Ahmad Sahide

Mudik!

 

 

Oleh : Dr Ahmad Sahide*

OPINI, EDUNEWS.ID – “Tahun ini mudik?” atau “kapan mudik?”, pertanyaan ini sering sekali dialamatkan ke saya menjelang hari raya idul fitri tahun ini. Tentu saja saya jawab, “Insya Allah”. Ya, tahun ini saya akan kembali merayakn hari raya idul fitri di kampung halaman, tanah lahir, Kindang. Sebuah desa yang cukup berjarak dari kota kabupaten Bulukumba. Di desa inilah saya lahir kurang lebih tiga puluh tahun silam. Desa inilah yang memberikan pendidikan pertama pada diri saya, didikan dari orangtua dan juga didikan dari alam.

Saya bersyukur lahir dari keluarga petani dan di desa yang kemudian tumbuh dewasa di perantauan, di kota tentunya. Menghabiskan masa-masa kecil di desa mengajarkan saya akan arti kesederhanaan, kekeluargaan, pandangan-pandangan hidup yang kadang tidak kita temukan di sekolah-sekolah formal. Mungkin ini yang disebut oleh orang-orang kota, kaum cendekia, dengan sebutan ‘kearifan lokal’. Saya yakin bahwa kata ini tidak dapat dipahami oleh kedua orangtua saya, namun hemat saya mereka berdua telah banyak mengajarkan saya apa yang disebut dengan nilai-nilai kearifan lokal. Desa telah banyak mengajarkan saya bagaimana banyak belajar dari alam.

Seingat saya, dulu untuk mengetahui apakah waktu subuh sudah tiba tidak dengan memasang alrm dan menunggu membangunkan, cukup dengan mendengar suara ayam berkokok di samping rumah menjelang pagi maka itu menjadi tanda waktu subuh telah tiba. Orang-orang di desa pun bergegas untuk bangun dan mempersiapkan segalanya untuk aktivitas pagi. Menunggu para tetangga untuk datang dan menikmati kopi di pagi hari sambil bercerita tentang banyak dan segala hal. Tapi kini saya sadar, ternyata budaya itulah yang mempererat soliditas sosial di masyarakat desa. Kebiasaan yang sulit kita temukan di kota tentunya.

Sementara itu, kota telah banyak mengajarkan untuk membangun mimpi-mimpi, kehidupan kota selalu menuntut kita untuk mempunyai target, jika tidak maka kita akan tergerus oleh zaman. Sekali lagi, saya bersyukur hidup di antara keduanya, di desa dan kota. Maka dari itu, jika kembali ke desa, setidaknya bisa hidup sesuai dengan kebiasaan orang desa hidup, karena memang lahir dan tumbuh besar di sana, dan jika kembali ke kota, bisa beradaptasi dan memahami pola hidup orang kota, dan yang terpenting adalah tidak terbawa arus. Nilai-nilai yang tertanam sejak kecil di desa tentu menjadi hal penting dalam membentengi diri untuk tidak terbawa arus globalisasi sehingga menjadi generasi yang mengalami krisis identitas. Itulah salah satu makna mudik bagi saya, termasuk mudik tahun ini.

Mudik adalah kembali mengeja huruf-huruf yang diajarkan oleh alam dan budaya lokal. Salah satu peribasa yang sering terucap dari orang-orang tua di desa saya adalah, “silallo tassirapi”. Rasanya sulit bagi saya untuk menemukan padanannya dalam bahasa Indonesia, tetapi kira-kira kurang lebih seperti ini maksudnya, bahwa adakalanya kita berada di depan dan juga adakalanya kita berada di belakang, ada hal-hal yang kita tahu dan orang lain tidak tahu, begitu pula dengan sebaliknya. Adakalnya orang merasa pintar diajari oleh orang yang dianggap kurang cerdas. Saya kemudian menariknya sedikit lebih jauh, bahwa kadang ada ilmu yang bisa kita dapatkan di bangku sekolah, bahkan pada jenjang paling tinggi sekalipun, namun semua itu bukanlah tanpa celah. Kadang kita mendapatkan pelajaran tentang nilai dari desa, dari orangtua, dari alam, dan itu tidak akan kita dapatkan di sekolah-sekolah formal.

Sekali lagi, itulah yang membuat saya merasa bersyukur lahir dan menikmati masa-masa kecil di desa dan kemudian menyelesaikan semua jenjang pendidikan formal di kota, di Yogyakarta. Maka bagi saya, Kindang dan Yogyakarta adalah desa dan kota tempat saya menepi dalam mengarungi samudra keilmuan. Kindang telah mengajarkan saya banyak hal yang tidak saya temukan di Makassar, dan termasuk di Yogyakarta. Dan begitu pula sebaliknya.

Kindang mengajarkan saya apa itu kesederhanaan, ketulusan dalam bersosialisasi, hidup apa adanya, sementara kota mengajarkan saya untuk memahami modernitas dan globalisasi. Itulah makna mudik kali ini. Selain meninggalkan sejenak rutinitas di kampus yang penuh dengan tuntutan, dan jangan lupa ‘hantu scopus’. Mudik untuk kembali belajar dari alam dan kehidupan desa, belajar tanpa tuntutan. Sejenak menutup buku dan laptop. Kembali menimba ilmu pada alam, menimba ilmu kepada kedua orangtua, ‘guru besar’ dalam hidupku. Kembali mengisi kegersangan jiwa akan didikan alam dan kasih orangtua. Selamat bermudik!

Dr Ahmad Sahide, Lahir di Kindang, Bulukumba. Saat ini banyak menghabiskan aktivitas akademiknya di Yogyakarta, terutama di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close