Ahmad Sahide

Menilik Pertarungan Ahok, Agus, dan Anies

Oleh: Dr. Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID – Sejak beberapa bulan yang lalu, pilkada DKI Jakarta 2017 sudah menjadi perhatian publik, bukan hanya di DKI Jakarta, tetapi di seantero Tanah Air. Basuki Tjahaya Purnama, atau dikenal luas dengan sebutan Ahok, diprediksi akan sangat mudah memenangi daur ulang demokrasi ibu kota. Nama-nama yang muncul dianggap bukan lawan yang sebanding bagi Ahok mengingat popularitas dan tingkat kepuasan publik atas kinerjanya.

Nama yang sudah lama beredar adalah Sandiaga Uno, Yusril Ihza Mahendra, juga ada Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung), Tri Rismaharini (Wali Kota Surabaya), serta beberapa nama lainnya yang sempat dimunculkan. Namun, kehadiran tokoh-tokoh ini dianggap belum mampu menjadi lawan yang sebanding bagi Ahok. Tokoh yang sangat populer, tapi juga kontroversial. Ahok sempat diserang oleh partai politik karena dianggap melakukan deparpolisasi dengan munculnya Teman Ahok, sebagai kendaraan politiknya.

Konstelasi politik Ibu Kota sempat terpetakan antara Ahok versus Partai Politik. Hal itu karena gerakan deparpolisasi Ahok yang dinilai terlalu jual mahal di hadapan parpol yang ada. Belakangan dinamika dan peta politik kembali berubah. Ahok mulai gentar dengan pemetaan antara dirinya versus parpol. Hanura dan Nasdem segera mengumumkan dan menjagokan Ahok untuk Pilkada DKI Jakarta Februari 2017 nanti. Teka-teki politik masih belum terjawab akan siapa yang mendapingi Ahok dan siapa yang bakal berani menantangnya. Ahok dianggap masih terlalu tangguh untuk lawan-lawan politiknya. Dirinya diserang dengan berbagai isu, baik itu kepribadian, agama, etnik (SARA), dan lain sebagainya tapi popularitas Ahok (dari berbagai survei) masih cukup tinggi.

Berawal dari Istana
Tepatnya 27 Juli lalu, Presiden Joko Widodo kembali melakukan perombakan kabinet untuk yang kedua kalinya. Secara mengejutkan, Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, terlempar dari jajaran kabinet. Tidak lama setelah itu, nama Anies masuk dalam radar pantauan media dan partai politik untuk hajatan daur ulang demokrasi Ibu Kota. Sosok Anies dan kiprah sosialnya selama ini, dengan Indonesia Mengajar maupun beberapa terobosan yang dilakukannya selama menjadi menteri, adalah modal politik baginya untuk melawan Ahok yang dianggap berhasil memimpin Jakarta sekalipun sosoknya sangat kontroversial.

Selasa malam, 20 September lalu, PDI P resmi mendeklarasikan Ahok untuk maju dalam pilkada DKI 2017 dan didampingi oleh Wakil Gubernur saat ini, Djarot Saiful Hidayat. Ahok-Djarot diusung oleh PDI P, Golkar, Nasdem, dan Hanura. Namun teka-teki politik belum terjawab akan siapa sesungguhnya yang berani melawan Ahok yang didampingi Djarot. Kalkulasi politiknya jelas, Ahok mempunyai elektabilitas yang cukup tinggi, selain itu ia didukung oleh PDI P dan Golkar dengan mesin politik yang tidak diragukan lagi. Ahok-Djarot masih di atas angin.

Baca juga :  Islam Indonesia di Mata Kevin Fogg

Satu hari menjelang penutupan pendaftaran bakal pasangan calon, nama Agus Harimurti Yudhoyono muncul. Nama Agus memang tidaklah asing di telinga publik selama ini, tetapi sosoknya dikenal sebagai prajurit TNI dengan karir yang cemerlang. Di samping itu, sepuluh tahun ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menjadi orang nomor satu di republik ini tentulah membuat sosoknya juga selalu menjadi incaran media. Terlebih, sudah banyak opini publik yang melihat bahwa sosok Agus sangat tepat untuk menjadi penerus SBY ke depan, bukan Edy Baskoro Yudhoyono (Ibas) yang terlebih dulu terjun ke dunia politik praktis. Gaya politik SBY ada dalam sosok Agus. Oleh karena itu, yang mengejutkan tentu bukanlah kemunculan namanya. Yang mengejutkan adalah ia terlalu cepat dipasang oleh SBY untuk menjadi generasi penerusnya. Sepertinya banyak yang menyayangkan pilihan politik SBY untuk anak sulungnya itu. SBY mengorbankan karir anaknya di militer. Tapi pastilah SBY punya pertimbangan sendiri.

Jumat, 23 September, teka-teki mulai menuai jawaban. Agus Harimurti Yudhoyono resmi mendaftarkan dirinya sebagai calon Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Agus menggandeng wanita birokrat yang katanya berpengalaman, Sylviana Murni. Setelah Agus-Sylviana, giliran Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang mendatangi KPU DKi Jakarta untuk mendaftar sebagai pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta.

Terjawab sudah, ada dua pasangan calon penantang Ahok-Djarot untuk pilkada DKI 2017 nanti. Kehadiran dua pasangan penantang Ahok-Djarot ini membuat kalkulasi dan pemetaan politik perlu dibaca ulang.

Menghitung kejuaran
Munculnya pasangan Agus-Sylviana dan Anies-Sandi membuat kontestasi politik Ibu Kota lebih menarik. Ahok-Djarot memang untuk sementara diunggulkan, tetapi pemilihan dan Wakil Gubernur masih lima bulan lagi. Semua masih bisa berubah dalam rentan waktu tersebut. Terlebih semua kandidat mempunyai kelebihan dan kekurangan yang dapat ‘dieksplotasi’ oleh lawan lain.

Tokoh dan ahli strategi di balik Agus-Sylviana adalah SBY, ayah dari Agus itu sendiri. Sepuluh tahun memimpin republik ini, SBY tentu mempunyai basis kekuatan yang belum hilang dan patut diwaspadai. Selain itu, SBY adalah bapak politik pencitraan di Indonesia. Ia ahli dalam melakukan pencitraan politik. Rentang waktu lima bulan dapat dimanfaatkan oleh SBY untuk memoles anaknya. Agus dapat dicitrakan sebagai reinkarnasi SBY. Jaringan politik yang dibangun SBY selama sepuluh tahun memimpin republik ini serta latar belakangnya sebagai prajurit TNI merupakan kekuatan politik yang tidak boleh dipandang remeh.

Baca juga :  Gerakan Mahasiswa (Pemuda) Dalam Membangun Kultur Politik Berkarakter

Tentu SBY juga paham, Ahok punya kelemahan yang dapat ‘dieksploitasi’ untuk merusak citranya, terutama karakter kepemimpinannya. Waktu lima bulan itu sangat memungkinkan. Oleh karena itu, kekuatan politik Agus-Sylviana bukan pada sosok kandidatnya, tetapi aktor utama yang mengusungnya. Kelemahan Agus karena ia dianggap belum berpengalaman dalam dunia birokrasi.

Sementara itu, penantang ketiga Ahok-Djarot adalah Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Tokoh utama di belakang pasangan ini adalah Prabowo Subianto. Semua tahu, Prabowo mempunyai kekuatan politik yang tidak kalah dari SBY sekalipun ia kalah dalam pemilihan presiden 2014 lalu. Pasangan ini mengombinasikan kekuatan pengusung dan kekuatan kandidat. Stretegi politik Prabowo, yang memanfaatkan kekuatan media, perlu diwaspadai.

Sebagai catatan, dalam pemilihan presiden dan wakil presiden 2014 lalu, kurang lebih satu tahun sebelum pemilihan berlangsung nama Joko Widodo (Jokowi) mempunyai elektabilitas tinggi dan jauh meninggalkan kandidat lainnya, termasuk Prabowo Subianto sendiri. Tapi dengan strategi politik yang masif di media sosial, Prabowo mampu mengejar Jokowi dan hanya kalah tipis dalam pemilihan presiden dan wakil presiden waktu itu. Bahkan ada pengamat yang mengatakan bahwa seandainya Prabowo masih punya waktu dua tiga bulan, maka besar kemungkinan Jokowi-Jusuf Kalla kalah pada pemilihan umum 2014 lalu.

Sepertinya ini penting diwaspadai oleh Ahok-Djarot. Pasangan ini memang unggul untuk sementara, tetapi waktu lima bulan cukup bagi tim lawan untuk mengobrak-abrik citra Ahok-Djarot. Selain itu, Anies Baswedan punya modal politik yang dapat menjadi pilihan terbaik dibanding Ahok. Ahok mempunyai elektabilitas tinggi karena kinerjanya dirasakan luas. Tetapi Anies juga mempunyai prestasi dan rekam jejak yang bisa dia jual. Antara Ahok dengan Anies, keduanya dapat dicitrakan sebagai pemimpin yang berhasil dan kinerja bagus. Tetapi Anies mempunyai bahasa yang terjaga dan santun. Sebaliknya, dari Ahok kita sering kali mendengar kata-kata seperti (maaf) ‘bajingan, bangsat, kurang ajar’ dan lain sebagainya yang menjadi konsumsi pemberitaan. Kini, muncul sosok yang punya rekam jejak tidak kalah dari Ahok, tetapi memiliki bahasa yang lebih santun dan terjaga. Itu ada pada sosok Anies.

Inilah yang membuat pilkada DKI Jakarta 2017 menjadi menarik. Kehadiran Agus-Sylviana serta Anies-Sandi berpotensi besar merubah konstelasi dan peta politik dalam waktu lima bulan ke depan.

Kontestasi gengsi dan penuh dendam
Salah satu yang menarik dari pilkada DKi Jakarta adalah tokoh yang berada di belakangnya. Di belakang Ahok-Djarot ada Megawati Soekarno Putri, Presiden Republik Indonesia kelima yang masih menjabat sebagai Ketua Umum PDI P, pengusung utama pasangan Ahok-Djarot. Ahok memang dikenal dekat dengan Megawati. Sementara itu, di belakang calon pasangan Agus-Sylviana adalah SBY, Presiden Republik Indonesia keenam, saat ini kembali menjadi Ketua Umum Demokrat. Adapun tokoh di belakang Anies-Sandi adalah Prabowo Subianto.

Baca juga :  Indonesia di Tengah Arus Pasar Bebas ASEAN

Membaca dinamika politik DKI saat ini, tidak hanya melihat pertarungan antarkandidat, tetapi pertarungan gengsi dan penuh dendam tokoh-tokoh yang ada di belakangnya. Megawati dan SBY tidak mempunyai hubungan harmonis sejak 2004. Megawati juga dikalahkan oleh SBY dalam pemilihan presiden 2004 dan 2009. SBY berkali-kali berupaya memperbaiki hubungan dengan Megawati, tetapi tidak pernah berhasil. Megawati sepertinya belum bisa memaafkan ‘kesalahan’ SBY.

Megawati tentu berupaya sekuat tenaga untuk mengalahkan Agus demi membalas sakit hatinya kepada SBY yang dua kali mempecundangi dirinya. Sebaliknya, SBY akan kembali membuktikan bahwa dia selalu menang berhadapan dengan Megawati. Maka kontestasi tidak lagi pada sosok Ahok versus Agus, melainkan pertarungan jilid berikutnya antara Megawati versus SBY.

Prabowo di mana? Pemilu 2009, Prabowo berpasangan dengan Megawati Soekarno Putri. Prabowo juga tidak mempunyai hubungan yang kurang harmonis dan penuh dendam dengan SBY, sekalipun berbeda haluan politik. Dalam hal ini, pilkada DKI hanyalah bagian dari strategi Prabowo menuju 2019 nanti. Dari ketiga tokoh utama pengusung, hanya dia yang belum pernah menjadi orang nomor satu di republik ini.

Di samping itu, sepertinya Anies-Sandi hanyalah ‘alat’ bagi Prabowo untuk menghantam Ahok. Pada pilkada DKI 2012 lalu, Ahok maju sebagai kader Gerindra tetapi di tengah jalan Ahok memilih keluar dari Gerindra. Tentu saja Prabowo dan partainya, Gerindra, merasa dikhianati oleh Ahok setelah berhasil menduduki singgasana kekuasaan. Dendam itu mendapatkan momentum untuk menghajar Ahok dalam pilkada 2017 nanti. Anies-Sandi sepertinya pasangan yang berpeluang untuk menghantam Ahok, sekalipun keduanya bukanlah kader partai Gerindra. Dana yang cukup besar sepertinya akan digelontorkan oleh Gerindra untuk memenangkan Anies-Sandi demi membalas dendamnya pada Ahok.

Pilkada DKI pun akan berlangsung sangat emosional. Ajang pertaruhan gengsi dan pelampiasan dendam kesumat tokoh-tokoh yang sudah lama saling bergesekan di panggung politik Indonesia. Selamat menyaksikan tarian politik masing-masing kandidat dan tokoh dalam pilkada DKI Jakarta 2017 nanti. Kita tunggu siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

Yogyakarta, 25 September 2016.

Dr. Ahmad Sahide. Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!