Ahmad Sahide

Timteng dan Konflik Berkelanjutan

Oleh: Dr. Ahmad Sahide*

SPEKTRUM, EDUNEWS.ID – Timur Tengah adalah kawasan yang kaya dengan sumber daya alam dan itu pula yang menjadi daya tarik atau bargaining position dalam kancah politik internasional. Negara-negara yang kaya akan sumber daya alam itu, minyak terutama, adalah Saudi Arabia, Iran, Irak, dan juga Libya. Namun demikian, membaca dinamika di kawasan kaya minyak tersebut, kita akan melihat wajah yang cukup suram; selalu identik dengan konflik, baik itu konflik antarnegara, konflik antaretnis, perang, dan lain sebagainya.

Konflik tersebut tidak hanya dirasakan dampaknya oleh negara-negara Timur Tengah itu sendiri, tetapi berdampak ke negara-negara di belahan dunia lain. Eropa terkena dampaknya dengan banyaknya pengungsi dari negara-negara konflik di Timur Tengah yang mencari kedamaian dan harapan hidup di Eropa. Negara-negara Uni Eropa sempat bersitegang karena hal ini. Angela Merkel (German), misalnya, sepakat dan bersedia menampung para pengungsi dari Timur Tengah di negaranya, tetapi beberapa negara lain keberatan karena tentu akan menjadi beban negara. Popularitas Angela Merkel sempat menurun karena hal ini.

Indonesia juga terkena dampaknya dengan menguatnya kelompok-kelompok radikal. Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang pada awalnya hanya tumbuh di Irak dan Suriah, kini telah mempunyai ribuan anggota di Indonesia. Beberapa ledakan bom di Tanah Air belakangan ini selalu dikaitkan dengan ISIS. Di Eropa juga sama, beberapa ledakan bom selalu ada kaitannya dengan ISIS.

Itulah dampak dari konflik yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. Kawasan yang menjadi induk sejarah peradaban umat Islam di dunia. Kita tahu bahwa Abbasiyah dan Umayyah memiliki sejarah peradaban dan kebesaran di kawasan Ini, termasuk di Suriah yang masih bergejolak hingga kini. Baghdad (Irak) juga pernah menjadi pusat peradaban umat Islam yang sangat disegani dunia, simbol kejayaan ilmu pengetahuan umat Islam yang dihancurkan oleh bangsa Mongol pada tahun 1258 M.

Kini semua itu tinggal sejarah dalam peradaban Islam, Irak sudah luluhlantak sejak 2003, sejak invasi Amerika Serikat yang berhasil menggulingkan Saddam Husain. Dan hingga kini masih terus diwarnai gejolak antaretnik, konflik sektarian. Suku Kurdi terus berjuang untuk kemerdekaannya dari Irak, dan jika hal itu terjadi, maka Turki, Iran beserta Suriah juga akan terkena dampaknya mengingat populasi kelompok suku Kurdi di ketiga negara itu juga cukup besar. Di samping itu, secara geografis suku Kurdi yang terbagi ke dalam empat negara bisa menjadi negara sendiri. Kelompok etnik ini merupakan kelompok etnis keempat terbesar di Timur Tengah setelah Arab, Persia, dan Turki yang populasinya diperkirakan antara 25-35 juta jiwa (Kompas, 26/09/2017).

Senin, 25 September 2015, rakyat wilayah otonom Kurdistan Irak berbondong-bondong mendatangi bilik suara dalam referendum untuk menentukan masa depannya, sebuah upaya untuk mencapai impiannya memiliki negara sendiri, Negara Kurdistan (Kompas, 26/09/2017). Sebuah upaya yang tidak disambut baik oleh Irak, Iran, dan Turki. Maka ini pun akan menjadi polemik baru dalam kancah politik Timur Tengah. Di samping polemik-polemik atau konflik lainnya yang belum berkesudahan hingga kini.

The Arab Spring, misalnya, yang mulai bergejolak sejak akhir 2010 masih menyisakan pekerjaan besar, Suriah masih terus bergejolak hingga hari ini sebagai dampak dari The Arab Spring tersebut. Mesir juga semakin tidak menentu, perseteruan antara rezim dengan Ikhwanul Muslimin semakin panas. Mesir juga tidak lebih baik dari sebelum peristiwa The Arab Spring. Dan sejak 2014 lalu, Abu Bakar al-Baghdadi mendeklarasikan ISIS yang kini menjadi ‘hantu’ dalam keamanan global. Indonesia termasuk negara yang terkena dampaknya. Sampai hari ini, kita masih menyaksikan perang demi perang di Timur Tengah berlangsung untuk memerangi gerakan radikal ini (ISIS).

Ketika polemik yang terjadi sebagai dampak dari The Arab Spring dan ISIS belum tuntas, muncul polemik yang baru, yaitu ketika Qatar, pada awal Juni 2017 lalu, diisolasi oleh beberapa negara Arab yang diprakarasi oleh Arab Saudi. Negosiasi politik masih terus dilakukan oleh beberapa pihak dalam menyelesaikan kasus ini. Dan ketika semua belum ada titik temu dalam menyelesaikan ketegangan politik yang terjadi, masalah Kurdistan kembali memanas. Rakyat Kurdi semakin kuat menyuarakan kemerdekaannya dan itu berarti akan kembali memunculkan ketegangan politik baru, terutama bagi Irak, Iran, Turki, dan juga Suriah yang persoalan internalnya belum selesai.

Itulah wajah Timur Tengah hari ini, kawasan yang memiliki sejarah kebesaran umat Islam, tetapi dewasa ini menjadi kawasan yang tidak lepas dari konflik yang berkepanjangan. Perang, konflik, dan ketegangan politik lainnya terus bermunculan dari waktu ke waktu. Singkatnya, kita harus mengakui bahwa ada persoalan mendasar dan bersejarah di kawasan kaya minyak ini yang tidak pernah diselesaikan secara tuntas; seperti masalah Kurdistan, konflik Arab-Israel, konflik Syiah-Sunni, Persia-Arab, kehadiran Asing, dan seterusnya. Semua ini adalah bom waktu yang akan selalu menghadirkan ledakan-ledakan. Maka kita pun akan selalu menyaksikan hadirnya polemik-polemik baru.

Sebagai negara yang mayoritas Islam, Indonesia harus aktif mengambil peran-peran strategis di kawasan Timur Tengah. Indonesia harus mulai membangun kepercayaan dirinya untuk mengajari Timur Tengah dalam menyelsaikan konflik. Sepertinya benar apa yang sering dikatakan oleh Ahmad Syafii Maarif (mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah) bahwa telah terjadi missguided Arabism.

Dr. Ahmad Sahide. Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close