Ahmad Sahide

Politik; Anomali dan Rekayasa Rasionalitas

Oleh: Dr. Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID – Tindakan atau pilihan politik yang diambil oleh para elite atau pelaku politik seringkali membuat publik, pemerhati, dan ilmuwan politik tercengang dibuatnya. Mungkin, bagi para elite, tindakan itu adalah tindakan yang ‘rasional’, tetapi bagi sebagian yang lainnya merupakan tindakan yang sangat tidak masuk akal atau dapat melukai nurani publik.

Sebagai contoh kasus, kita dapat melihat bagaimana pilihan dan langkah politik anggota DPR kita, beberapa waktu lalu, yang menjadi panitia khusus Hak Angket Komisi Pemberantasan Korupsi (Pansus KPK) yang memilih mengunjungi dan meminta ‘masukan’ dari para koruptor tangkapan KPK. Langkah yang diambil oleh Pansus Hak Angket KPK ini sulit mendapatkan pembenaran dari publik bahwa apa yang dilakukannya itu untuk melakukan pembenahan terhadap institusi dan kinerja KPK. Sekalipun para anggota Dewan itu berkoar-koar di berbagai media bahwa ini untuk perbaikan kinerja KPK, tetap saja publik menilai bahwa ini bagian dari skenario pelemahan KPK.

Artinya, mereka gagal dalam membangun rasionalisasi politik untuk memengaruhi persepsi publik. Tentu masih banyak fakta-fakta politik yang mana seringkali rasionalisasi politiknya tidak rasional di mata publik, pemerhati, dan terutama ilmuwan politik.

Rasionalisasi Politik

Tulus Warsito, Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional UMY, belum lama ini memublikasikan buku dengan judul “Rasionalisasi Politik”, 2017. Prof. Tulus, di dalam buku ini, menguraikan dengan sangat detail dan filosofis apa itu rasionalisasi politik atau pilihan politik yang rasional. Bahwa dalam filsafat, rasionalitas merupakan pelaksanaan alasan. Yang dimaksud dengan rasional adalah karena hubungan sebab akibat dapat dipahami secara jelas dan langsung. Sementara yang logis karena sesuai dengan kenyataan umum (hlm.6).

Buku ini terdiri dari enam bab yang dimulai dengan konsep-konsep rasionalitas (bab 1), kemudian pada bab kedua membahas teori rasionalitas, selanjutnya membahas kepentingan-kepentingan politik, dilanjutkan dengan bab yang secara khusus membahas prioritas kepentingan politik, lalu dilanjutkan dengan kajian tentang anomali rasionalitas sosial politik, yang kemudian ditutup (bab 6) dengan rekayasa rasionalitas.

Prof. Tulus dalam bukunya ini mencoba menjawab-pertanyaan publik mengenai pilihan politik sesorang yang seringkali berbeda, bahkan bertentangan. Hal itu dipengaruhi oleh tindakan-tindakan rasional politiknya. Ketua Prodi S3 Politik Islam ini memulainya dari bab satu dengan berangkat dari teori tindakan sosial menurut Max Weber. Seturut Weber, tindakan sosial dapat digolongkan menjadi empat kelompok (tipe), yaitu tindakan rasional instrumental, tindakan rasional berorientasi nilai, tindakan tradisional, dan tindakan afeksi.

Tindakan rasional instrumental adalah tindakan yang dilakukan seseorang dengan memerhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dengan tujuan yang akan dicapai. Sementara tindakan rasional berorientasi nilai merupakan tindakan yang memerhitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang hendak dicapai tidak terlalu diperhitungkan. Adapun tindakan tradisional adalah tindakan yang tidak rasional, ia hanya berangkat dari kibiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Dan yang terakhir adalah tindakan afektif, yaitu tindakan-tindakan yang sebagian besar dipengaruhi oleh perasaan atau emosi tanpa pertimbangan-pertimbangan akal budi (hlm 8-12).

Pilihan tipe tindakan sosial inilah yang memengaruhi pilihan-pilihan dan prioritas-prioritas politik seseorang atau figur tertentu yang dibahas secara khusus dan tuntas pada bab tiga dan bab empat. Artinya bahwa prioritas-prioritas politik seseorang sangat dipengaruhi oleh tipe tindakan sosial mana yang dianutnya. Sebagai contoh, hal ini dapat kita lihat dalam kasus ‘penistaan agama’ yang dilakukan oleh Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) menjelang pilkada DKI Jakarta beberapa bulan lalu. Ada yang meresponsnya karena tindakan sosial yang berorientasi nilai, ada pula yang karena tradisional, dan juga ada karena afeksi.

Oleh karena itu, respons masyarakat Indonesia terkait kasus Ahok berbeda dan sangat beragam. Buku yang ditulis oleh Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional ini membantu kita memahami bahwa hal itu karena perbedaan tipe tindakan sosial seseorang. Meskipun tidak bisa dinafikan bahwa kadang rasionalitas politik itu direkayasa dan juga ada anomalinya. Hal ini yang dibahas tuntas oleh Profesor Ilmu Politik yang sekaligus seniman ini dalam dua bab terakhir. Buku karya mantan Dekan Fakultas Isipol UMY ini mengembangkan teori Rational Choice dari Max Weber, yaitu pada aspek anomali dan rekayasa rasionalitas. Anomali dan rekayasa rasionalitas inilah yang menjadi hal baru yang ditawarkan oleh Prof. Tulus Warsito dalam publikasi akademik terbarunya ini.

Rekayasa Rasionalitas

Buku ini sebenarnya hendak mengatakan kepada kita semua bahwa setiap orang itu rasional. Langkah-langkah atau sikap yang diambil oleh seseorang tentu dengan pertimbangan masing-masing. Karena rasionalitas pada hakikatnya adalah persoalan pilihan. Hanya saja, yang membedakan adalah tingkatan dan pilihan rasionalitasnya.

Jika kita sepakat bahwa rasionalitas adalah persoalan keputusan memilih dari berbagai alternatif yang ada, maka pada aspek inilah kita mengenal yang namanya anomali rasionalitas dan juga rekayasa rasionalitas. Sekelompok orang melakukan demonstrasi, mengambil alih kekuasaan secara tidak sah (kudeta), melakukan tindakan korupsi, memilih langkah perang, atau memilih untuk menjadi teroris dapat dikatakan sebagai pilihan yang rasional. Itu adalah persoalan pilihan yang dianggapnya benar. Tetapi seturut Prof. Tulus Warsito, ini yang dapat dikatakan sebagai anomali rasionalitas. Sebagai misal, tindakan teror itu masuk akal, tetapi ia bertentangan dengan peradaban, bertentangan dengan kemanusiaan. Seorang teroris bisa menjelaskan bahkan meyakinkan orang-orang tertentu bahwa yang dilakukannya itu benar, di jalan Allah. Akan tetapi rasionalitas itu merusak tatanan kehidupan, bahkan sering kali menghilangkan nyawa orang-orang yang tidak berdosa. Di situlah letak anomali rasionalitasnya.

Selain memungkinkan adanya anomali rasionalitas, rasionalitas itu sendiri dapat direkayasa. Yang dimaksud dengan rekayasa rasionalitas dari buku ini adalah upaya menciptakan atau mengonstruksi urutan pilihan tindakan terhadap orang atau pihak lain, agar orang atau pihak lain itu mau memilih tindakan yang disodorkan. Kasus  Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), mantan Gubernur DKI, dapat dilihat dalam kacamata ini, yakni adanya rekayasa rasionalitas, baik yang pro maupun kontra dengan Ahok.

Oleh karena itu, kehadiran buku ini menjadi sangat penting untuk dibaca bagi para mahasiswa yang berlatar belakang ilmu sosial dan politik, para dosen, dan juga para pemerhati politik di Tanah Air. Membaca buku ini dapat membantu kita untuk tidak terperangkap dengan rekayasa rasionalitas yang dimainkan oleh elite-elite. Singkatnya, buku yang ditulis oleh Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional UMY ini penting untuk direkomendasikan menjadi bacaan penting (‘wajib) di kampus-kampus, terutama di fakultas ilmu sosial dan ilmu politik.

Hemat penulis (peresensi), belum ada buku yang secara khusus membahas rasionalitas politik di Tanah Air, padahal hampir setiap saat muncul polemik dan dinamika politik di mana anomali dan rekayasa rasionalitas itu tidak terhindarkan. Membaca buku ini dapat membantu kita untuk lebih arif dalam mengomentari kasus dan dinamika politik yang berkembang. Itulah sumbangsih besar kehadiran buku ini bagi dunia akademik dan juga dalam kehidupan sosial politik di Tanah Air. Selamat membaca!

IDENTITAS BUKU | Judul: Rasionalitas Politik | Penulis: Tulus Warsito | Penerbit: Komojoyo Press | Tahun terbit: 2017 | ISBN: 978-6026-0890-9-0 | Tebal: x + 162 halaman

Dr. Ahmad Sahide. Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!