Ahmad Sahide

Neymar; Sepak Bola dan Kapitalisme

 

 

Oleh : Dr Ahmad Sahide*

OPINI, EDUNEWS.ID – Nama Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo telah menjadi ikon sepak bola dunia dalam sepuluh tahun terakhir. Kedua pemain mega bintang ini telah menghipnotis para penggemar sepak bola. Kehadirannya di lapangan hijau kerap kali memortontonkan aksi-aksi yang membuat para penonton berdecak kagum.

Messi dan Ronaldo, sebagai pemain, disebut-sebut berada pada level yang berbeda. Keduanya selalu dibanding-bandingkan. Messi telah merebut gelar pemain terbaik dunia sebanyak lima kali, adapun Ronaldo sebanyak empat kali. Belakangan, muncul nama Neymar yang disebut-sebut berada satu level dengan mereka berdua.

Kapten Tim Nasional Brasil ini turut membantu Barcelona menjuarai liga Champions Eropa pada tahun 2015 lalu dan juga membantu memenangi kompetisi di La Liga Spanyol, 2015 dan 2016. Bagi para penggemar sepak bola, skil Neymar tidak diragukan lagi. Neymar punya skil yang tidak kalah dari Messi dan Ronaldo, meskipun dengan style yang berbeda.

Tarian Samba ala Brasil sangat kuat melekat dari gaya bermain Neymar. Hanya saja, Neymar belum berhasil menjadi pemain terbaik dunia. Ia masih berada dalam bayang-bayang Messi dan Ronaldo. Namun sudah diprediksi oleh banyak orang, kelak ia akan menjadi pemain terbaik dunia. Mungkin setelah era Messi dan Ronaldo berakhir.

Dari Barcelona ke PSG

Neymar bergabung ke Barcelona sejak tahun 2013 lalu. Dan ia sudah menunjukkan skilnya yang indah dan menarik di lapangan hijau. Ia juga mampu membangun kerja sama dengan baik bersama Messi dan Luis Suarez di lini depan. Perpaduannya dengan dua pemain top dunia itu menjadikan trio penyerang Barcelona sebagai trio paling mematikan di dunia dan tentu saja sangat ditakuti.

Sayangnya, kerja sama yang indah dan mematikan antara Messi, Suarez, dan Neymar (MSN) tidak lagi disaksikan oleh penikmat sepak bola pada musim 2017-2018 ini. Neymar telah memutuskan untuk hijrah dari Barcelona ke Paris Saint-Germain (PSG), klub asal Perancis. Tentu saja sangat disayangkan oleh banyak penggemar sepak bola, termasuk penulis sendiri.

Kepindahan Neymar dari Barcelona ke PSG memecahkan banyak rekor dan juga sedikit di luar nalar sehat. PSG membeli Neymar dari Barcelona dengan harga yang sangat pantastis, 222 juta Euro atau senilai 3,46 trilliun rupiah (Kompas, 4/08/2017). Diyakini bahwa rekor transfer Neymar ini akan bertahan cukup lama.

Arsene Wenger, pelatih Arsenal, menilai bahwa PSG telah merusak ‘pasar sepak bola dunia’. Membuat persaingan semakin tidak sehat. Tapi juga harus diakui bahwa hanya dengan uanglah yang bisa membuat Neymar meninggalkan Barcelona, tim terbaik dan impian saat ini.

Maka ‘ketidaknormalan’ nilai transfer itulah satu-satunya alasan bagi Neymar untuk meninggalkan Barcelona, tim yang mampu merebut berbagai gelar dan setiap saat. Tanpa dengan itu, saya kira Neymar sulit untuk hengkang dari tim Catalan tersebut.

Bola dan Kapitalisme Global

Tidak dapat dinafikan bahwa kepindahan Neymar dari Barcelona ke PSG karena kekuatan modal (kapital). Maka dari itu, nilai transfer Neymar yang dinilai sudah di luar batas kewajaran ini semakin mengukuhkan kepada kita semua bahwa sepak bola tidak hanya sekadar bagaimana cara memainkan si kulit bundar di lapangan hijau. Sepak bola adalah pasar itu sendiri.

Dan dalam doktrin ekonomi liberal (pasar bebas), pasarlah yang menentukan segalanya, negara tidak boleh banyak ikut campur. Itulah yang kita saksikan dari kasus kepindahan Neymar. PSG, tentu saja, berani memboyong Neymar dari Barcelona karena merasa mampu menghasilkan uang yang lebih banyak dari hasil pembelian tersebut. Disebut-sebut bahwa pada hari pertama Neymar diperkenalkan oleh tim, kostum bertuliskan nama asal pemain Brasil itu telah terjual sepuluh ribu eksamplar.

Dan Neymar saat ini telah muncul sebagai salah satu pemain terbaik di dunia yang punya banyak penggemar, termasuk di Indonesia. Bagi PSG, itu adalah pasar yang cukup menggiurkan. Olehnya itu, membeli Neymar dengan harga yang sangat pantastis bukanlah ketidakwajaran (bagi PSG). Hal itu karena yang berbicara bukan sekadar sepak bola, tetapi kapital.

Secara ekonomi, Neymar punya pangsa pasar secara global dan penggemarnya akan terus bertambah banyak, apalagi jika nantinya Neymar mampu menjadi pemain terbaik dunia dan juga mampu mengantarkan PSG menjuarai Liga Champions Eropa. Uang pun akan mengalir ke rekening PSG, berupa sponsor, iklan, penjualan kostum, dan sebagainya.

Singkatnya, kepindahan Neymar telah menjadikan sepak bola sebagai ladang yang menggiurkan bagi kapitalisme global. Tidak ada cabang olahraga yang mampu menarik perhatian penggemar sebagaimana sepak bola. Lihat saja, pada saat perhelatan Piala Eropa, Copa America, dan terutama Piala Dunia, pasti akan disaksikan ratusan juta, bahkan miliaran pecinta sepak bola dunia.

Dan itu adalah pasar yang menggiurkan. Maka kepindahan Neymar dari Barca ke PSG karena sepak bola bagian penting dari kapitalisme global, kini. Neymar pun akan menjadi pemain dengan gaji tertinggi di dunia, 775,477 pounsterling atau setara dengan Rp13,65 miliar perpekan, jauh di atas Messi yang hanya digaji Rp 8,6 miliar, dan ronaldo Rp6,42 miliar (Kompas,4/08/2017).

Hanya dengan logika pasarlah yang bisa menjelaskan gaji Neymar itu. Karena sepak bola telah menjadi bagian dari jejaring kapitalisme global. Selamat menanti tarian Samba Neymar dengan klub barunya, Paris Saint-Germain!

Dr Ahmad Sahide, Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional UMY dan Penggemar Sepak Bola

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close