DAERAH

Di Yahukimo Papua, Uang Pecahan Rp1.000 dan 2.000 tak Laku

 

 

JAYAPURA, EDUNEWS.ID – Pecahan uang dengan nominal Rp500, 1.000 hingga 2.000 ternyata tak laku di Kabupaten Yahukimo, Papua. Di wilayah ini, dari Kota Dekai hingga pelosoknya warga hanya mengenal uang pecahan Rp5000 rupiah dan kelipatannya untuk bertransaksi berbagai bahan pokok maupun kebutuhan lain termasuk sektor jasa.

Pembatasan penggunaan pecahan mata uang itu masih berlaku dan sudah jadi kesepakatan tak tertulis warga setempat. Sejak awal Kabupaten Yahukimo terbentuk, masyarakat di sana menolak pecahan dengan nominal di bawah Rp5.000.

Wilayah Sulit Terjangkau Transportasi Darat, Pemerintah Puncak Beli Dua Pesawat
Sumarni, seorang pedagang di Dermaga Logpon Dekai mengatakan, warga di Yahukimo bahkan tidak mau menerima recehan atau uang di bawah nominal Rp5.000 saat ada kembalian dari sisa belanjaannya.

Baca juga :  Jokowi Dianggap Presiden Pertama yang Perhatikan Papua

Karena itu pula maka harga barang di Yahukimo paling rendah dihargai Rp5.000. “Kalau saya sejak tahun 2007 saya di sini, masyarakat di sini tidak mau menerima kembalian recehan. Mereka hanya mau menerima kembalian minimal Rp5.000, sehingga harga barang di sini akhirnya sama minimal Rp5.000,” katanya, Jumat (2/3/2018).

Udin, penjual bensin eceran di Kota Dekai juga menyampaikan bahwa di Yahukimo “(Uang pecahan) Rp1.000, Rp2.000 atau Rp500 tidak berlaku.” Irianto, pedagang lainnya di Yahukimo mengatakan, atas kondisi tersebut maka seluruh barang di sana dihargai minimal Rp5.000, meski hanya permen sekalipun.

“Semua minimal Rp5.000, seperti permen. Harga minimal pembelanjaan Rp5.000 dan lainnya termasuk bumbu dapur lainnya,” ucapnya. Tak berlakunya uang dengan nominal di bawah Rp5.000 membuat warga yang berkunjung ke Yahukimo sempat kelabakan.

Baca juga :  Satgas Covid-19 Unhas Bagikan Ribuan Masker Kain untuk Warga Makassar
Advertisement

Faisal misalnya. Warga Jayapura yang kebetulan berkunjung ke Yahukimo karena ada kegiatan di Dekai mengaku, sempat bingung dengan tidak berlakunya pecahan Rp1.000 hingga 2.000 di wilayah itu. “Saya mau belanja di salah satu kios, kebetulan uang saya Rp5.000, tapi semua pecahan Rp1.000. Jadi mereka tidak mau uang itu,” tuturnya.

Manager Tim Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Kantor Perwakilan Papua, Yon Widiyino mengatakan, seharusnya semua pecahan uang rupiah berlaku di semua wilayah di Indonesia, termasuk pedalaman Papua.

“Harusnya semua berlaku. Karena rupiah berapapun itu nominalnya adalah alat pembayaran yang sah yang telah ditentukan oleh negara,” terangnya.

BI akan mengecek kembali ke pihak perbankan yang ada di Yahukimo terkait dengan tidak berlakunya pecahan dengan nominal di bawah Rp5.000. “Nanti kami akan cek lagi dan nantinya juga kita akan sosialisasi jika benar kondisi itu terjadi di sana,” kata Yon.

Menurutnya, BI pada akhir 2016 lalu sudah menyosialisasikan semua nominal uang rupiah ke Yahukimo. “Saat itu pecahan diterima, bahkan untuk PNS yang bagian penggajian minta disediakan uang pecahan kecil agar mudah kasih masuk uang gaji sesuai pecahannya ke amplop,” ujar Yon.

Meski uang pecahan di bawah nominal Rp5.000 tidak berlaku di Yahukimo, namun harga bahan pokok dan sektor jasa cenderung masih stabil di wilayah pegunungan Papua, karena arus distribusi logistik sekarang lancar dengan adanya dermaga dan bandara udara setempat.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com