Ahmad Sahide

Vladimir Putin

 

 

Oleh : Dr Ahmad Sahide*

OPINI, EDUNEWS.ID – Vladimir Putin, Presiden Rusia, adalah salah satu orang terkuat di dunia saat ini. Kehadirannya memimpin Rusia sejak tahun 1999, baik itu sebagai Presiden maupun sebagai Perdana Menteri (PM), mampu mengganggu supremasi politik global Amerika Serikat.

Putin, bekerja sama dengan pemimpin China, berani berseberangan dengan Amerika Serikat dalam berbagai isu global kontemporer. Terkait dengan kasus Iran, misalnya, Putin kerap kali berseberangan dengan Amerika Serikat dan dua negara anggota tetap Dewan Keamanan Persarikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) lainnya perihal sanksi yang dijatuhkan oleh PBB ke negara Mullah tersebut.

Begitupula dengan konflik yang kini masih berlangsung di Suriah, Rusia kembali berhadap-hadapan dengan Amerika Serikat. Amerika mendukung oposisi untuk berupaya menggulingkan rezim Bashar al-Assad, sementara Rusia mendukung rezim Bashar al-Assad.

Bahkan, perang yang tiada akhir di Suriah hari ini, yang meminta ratusan ribu korban nyawa manusia, karena adanya keterlibatan Amerika dan Rusia. Dapat dikatakan bahwa Suriah adalah medan pertempuran pengaruh dan ideologi politik antara Amerika (mewakili blok negara kapitalis) dengan Rusia (mewakili blok negara sosialis).

Yang menjadi korbannya adalah rakyat Suriah dan juga negara tersebut. Sisa-sisa dari kejayaan masa lalu Islam di negara ini luluhlantak karena perang. Putin, sebagai salah satu orang terkuat di dunia saat ini, tentu saja mempunyai andil.

Kemenangan Putin

Pada hari Senin, 19 Maret 2018, Putin kembali dinyatakan memenangi pemilihan presiden di Rusia dengan kemenangan yang sangat meyakinkan (76,66%). Maka dari itu, Putin akan kembali memimpin Rusia selama enam tahun ke depan dan tentu saja Putin akan dicatat sebagai pemimpin terlama Rusia setelah pemimpin Uni Soviet, Josef Stalin (Kompas, 20/03/2018).

Putin muncul ke puncak kekuasaan Rusia sejak tahun 1999 sebagai PM, kemudian menjadi Presiden Rusia pada tahun 2000 sampai 2008. Karena konstitusi membatasi hanya dua periode masa jabatan seorang presiden, maka Putin bertukar posisi dengan Dmitry Medvedev.

Dari tahun 2008 sampai 2012, Putin menjadi PM dan Medvedef menggantikan posisi Putin sebagai Presiden Rusia. Tetapi the real power sebenarnya tetap di tangan Putin. Pada tahun 2012, Putin kembali mencalonkan diri sebagai Presiden Rusia dan kemudian menang.

Putin lalu mendorong perubahan konstitusi dengan merubah masa jabatan presiden dari empat tahun dalam satu periode menjadi enam tahun. Rasanya tidaklah salah jika kita mengatakan bahwa Putinlah yang menentukan arah dan menjadi aktor kunci dalam perjalanan Rusia sejak tahun 1999.

Putin mampu mengangkat kembali harkat dan martabat Rusia sebagai pemimpin negara sosialis setelah kehancuran Uni Soviet pada awal tahun 1990-an. Putin, menurut Yuddy Chrisnandi, bersama rakyatnya ingin menunjukkan kebangkitan Rusia sebagai polar kekuatan dunia saat ini dan ke depan (Kompas, 24/03/2018).

Spirit nasionalisme yang agresif inilah yang mendapatkan dukungan kuat dari rakyatnya sehingga Putin memenangi secara mutlak pertarungan untuk menjadi orang nomor satu kembali di negara pewaris tahta Uni Soviet tersebut.

Obesesi Rusia di Tangan Putin

Selama enam tahun ke depan, kita masih akan melihat sosok Vladimir Putin sebagai salah satu tokoh kunci dalam konstelasi politik global. Menjadi salah satu orang terkuat di dunia. Tentu saja mimpi dan obsesi politik Putin untuk Rusia ke depan adalah menggeser supremasi politik global Amerika Serikat.

Hal itu telah dilakukan Putin dengan berani mengambil sikap berseberangan dengan Amerika Serikat di DK PBB dalam beberapa kasus dan isu-isu global. Yang paling kelihatan adalah ketika Putin berani ikut campur dalam proses pemilihan Presiden Amerika tahun 2016 lalu yang memenangkan Donald Trump.

Bagi Amerika sebagai negara adi daya, apa yang dilakukan oleh Putin adalah aib besar dengan adanya suatu negara atau figur tertentu yang berani ikut campur dalam dinamika politik domestik AS. Oleh karena itu, Obama sebelum mengakhiri masa jabatannya langsung mengusir diplomat Rusia dari Amerika karena tidak menerima Rusia, terutama Putin, ikut campur dalam pesta demokrasi yang berlangsung pada tahun itu.

Ini sebenarnya dapat dibaca sebagai indikasi dimana Putin sudah memandang Rusia dan Amerika berada dalam posisi yang sejajar. Dan selama enam tahun ke depan, Putin akan berupaya menggeser supremasi politik AS di kancah politik global.

Jika di akhir masa jabatannya nanti, posisi Rusia sudah menggantikan AS dalam hal kendali supremasi politik global, maka Putin akan dikenang oleh sejarah sebagai pemimpin yang berhasil membalikkan alur sejarah politik global.

Sepertinya Putin dibayang-bayangi oleh tesis Francis Fukuyama bahwa setelah keruntuhan Uni Soviet pada awal tahun 1990-an, tidak ada lagi ideologi global yang mampu menandingi ideologi kapitalisme global yang dipimpin AS.

Putin sepertinya memiliki ambisi politik untuk mematahkan kebenaran tesis Fukuyama tersebut tetapi hal itu butuh waktu dan rakyat Rusia memberinya kesempatan. Maka dari itu, mari kita menyaksikan pertarungan perebutan supremasi politik global antara Amerika dan Rusia di bawah Vladimir Putin.

Yuddy Crisnandi, Duta Besar LBBP RI untuk Ukraina, memprediksi bahwa Putin akan membawa Rusia naik tingkat selama enam tahun ke depan. Apakah itu berarti Rusia akan menggantikan posisi Amerika? Wait and see!

Dr Ahmad Sahide, Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!