DAERAH

Kapolda Papua Ungkap Penyebab Sulitnya Tangkap KKB

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)

JAKARTA, EDUNEWS.IDKepala Kepolisian Daerah (Polda) Papua Irjen Paulus Waterpauw menungkapkan penyebab sulitnya penangkapan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Sejauh ini aparat keamanan kesulitan menangkapnya juga karena mereka hidup membaur dengan warga lokal. Di pihak lain, warga umumnya dalam perasaan terintimidasi sehingga tak berani melapor. Aparat juga kerap kesulitan mendeteksi karena tak semua paham bahasa yang digunakan.

“Harus dipahami ya, di Papua itu ada hamper 250 bahasa. Mereka tak perlu sandi khusus, masing-masing bicara saja menggunakan bahasa ibu kita pasti tidak paham,” terang Paulus Waterpauw.

Di Papua terus bermunculan dan beraksi secara sporadis, khususnya di Kabupaten Intan Jaya. Mereka bahkan berani menantang TNI/Polri untuk perang terbuka di wilayah tersebut.

Baca juga :  Dandhy Tersangka UU ITE, Kuasa Hukum: Dia Nggak akan Bungkam

Hal itu, menurut dikarenakan secara geografis berada di dataran tinggi. Bentuknya memipih dan banyak jurang terjal sehingga sangat sulit bagi TNI dan Polri melakukan operasi.

“Bagi mereka (KKB) di sana sangat menguntungkan, kondisi tersebut,” kata Paulus kepada detikcom, Jumat (12/2/2021).

Jenderal Bintang Dua kelahiran Fak-fak, 25 Oktober 1963 itu mensinyalir eksistensi KKB ada yang pernah memanfaatkan untuk kepentingan politik. Mereka diminta menyerang salah satu peserta pemilihan kepala daerah, misalnya. Juga untuk melampiaskan kekecewaan bila ada pihak yang tak mendapatkan proyek.

“Indikasi-indikasi semacam itu terasa tapi butuh pembuktian di lapangan yang tidak mudah,” tutur Paulus Waterpauw.

Di Intang Jaya ada banyak KKB di bawah pimpinan orang-orang tertentu yang umumnya pengangguran. Paulus antara lain menyebut Undius Kogoya, Anton Tabuni, Rufinus Tigau, dan Sabinus Waker.

Baca juga :  Mengenal Samsudiarti Sudirman, Calon Ketua Kohati PB HMI dari Cabang Gowa Raya

“Mereka adalah free man, tak punya pekerjaan. Lalu merekrut sesama anak muda pengangguran, bila tak mau ikut orang tua mereka diancam dibunuh,” ujar Paulus.

Khusus Undius Kogoya, saat ini menjadi Kepala operasi KKB di Intan Jaya. Dia merupakan kakak dari Tandi Kogoya, pelaku penyerangan di area Kantor Freeport di Kota Kuala Kencana, dekat Kota Timika pada 20 Maret 2020. Tandi tewas bersama Manu Kogoya pada 9 April lalu dalam kontak senjata dengan Satgas TNI-Polri di Jalan Trans Nabire. Kematian Tandi, menurut Paulus, membuat Undius menaruh dendam sehingga membuat berbagai aksi kekerasan di Intan Jaya.

Selain bicara soal aksi-aksi kekerasan oleh KKB dan peta kekuatan mereka, Paulus Waterpauw juga sempat menyinggung pentingnya penyelesaian berbagai kasus pelanggaran HAM di masa lalu.

Baca juga :  22 Anggota KKB Ditangkap, TNI-Polri Terus Kejar Penyerang Pekerja Jembatan

dtk

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com