Ahmad Sahide

Menjadi Editor

Oleh: Dr. Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID – Dalam dunia perbukuan, kehadiran seorang editor sangatlah penting artinya. Di tangan editorlah, karya seorang penulis bisa mendapatkan sentuhan bahasa atau diksi yang lebih menarik bagi pembaca. Editor sendiri berasal dari kata edit. Mengedit berarti pekerjaan mempersiapkan naskah siap cetak untuk diterbitkan dengan memerhatikan segi ejaan, diksi, dan struktur. Editor berarti orang yang melakukan pekerjaan tersebut (KBBI: 374).

Sederhananya, seorang editor akan membaca sebuah naskah yang siap cetak dengan memerhatikan apakah ada kesalahan penulisan (redaksional), apakah ada diksi yang kurang tepat atau perlu diganti dengan diksi yang lebih menarik, apakah ada kesalahan dalam penempatan titik-koma, dan termasuk kesalahan struktur kalimat. Itulah pekerjaan seorang editor. Memang sih, seorang editor kalah mentereng dari seorang penulis, tapi hemat saya pribadi, seorang penulis yang hebat sekalipun butuh editor yang handal.

Baca juga :  Trump dan Harapan Perdamaian Suriah

Bukan pekerjaan mudah
Jika melihat kerja seorang editor seperti di atas, maka menjadi editor bukanlah pekerjaan yang mudah. Seorang editor haruslah berwawasan luas dan mengerti ihwal kepenulisan dengan baik. Seorang editor harus tahu mana penulisan yang salah dan benar. Sebagai contoh, mana yang benar penulisannya, “kerjasama” atau “kerja sama”, “penasehat” atau “penasihat”, “hakekat” atau “hakikat”, “sekali pun” atau “sekalipun”, “memperhatikan” atau “memerhatikan”, “kekampus” atau “ke kampus”, “respon” atau “respons”, “sekedar” atau “sekadar”? Yang benar adalah (silakan lihat kamus), kerja sama, penasihat, hakikat, sekalipun, memerhatikan, ke kampus, respons, dan sekadar.

Hal ihwal seperti inilah yang mesti dipahami oleh seorang editor. Kalau soal kesalahan penulisan sih, itu gampang, seperti penulisan kata bisa yang terkadang secara otomatis berubah menjadi “bias”, atau ada kekurangan huruf seperti “keslahan”. Jika tugas seorang editor hanya demikian, maka tentu saja itu bukanlah pekerjaan yang sulit. Siapa pun bila melakukannya. Tapi maaf, itu adalah tugas editor yang tingkatannya paling bawah.

Baca juga :  Perempuan-Perempuan Minoritas

Bahkan seorang editor, hemat saya pribadi, harus lebih banyak tahu ihwal kepenulisan daripada seorang penulis itu sendiri. Maka di situlah seorang editor itu menjadi tumpuan penting bagi seorang penulis yang mungkin lebih fokus pada gagasannya, bukan perihal redaksi penulisannya. Oleh karena itu, jika kita membaca sebuah buku yang terdapat banyak kesalahan penulisan, maka orang pertama yang menjadi ‘terdakwa’ adalah seorang editor itu sendiri. Hal itu karena seorang editor punya wewenang merombak susunan kalimat, mengganti diksi selagi substansinya tidak berubah, berkurang, atau bertambah.

Advertisement

Bagaimana menjadi editor yang baik?
Di atas telah disinggung bahwa seorang editor haruslah berwawasan luas, mempunyai bacaan luas dengan multidisiplin. Dengan membaca itulah, kita dapat memerkaya kosa kata sehingga bisa memainkan diksi dalam menulis atau mengedit naskah orang lain. Kadang sebuah tulisan mengandung gagasan yang bagus, tetapi pembaca kurang dapat menikmati ketika membacanya karena kelemahan dalam memainkan diksi. Boleh jadi karena banyak pilihan kata atau diksi yang berulang yang semestinya diganti dengan diksi yang lain tetapi makna tidak berubah. Sebagai misal, kita sering kali menjumpai dalam sebuah tulisan yang menggunakan kata penghubung yang sama secara berulang. Apakah itu kata “dan, dengan, kemudian,” dan yang lain. Hal itu terjadi karena kekurangan diksi atau kosa kata.

Bacaan yang luas, dapat membantu dalam memerkaya diksi dan kosa kata tersebut yang mana hal itu sangatlah penting dalam menulis. Tulisan yang baik tentu saja dengan gagasan yang baik yang dituangkan dalam bentuk teks tertulis dengan cara yang baik pula.

Tapi itu (bacaan yang luas) belumlah cukup, hal itu karena banyak orang yang membaca buku namun tidak memerhatikan redaksi penulisannya. Tidak punya kepekaan terhadap hal-hal yang sifatnya teknis dalam penulisan. Lebih pada ide atau gagasan yang dituangkan dalam sebuah tulisan. Saya secara pribadi bisa sedikit memahami hal tersebut setelah bergelut dengan komunitas menulis yang kami gagas sejak 2010 lalu. Enam tahun menggawangi Komunitas Belajar Menulis (KBM) banyak membantu saya untuk memahami mana teknis penulisan yang baik dan benar serta mana yang salah. Itu pun masih banyak hal yang kadang saya tidak tahu atau ragu perihal redaksi yang benar.

Enam tahun bergelut di komunitas literasi itu pulalah yang menyadarkan dan membuat saya malu membaca kembali karya-karya saya sebelumnya yang sudah dipublikasikan dan dibaca luas oleh khalayak. Itulah sebuah proses, bukan?

Dr. Ahmad Sahide. Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com