Ahmad Sahide

Kabar Gembira Gerakan Literasi

Oleh: Dr. Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID – Sebagai orang yang aktif dalam dunia literasi (gerakan membaca dan menulis), terutama dengan menggerakkan Komunitas Belajar Menulis (KBM), saya merasa mendapatkan kabar gembira atau angin segar ketika membaca headline harian Kompas pada hari Rabu, 3 Mei 2017.

Foto yang terpampang lebar pada halaman depan harian Kompas pada hari itu adalah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencoba mengendarai “Motor Pustaka” milik Sugeng Hariyono, salah satu penggiat literasi asal Lampung. Selain Sugeng Hariyono, hadir pula penggiat literasi dari Sulawesi, Muhammad Ridwan Alimuddin.

Tepatnya pada hari Selasa, 2 Mei 2017, yang diperingati sebagai hari pendidikan nasional, Presiden Jokowi mengundang ke istana sejumlah penggiat literasi. Mereka saya sebut sebagai active citizen, warga negara yang aktif melakukan gerakan-gerakan sosial untuk merubah kondisi sosial masyarakat Indonesia.

Mereka bergerak tanpa pamrih, tidak melulu memikirkan sertifikasi, bahkan mungkin mereka tidak paham betul apa itu yang disebut sertifikasi.

Mereka hanya tahu bagaimana menghadirkan buku-buku untuk dibaca oleh generasi penerus bangsa kita. Tidak sedikit dari mereka yang menyisihkan sedikit uang dari hasil usaha kecil-kecilannya untuk membeli buku-buku demi gerakan pencerdasan anak bangsa ini.

Terkadang pula mereka dianggap sebagai orang gila oleh sekelompok masyarakat tertentu dengan gerakan tersebut. Tapi semua itu, tidaklah menghentikan langkahnya untuk bergiat dalam mendorong putra-putri bangsa untuk meningkatkan tradisi membacanya, syukur-syukur bisa menulis.

Hal itu karena mereka tahu bahwa tingkat membaca masyarakat Indonesia sangatlah rendah. Berdasarkan hasil survei UNESCO (2012) menyebutkan bahwa anak-anak Indonesia hanya mampu mambaca 27 halaman buku per tahun. Dengan kata lain, anak-anak usia sekolah di Indonesia hanya mampu membaca satu halaman buku selama 15 hari.

Padahal sebagai perbandingan di Amerika Serikat satu penduduk bisa membaca 20 hingga 30 judul buku, di Jepang antara 10 hingga 15 buku. Di Asia berkisar 1 hingga 3 buku. Sementara di Indonesia hanya mampu 0 sampai 1 buku setiap tahunnya. Menurut UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia yang paling rendah di ASEAN dengan indeks membaca masyarakat Indonesia yang baru sekitar 0,001. Meprihatinkan bukan?

Di sinilah pentingnya para penggiat literasi itu dihargai. Yang mengabdi tanpa harus mendapatkan tunjangan sertifikasi, mereka adalah guru sejati bangsa Indonesia. Yang tidak bisa tidur nyenyak dengan rendahnya minat baca masyarakat kita.

Itulah mengapa Sugeng Hariyono terus bergerak dengan “Motor Pustakanya”, begitu pula dengan M. Ridwan Alimuddin yang terus bergerak dengan “Nusa Pustaka” milikinya. Dan seturut catatan saya, telah banyak bermunculan komunitas-komunitas atau kelompok masyarakat di Indonesia yang aktif dalam dunia literasi.

Kabar gembira

Apa yang telah mereka lakukan selama ini rupanya didengar oleh Presiden Jokowi sehingga presiden memberikan undangan khusus kepada mereka untuk bertemu dan berbincang di istana. Sejak saya aktif dalam menggerakkan KBM, ini pertama kali saya membaca di media nasional di mana para penggiat literasi diundang ke istana dan bertemu presiden.

Saya melihat bahwa ini bagian dari apresiasi tinggi Presiden Jokowi kepada para guru sejati bangsa ini. Dan jika memang betul Presiden Jokowi ingin menepati janjinya mencerdaskan anak-anak bangsa, maka ia tidak hanya sibuk membagi-bagikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang kadang hanya menjadi proyek bagi kelompok tertentu, tetapi para penggiat literasi haruslah dilirik dan diapresiasi.

Mereka punya peran dan jasa besar dalam gerakan pencerdasan anak bangsa. Oleh karena itu, undangannya ke istana negara pada hari pendidikan nasional kepada para penggiat literasi merupakan apresiasi positif dari pemerintah dan ini tentu menjadi kabar gembira.

Apresiasi Presiden Jokowi kepada para penggiat literasi juga harus kita apresiasi dan beri salam hormat untuknya. Ini menunjukkan bahwa Presiden Jokowi mempunyai keseriusan untuk mencerdaskan putra-putri bangsa.

Tentu saja kita berharap bahwa setelah Presiden bersama penggiat literasi di istana, gerakan ini akan semakin masif, semakin banyak active citizen yang bermunculan di berbagai daerah dan pelosok Tanah Air. Karena itu adalah pekerjaan mulia, pekerjaan mencerdaskan anak-anak bangsa. Itu bukanlah pekerjaan gila, yang kadang terlontar dari mulut masyarakat yang tidak mengapresiasi gerakan semacam ini.

Kita juga berharap bahwa jajaran pemerintahan ke bawah, gubernur, bupati/wali kota, melakukan hal yang sama dengan Presiden Jokowi; melirik dan mengapresiasi para penggiat literasi di daerah-daerah.

Jika 34 gubernur melakukan ini, dan juga para bupati dan wali kota, maka gerakan mencerdaskan anak-anak bangsa akan semakin masif dan kita punya harapan besar bahwa beberapa tahun ke depan Indonesia tidak lagi menjadi negara yang tingkat membacanya paling rendah di ASEAN.

Yogyakarta, 6 Mei 2017

Dr. Ahmad Sahide. Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional UMY, dan Penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close