Ahmad Sahide

Pilkada DKI, Catatan di Balik Tersisihnya Agus

Oleh: Dr. Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID – Dari seratus satu daerah yang menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada tanggal 15 Februari 2017 ini, pilkada DKI Jakarta mendapatkan perhatian yang lebih. Bahkan tidak sedikit yang mengatakan bahwa kontestasi di Ibu Kota adalah ‘pilkada yang berasa pilpres’. Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tidak hanya dibicarakan oleh warga DKI, tetapi telah menjadi perbincangan masyarakat Indonesia di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan sampai ke pelosok-pelosok.

Salah satu faktor yang membuat pilkada DKI Jakarta menarik bagi masyarakat luas karena hadirnya sosok Basuki Tjahaya Purnama, yang dikenal luas dengan sebutan Ahok. Gubernur DKI Jakarta ini adalah sosok yang sangat kontroversial, gaya kepemimpinannya (termasuk bahasanya) di luar mainstream gaya kepemimpinan di Indonesia pada umumnya. Selain itu, Ahok adalah Gubernur DKI yang mana agamanya berbeda dari agama mayoritas warga DKI. Ahok pun sering kali diserang dengan isu-isu agama. Muncullah kasus surat al-Maidah 51. Ahok pun didemo besar-besaran oleh umat Islam dengan tokoh utamanya Habib Riziq. Tapi semua itu tidak lantas menghalangi Ahok memenangi pilkada DKI 15 Februari lalu.

Faktor lain yang membuat pilkada DKI Jakarta menarik adalah hadirnya sosok penantang seperti Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudoyono. Anies Baswedan pernah diangkat oleh Presiden Jokowi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan selama hampir dua tahun lamanya dan kemudian direshufle (diganti). Anies juga bukanlah tokoh yang baru muncul di pentas nasional. Namanya sudah lama menjadi pemberitaan, meskipun hanya dikenal luas di kalangan elite, sejak menjadi inisiator dari gerakan Indonesia Mengajar. Adapun Agus adalah tokoh yang baru muncul di panggung politik. Ia berlatar belakang militer. Nama Agus muncul dalam bursa pilkada DKI beberapa hari sebelum hari H pendaftaran ditutup. Pada awal kemunculannya, sempat ada asumsi bahwa kehadiran sosok Agus dapat mengganggu jalan Ahok untuk melanjutkan kepemimpinannya di Ibu Kota. Meskipun Agus adalah orang baru di panggung politik, tetapi modal besarnya adalah ia anak Presiden Republik Indonesia keenam, Susilo Bambang Yudoyono (SBY).

Baca juga :  Revolusi 4.0 Dan Masalah Sosialnya

Nuansa pilkada DKI semakin menarik pasalnya ketiga kandidat itu diusung oleh tiga tokoh yang sangat berpengaruh di Tanah Air. Dua mantan presiden dan satunya lagi mantan calon presiden. Ahok didukung oleh Megawati Soekarno Putri, Anies didukung oleh Prabowo Subianto, dan tentu saja Agus didukung oleh ayahnya sendiri, SBY. Maka, pertarungan Ahok, Anies, dan Agus juga dinilai publik sebagai pertarungan antara Megawati, SBY, dan Prabowo Subianto. Semua orang tahu bahwa hubungan Megawati dengan SBY tidak harmonis sejak 2004 silam.

Megawati, yang pernah menjadi bos dari SBY, dua kali dikalahkan oleh SBY dalam pemilihan presiden, 2004 dan 2009. Adapun Prabowo selalu berada di bawah bayang-bayang Megawati dan SBY, dalam hal popularitas. Itulah mengapa, pilkada DKI diwarnai dengan pertarungan gengsi dan dendam politik. Atmosfirnya pun semakin panas. SBY tentu hendak memperpanjang cerita kemenanannya ketika berhadapan dengan pendahulunya itu, Megawati. Sebaliknya, Megawati ingin membuktikan bahwa SBY bukanlah ahli strategi politik yang tidak bisa dikalahkan. Adapun Prabowo sepertinya ingin menjadikan pilkada DKI sebagai langkah awal untuk bertarung kembali pada pilpres 2019. Membalas kekalahannya dari Jokowi yang secara tidak langsung berada di belakang Ahok.

Tersisihnya Agus
Semua orang tahu bahwa modal utama yang dibawa oleh Agus untuk bertarung dalam pilkada DKI adalah kebesaran nama ayahnya yang pernah menjadi orang nomor satu di republik ini sepuluh tahun lamanya. Hasil penghitungan cepat pada 15 Februari lalu menunjukkan bahwa modal itu tidak lagi mampu menjadi kartu sakti bagi Agus untuk menantang Ahok dan Anies.

Baca juga :  GP ANSOR Maluku Kecam Arogansi Ahok kepada KH Ma'ruf Amin

Ahok bukanlah anak seorang presiden, tetapi kinerjanya dirasakan manfaatnya oleh warga DKI. Begitu pula dengan Anies yang juga bukan anak presiden, tetapi kiprahnya dalam menggerakkan Indonesia Mengajar diapresiasi oleh warga DKI. Itulah modal Ahok dan Anies di hadapan Agus yang bermodalkan sebagai anak presiden yang mana warga DKI tidak melihat atau merasakan langsung social work dari Agus.

Kekalahan telak bagi Agus itu semestinya menjadi catatan tersendiri bagi SBY dan Agus. SBY boleh jadi memenangi pilpres 2004 dan 2009 dengan perolehan suara di atas 60 persen, tetapi itu tidak lantas memuluskan anaknya untuk memenangi pilkada DKI. Strategi politik yang diterapkan oleh SBY dalam memenangi pilpres 2004 dan 2009 sepertinya sudah menjadi kartu mati. Agus harus mencari kartu lain.

Rasanya publik sudah mulai tahu bahwa strategi politik yang selama ini diterapkan oleh SBY untuk merebut simpati ppublik adalah menempatkan dirinya sebagai pihak yang ditindas atau dizalimi. Pada pilpres 2004, ketika itu SBY diangkat oleh Megawati sebagai Menko Polhukam tetapi mundur menjelang pilpres. Megawati kemudian mengeluarkan pernyataan politik yang menyudutkan SBY. SBY disebutnya sebagai ‘bajing loncat’. Hal ini dimanfaatkan oleh SBY untuk merebut simpati publik. SBY membangun opini publik seolah-olah dirinya ditindas oleh Megawati yang ketika itu sebagai Presiden Republik Indonesia. Kemenangan SBY pada 2004 itu menunjukkan bahwa strategi politiknya berhasil.

Baca juga :  Ahok ; Antara Peran Engineer dan Marketer

Nampaknya, SBY masih menerapkan strategi politik ini dalam memuluskan langkah Agus untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta. Kita tahu bahwa menjelang pemilihan suara pada 15 Februari lalu, SBY sangat aktif muncul di media sosial, twitter dan juga melakukan konferensi pers yang membangun opini publik seolah-olah keluarganya dizalimi dan dalam posisi terancam. Bahkan pada malam menjelang pemilihan suara, SBY mengadakan konferensi pers dan mengatakan kepada publik secara luas bahwa dirinya difitnah dan ada keterlibatan kekuasaan politik hari ini dengan ruang yang diberikan kepada Antazari Azhar untuk mengangkat kembali kasusnya.

Kali ini, politik citra yang dibangun oleh SBY menuai kegagalan besar. Anaknya kalah telak dengan hanya memeroleh suara kurang lebih 17 persen. Sementara Ahok mendapatkan suara kurang lebih 42 persen dan Anies kurang lebih 39 persen. Itulah politik, tidak ada teori dan rumus yang pasti dalam merebut kekuasaan. SBY harus menyadari itu dan Agus harus mulai menuliskan buku perjalanan politiknya sendiri. Jangan lagi banyak tergantung pada buku dan teori politik yang diterapkan oleh ayahnya. Terbukti itu hanya berhasil pada pemilu 2004 dan 2009.

Agus harus mengatakan selamat tinggal politik citra dan mulai membangun basis gerakan politiknya berbasis kerja dan social work. Karena satu-satunya hal yang pasti dalam dunia politik adalah ‘ketidakpastian’ itu sendiri. Selamat menanti pilkada DKI putaran kedua!

Dr. Ahmad Sahide. Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!