Ahmad Sahide

Ramadan dan Refleksi Berislam di Medsos

Ahmad Sahide

Oleh : Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID-Indonesia adalah negara yang penduduknya mayoritas Islam, kurang lebih 87,5% dari total populasi Indonesia yang saat ini telah diperkirakan mencapai 270 juta jiwa. Seandainya penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam itu menjalankan nilai-nilai Islam dengan baik dalam kehidupan kita sehari-hari di berbagai aspek kehidupan maka kehidupan kita akan damai, tentram, sejahtera, dan menuju jalan keselamatan. Sesuai dengan arti katanya itu sendiri bahwa kata “Islam” berasal dari kata ’aslama’ yang berarti keselamatan, kedamaian, dan ketentraman. Dan kata “Agama” asal katanya adalah “Gama” yang berarti kacau dan “A” yang berarti tidak. Jadi beragam atau berislam agar tidak terjadi kekacauan.

Jalan keselamatan, kedamaian, dan ketentraman itu dapat kita raih jika perilaku sehari-hari kita mengamalkan nilai-nilai Islam itu sendiri seperti perilaku jujur, adil, amanah, rendah hati, tidak sombong, dan menghargai sesamanya. Sayangnya banyak perilaku-perilaku di ruang publik umat Islam di Indonesia yang tidak mencerminkan nilai-nilai tersebut. Dan salah satu contohnya yang bisa kita lihat di Indonesia pada era digital ini adalah banyaknya berita-berita bohong atau hoaks yang beredar dengan sangat cepat di media sosial (medos) seperti melalui WhatsApp Group (WAG), facebook, dan lain-lain yang seringkali berdampak dengan gaduhnya ruang publik. Bisa dipastikan bahwa banyak pelaku dari beredarnya berita-berita hoaks itu adalah orang Islam itu sendiri.

Baca juga :  Pilkada DKI, Catatan di Balik Tersisihnya Agus

Singkatnya adalah kita masih menemukan banyaknya perilaku-perilaku tidak islami di media sosial seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Demokrasi dengan kebebasan berpendapat kadang dimaknai sebagai kebebasan untuk mencaci, memaki, dan berbohong di media sosial. Bukan dengan kebebasan untuk kehidupan yang lebih bermartabat dan beradab.

Ramadan dan Refleksi Beragama

Kita tentu patut bersyukur bahwa tahun ini kita masih diberi kesempatan untuk bertemu bulan suci Ramadan. Kesempatan untuk meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT dan kelak kita meraih predikat ‘fitroh’, bersih, suci lahir dan bathin. Namun demikian Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan kita bahwa “Banyak di antara orang-orang yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” Ini bisa dimaknai bahwa kita mungkin berpuasa tetapi sebatas ritual keagamaan. Ia tidak berdampak dalam merubah perilaku sosial kita ke arah yang lebih baik. Jika sebelumnya kita sering berkata atau menyebarkan berita bohong (hoaks) atau bebas memfitnah dan mencaci di media sosial, kebiasaan-kebiasaan ini tidak hilang setelah kita merayakan hari kemenangan kita. Maka di sinilah kita akan menjadi orang yang merugi dalam berpuasa. Puasa yang tidak berdampak dalam  menciptakan keselamatan, kedamaian, dan ketentraman dalam kehidupan sosial, termasuk kehidupan di media sosial.

Baca juga :  Rezim dan Reproduksi Bahasa

Oleh karena itu secara sederhana kita bisa mengukurnya bahwa puasa yang berdampak (tidak merugi) adalah ketika kita mampu menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk seperti mencaci, memfitnah, dan berbohong di media sosial setelah kita menunaikan ibadah puasa pada bulan suci ramadan. Berislam tidak hanya ketika kita berada di masjid-masjid, di tempat-tempat ibadah, tetapi pada ranah kehidupan sosial juga bisa kita temukan, termasuk di media sosial.

Semoga apa yang pernah disabdakan oleh nabi ini bisa menjadi bahan refleksi bagi kita umat Islam di Indonesia yang sedang menjalankan ibadah puasa ramadan tahun 1442 H ini agar supaya puasa yang jalankan selama sebulan penuh mampu mengantarkan kita untuk menaikkan level ketakwaan kepada Allah SWT. Mengantarkan kita untuk meraih predikat fitroh; suci lahir dan bathin. Mengantarkan kita untuk menghilangkan benih-benih kebencian  di dalam benak serta tidak meninggikan diri dan merendahkan orang lain. Itulah hakikat fitroh itu sendiri. Semoga cerminan dari hati yang fitroh inilah yang banyak mewarnai ruang-ruang medsos ke depan sehingga kehidupan sosial kita tidak gaduh dan kacau (agama).

Baca juga :  Semiotika Politik-Hukum Oligarki pada Pasal 187 ayat 1 RUU Pemilu

 

Ahmad Sahide, Dosen Hubungan Internasional Program Magister Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

To Top
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com