Ahmad Sahide

Menulis Buku Esai

Ahmad Sahide

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID-Kata Ahmad Tohari, salah satu novelis ternama di Indonesia, seorang penulis itu mestilah mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Karena memiliki kemampuan lebih atau di atas rata-rata itulah sehingga seorang penulis dapat berbagi melalui teks-teks yang lahir dari jari-jarinya. Tidak heran, di berbagai forum-forum kepenulisan selalu diutarakan bahwa untuk menjadi seorang penulis yang hebat, haruslah banyak membaca. Membaca adalah cara mengumpulkan amunisi bagi seorang penulis.

Perlu dicatat bahwa kedalaman ilmu seseorang dapat diukur dengan karya-karya yang terbit dan dibaca oleh publik secara luas. Itulah mungkin yang menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang berpikir dua tiga kali untuk menerbitkan karyanya. Di samping itu, menulis bukanlah pekerjaan yang mudah. Seringkali saya katakan kepada teman-teman bahwa menulis itu butuh ketekunan, butuh kerja keras, dan butuh konsistensi. Baik itu konsisten untuk membaca dan menulis.
​Di sini, saya sedikit ingin berbagi tips-tips dalam menulis buku, terutama menulis buku esai.

Tips Menulis Buku Esai

Sejauh ini, saya telah menulis tiga buku kumpulan esai, di luar buku kumpulan esai yang saya tulis bersama dengan teman-teman penulis lainnya. Ketiga buku itu adalah, Kebebasan dan Moralitas, yang terbit pada tahun 2010 dan 2013 (edisi kedua), kemudian disusul buku Kekuasaan dan Moralitas, terbit pada tahun 2016. Buku kumpulan esai yang terakhir adalah Gejolak Politik Timur Tengah, terbit September 2017, belum lama ini. Ketiga buku ini telah dikonsumsi secara luas oleh pembaca dan juga telah didiskusikan di berbagai macam forum, baik di kampus maupun di luar kampus.

Dari pengalaman menerbitkan ketiga buku kumpulan esai itu, saya setidaknya mempunyai tips-tiips tersendiri untuk menerbitkan buku kumpulan esai. Juga saya bisa mengatakan bahwa menulis buku kumpulan esai itu gampang-gampang susah. Mudahnya karena kita hanya menulis esai dengan topik-topik yang kita pilih dan sesuai dengan latar belakang keilmuan yang kita tekuni. Tapi bagaimanapun juga, originalitas gagasan seorang penulis harus kuat tertangkap dari esai-esai yang ditulisnya dan kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku.

Hal yang sulit dalam menulis buku esai adalah menjaga ketekunan dan konsistensi. Konsisten untuk terus mengikuti perkembangan isu dan kemudian ditulis dalam bentuk esai dengan analisis yang tajam dan mencerahkan. Buku esai, jika ditulis secara berkelanjutan untuk mengikuti perkembangan isu, maka pembaca akan menemukan benang sari dari kasus atau isu tertentu. Seperti halnya dengan dinamika politik Indonesia, jika kita rutin menulis esai tentang dinamika politik Indonesia, maka potret perjalanan bangsa dan negara ini akan tergambar dari kumpulan esai tersebut. Hal itu tidak akan terjadi jika hanya melakukannya satu dua kali.

Oleh karena itu, salah satu hal penting yang dimiliki oleh seorang penulis buku esai adalah ketekunan dan konsistensi. Tekun melahirkan karya (esai), setidaknya sekali dalam satu minggu, berdasarkan perkembangan isu. Jika hal ini dilakukan secara berkelanjutan (konsisten), maka dalam setahun kita bisa melahirkan kurang lebih empat puluh judul esai. Tentu sangat cukup untuk disunting menjadi buku kumpulan esai. Jika dianggap masih kurang tebal, maka bisa menerbitkan buku kumpulan esai dalam kurun waktu dua tahun. Jika sudah terkumpul, maka silakan memilih apakah akan diurut berdasar tanggal penulisan atau membuat bab-bab berasarkan isu-isu besar yang ada. Tentu saja ketentuannya ada di tangan editor atau tim penyunting, atau bisa dari penulis itu sendiri.

Perlu dicatat bahwa Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah dua tokoh pemikir besar bangsa ini yang banyak melahirkan buku kumpulan esai. Maka jangan remehkan buku kumpulan esai karena originalitas gagasan akan tampak di sana. Maka mari menulis esai secara konsisten dan tekun yang mana itu nantinya bisa diterbitkan menjadi sebuah buku.

Itulah yang saya lakukan selama ini dengan beberapa karya kumpulan esai yang telah terbit. Jika kita mampu tekun dan konsisten, maka rasanya menerbitkan buku kumpulan esai bukanlah hal yang sulit. Pertanyaannya adalah sanggupkah kita tekun dan konsisten menulis esai, sekali dalam satu minggu, selama bertahun-tahun? Masalahnya terletak di sini dan perlu dicatat bahwa menulis itu adalah pilihan. Titik!

 

Ahmad Sahide.
Sekretaris Program Studi
Magister Ilmu Hubungan Internasional
Universitas Muhammadiyah Yogyakart
a

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!