksi sejarah kejayaan Islam pada masa lalu dan suatu kehormatan tersendiri bagi saya karena mempunyai kesempatan untuk melihat langsung saksi sejarah kejayaan Islam tersebut. Salam dari Istanbul. Kota yang sangat plural, pertemuan antara Barat dan Timur sangat terasa di kota ini.

Istanbul, 24 April 2018

Ahmad Sahide, Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!