DAERAH

PAN Sulsel harap Penangkapan NA Dijadikan Pembelajaran

Wakil Ketua DPW PAN Sulawesi Selatan (Sulsel) Irfan AB

MAKASSAR, EDUNEWS.ID – Wakil Ketua DPW PAN Sulawesi Selatan (Sulsel) Irfan AB turut menanggapi ditetapkannya Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah sebagai tersangka kasus dugaan suap sejumlah proyek.

Ia berharap kasus OTT KPK terhadap Nurdin Abdullah, yang juga disebut sebagai kasus OTT pertama di Sulsel, bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi para penyelenggara negara lainnya.

“Saya kira, dengan kejadian ini kita ambil hikmah dan pelajaran bagi seluruh penyelenggara yang ada di Sulawesi Selatan. Mudah-mudahan kasus ini menjadi pembelajaran bagi kita semua,” harap

Irfan AB kepada detikcom, Minggu (28/2/2021).

Irfan pun bicara alasan partainya mengusung Nurdin pada Pilgub 2018.

“Tentu PAN mengusung dulu Pak Nurdin Abdullah karena integritas beliau. Kemudian, kedua, prestasi beliau dalam membangun Kabupaten Bantaeng. Saya kira itu modal-modal sosial yang telah ditunjukkan beberapa waktu lalu,” katanya.

Baca juga :  Dinas Kesehatan Bantaeng Kaji Banding BLUD Puskesmas di Sleman

Irfan juga mengaku sepakat dengan PDIP Sulsel yang menyebut Nurdin Abdullah sebenarnya memiliki protokol ketat agar terhindar dari upaya suap atau gratifikasi. Akan tetapi, Irfan tidak menampik bahwa terkadang dalam perjalanannya, protokol itu memang bisa saja tidak diindahkan.

“Ya saya sepakat dengan teman-teman PDIP bahwa ada SOP menghindari suap yang sudah harusnya menjadi pedoman bagi penyelenggara negara, ya tetapi kan mungkin boleh saja, namanya manusia biasa, khilaf, akhirnya SOP-SOP yang ada tidak diindahkan lagi,” katanya.

Lebih lanjut, Irfan meminta masyarakat Sulsel tetap mendoakan Nurdin bersama keluarga kuat dalam menjalani persoalan ini. Selebihnya, dia dan masyarakat Sulsel mempercayakan proses hukum kepada KPK.

Baca juga :  KPK Panggil Mantan Pj Wali Kota Makassar Rudy Djamaluddin terkait Kasus NA

“Menurut saya fakta-fakta hukumnya kita serahkan saja ke penegak hukum. Saya kira proses hukum punya caranya tersendiri untuk menangani persoalan ini. Saya kira kita tidak boleh mengintervensi persoalan hukum,” ujar Irfan.

Sebelumnya, Nurdin Abdullah tertangkap tangan KPK pada Jumat (26/2/2021) malam. Nurdin ditangkap bersama Edy Rahmat selaku Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Sulsel dan AS adalah Agung Sucipto selaku kontraktor proyek.

Ketiganya diketahui terjerat kasus suap proyek pedestrian wisata di Bira, Bulukumba. Nurdin diketahui menerima suap melalui Edy Rahmat sebagai perantaranya dari Agus Sucipto sebagai pemberi suap senilai Rp 2 miliar. Nurdin diketahui juga menerima suap dari kontraktor lain, sehingga total uang yang diterima mencapai 5,4 miliar.

Baca juga :  Dalami Kasus NA, Kini Giliran KPK Periksa Anak Nurdin Abdullah

Ketiganya Nurdin Abdullah ditahan di rutan KPK cabang Pomdam Jaya Guntur. Sedangkan Edy Rahmat ditahan di Rutan KPK Kavling C1 dan Agung Sucipto di Rutan Gedung Merah Putih.

dtk

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com